Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kemakmuran perspektif Sarasamuscaya: Kekayaan tak hanya Berupa Harta, Keseimbangan Menjadi Tujuan

I Putu Mardika • Jumat, 10 Juli 2026 | 16:40 WIB
Dana punia adalah simbol pengelolaan kemakmuran (ist)
Dana punia adalah simbol pengelolaan kemakmuran (ist)

BALIEXPRESS.ID-Umat Hindu memandang jika kemakmuran bukan hanya sebatas tabungan, luasnya aset, atau tingginya jabatan. Fenomena tersebut melahirkan paradoks. Banyak orang tampak berhasil secara finansial, tetapi justru dihantui kecemasan, kehilangan ketenangan batin, bahkan mengalami krisis makna hidup.

Dalam perspektif Hindu, kondisi demikian menunjukkan bahwa manusia sedang memandang kemakmuran secara parsial. Kitab Sarasamuscaya justru menawarkan cara pandang berbeda. Kemakmuran bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan spiritual manusia menuju kehidupan yang utuh.

Kitab Sarasamuscaya, yang disusun Bhagawan Wararuci sebagai intisari ajaran Mahabharata, memuat 517 sloka yang membahas etika, moralitas, hingga filsafat kehidupan. Salah satu pesan pentingnya adalah bagaimana manusia membangun kesejahteraan lahir dan batin secara bersamaan.

Dosen Agama Hindu IAHN Mpu Kuturan, Nyoman Ariyoga, M.Pd memaparkan bahwa konsep kemakmuran dalam Hindu tidak identik dengan penumpukan harta, melainkan keseimbangan antara dharma, artha, kama, dan moksa. Keempatnya membentuk tujuan hidup manusia yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Baca Juga: Bhakti Penganyaran Pemkab Badung di Pura Mandara Giri Semeru Agung Lumajang, Bupati Adi Arnawa Ajak Jaga Nilai Sradha dan Gotong Royong

Sejak sloka pertama, Sarasamuscaya telah menegaskan bahwa seluruh hakikat kehidupan manusia terangkum dalam ajaran Catur Purusa Artha. Sloka pertama berbunyi:

"Dharme carte ca kame ca moksa ca bharatasabha, yadihasti tadanyatra yannehasti an tat kwacit."

Sloka tersebut diterjemahkan sebagai:

"Anakku Janamejaya, segala ajaran kerohanian, termasuk ajaran Catur Warga yaitu dharma, artha, kama, dan moksa, seluruhnya terdapat di sini. Apa yang ada di sini akan ditemukan pula di tempat lain, dan apa yang tidak ada di sini tidak akan ditemukan di tempat lain."

“Sloka tersebut menunjukkan bahwa pencarian kekayaan bukanlah sesuatu yang dilarang. Justru artha diakui sebagai salah satu tujuan hidup manusia. Namun artha tidak pernah berdiri sendiri. Ia harus berjalan beriringan dengan dharma sebagai fondasi moral, kama sebagai kebutuhan manusiawi, dan moksa sebagai tujuan spiritual tertinggi,” ungkapnya.

Pandangan ini terasa semakin relevan ketika masyarakat hidup dalam arus globalisasi yang menjadikan kesuksesan ekonomi sebagai ukuran utama keberhasilan seseorang. Budaya media sosial, misalnya, mendorong lahirnya standar kehidupan yang serba mewah.

Kesuksesan dipamerkan melalui kendaraan, rumah, pakaian bermerek, hingga gaya hidup eksklusif. Akibatnya, tidak sedikit orang rela mengabaikan etika demi memperoleh keuntungan ekonomi.

Dalam kondisi seperti itulah Sarasamuscaya menghadirkan kritik yang sangat halus namun mendalam. Kitab ini mengingatkan bahwa kekayaan yang diperoleh tanpa dharma justru akan kehilangan makna.

Pesan tersebut tertuang secara tegas dalam Sarasamuscaya Sloka 12:

"Kamarthau ipsamanastu dharmmamewaditascaret, Na hi dharmmadapetyarthah wapi kadacana."

Terjemahannya menyatakan:

"Untuk memperoleh harta (artha) dan kepuasan hidup (kama), hendaknya terlebih dahulu melaksanakan dharma. Bila demikian dilakukan, harta dan kepuasan pasti akan diperoleh. Sebaliknya, tidak ada arti memperoleh harta dan kesenangan apabila menyimpang dari dharma."

Makna sloka tersebut sangat jelas. Harta bukanlah sesuatu yang buruk. Yang keliru adalah ketika manusia menjadikan kekayaan sebagai tujuan mutlak tanpa mempertimbangkan benar atau salah cara memperolehnya. Dalam konteks kekinian, sloka ini menjadi kritik terhadap praktik korupsi, manipulasi bisnis, eksploitasi alam, hingga persaingan tidak sehat yang sering dibenarkan atas nama mencari keuntungan.

Baca Juga: Kasi Pendah Kemenag Gianyar, I Nyoman Mudana, dari Pematung Kini Kepala Kantor Kemenag Bangli

Dharma dalam ajaran Hindu bukan sekadar ritual keagamaan. Dharma merupakan hukum kebenaran yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Oleh sebab itu, kemakmuran yang dibangun di atas pelanggaran terhadap dharma sesungguhnya hanyalah kemakmuran semu.

Tidak berhenti pada hubungan antara dharma dan artha, Sarasamuscaya juga mengajarkan bahwa seluruh usaha manusia pada akhirnya harus bermuara menuju moksa. Dalam Sloka 15 disebutkan:

"Yatah kamarthamoksanam krtopi hi wipadyate, Dharmmaya punararambah sankalpopi na nisphalah."

Terjemahannya berbunyi:

"Betapa pun tekunnya seseorang mengejar harta, kesenangan maupun moksa, semua itu dapat gagal. Namun apabila dharma dijadikan dasar, maka usaha tersebut pasti membuahkan hasil, bahkan ketika baru menjadi niat dalam pikiran."

"Pesan ini mengandung dimensi spiritual yang sangat dalam. Dharma bukan hanya menentukan hasil akhir, tetapi juga memberi makna terhadap setiap proses kehidupan," sebutnya.

Seseorang mungkin belum menjadi kaya, belum mencapai jabatan tinggi, bahkan belum memperoleh seluruh cita-citanya. Namun apabila hidupnya dilandasi dharma, ia telah berada di jalan yang benar.

Dalam perspektif Hindu, keberhasilan hidup tidak diukur semata-mata dari apa yang dimiliki, melainkan dari bagaimana cara memperolehnya. Dengan demikian, ukuran kemakmuran tidak lagi bersifat material, melainkan juga moral dan spiritual.

Menariknya, Sarasamuscaya tidak memisahkan aktivitas ekonomi dari aktivitas keagamaan. Justru keduanya dipandang sebagai satu kesatuan. Hal ini tergambar melalui Sloka 275 yang menjelaskan bahwa orang yang memperoleh harta berdasarkan dharma, menggunakan kekayaannya untuk memenuhi kewajiban keluarga, serta melaksanakan yadnya akan memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di alam baka.

Konsep tersebut memperlihatkan bahwa kekayaan memiliki fungsi sosial dan religius. Harta bukan hanya untuk dinikmati sendiri, melainkan menjadi sarana menjalankan kewajiban kepada keluarga, masyarakat, leluhur, para dewa, serta lingkungan sekitar. Dengan kata lain, kemakmuran selalu memiliki dimensi pengabdian.

Filosofi tersebut semakin dipertegas melalui analogi yang sangat sederhana dalam Sarasamuscaya Sloka 53. Manusia diibaratkan seperti seekor sapi yang sedang membajak sawah.

Baca Juga: Jumbara XI PMR Gianyar, Menempa Relawan Muda yang Tangguh dan Berjiwa Kemanusiaan

Ketika menjalankan tugas utamanya membajak, sapi tetap memakan rumput di sepanjang jalan. Artinya, pencarian harta dapat dilakukan sambil menjalankan kewajiban dharma, bukan menggantikan dharma itu sendiri.

Analogi ini sangat menarik apabila diterapkan dalam kehidupan masyarakat Bali. Seorang petani bekerja mengolah sawah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun hasil panennya juga dipakai membiayai upacara yadnya, membantu tetangga, serta mendukung kehidupan sosial desa adat. Dalam konteks inilah artha menjadi penunjang dharma, bukan sebaliknya.

Ajaran yang tidak kalah menarik terdapat dalam Sloka 262 mengenai cara mengelola kekayaan. Sarasamuscaya mengajarkan bahwa harta sebaiknya dibagi menjadi tiga bagian.

"Ekenamsena dharmathah kartawyo bhutimicchata, Ekenamsena kamartha ekamamsam wiwirddhayet."

Terjemahannya menyebutkan bahwa satu bagian dipergunakan untuk dharma, satu bagian untuk memenuhi kebutuhan hidup (kama), dan satu bagian lagi untuk mengembangkan harta agar tetap bertambah.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa kitab kuno ini telah mengajarkan prinsip manajemen keuangan jauh sebelum lahirnya teori ekonomi modern. Harta tidak boleh dihabiskan seluruhnya untuk konsumsi. 

"Sebagian harus dipergunakan bagi kepentingan spiritual, sebagian untuk kebutuhan hidup yang wajar, dan sebagian lagi menjadi investasi demi keberlanjutan ekonomi keluarga," ungkapnya. 

Dana Punia sebagai Pengelolaan Kemakmuran

Prinsip keseimbangan inilah yang menjadi ciri khas ajaran Hindu. Tidak ada larangan menjadi kaya. Yang ditekankan adalah bagaimana kekayaan itu diperoleh, dikelola, dan dimanfaatkan.

Lebih jauh lagi, Sarasamuscaya menempatkan sedekah atau dana punia sebagai bagian penting dari pengelolaan kemakmuran. Sloka 271 mengingatkan agar manusia tidak ragu memberikan hartanya kepada orang yang patut menerima bantuan (patra).

"Arthamstyajata patresubhajadhwam kamajan gunam."

Terjemahannya menjelaskan bahwa kelebihan harta hendaknya diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, sementara manusia sendiri hidup secukupnya. Sloka tersebut juga mengingatkan bahwa kematian dapat datang kapan saja sehingga kesempatan berbuat kebajikan tidak boleh ditunda.

Dikatakan Ariyoga, pesan tersebut terasa sangat relevan dalam kehidupan masyarakat modern yang sering kali menjadikan kekayaan sebagai simbol prestise. 

Tidak sedikit orang berlomba mengumpulkan aset tanpa pernah merasa cukup. Padahal Sarasamuscaya justru mengingatkan bahwa nilai sejati kekayaan terletak pada manfaatnya bagi sesama.

Semangat berbagi kembali dipertegas melalui Sloka 182 yang menyatakan bahwa orang yang memberi makan kepada mereka yang kelaparan memiliki pahala yang sama dengan orang yang menyumbangkan emas pada masa kemakmuran. Nilai utama bukan terletak pada besarnya pemberian, melainkan ketepatan sasaran serta ketulusan hati.

Ajaran tersebut memperlihatkan bahwa konsep kemakmuran dalam Hindu sangat erat kaitannya dengan solidaritas sosial. Kekayaan tidak pernah dipandang sebagai milik pribadi semata, melainkan sebagai amanah yang harus membawa manfaat bagi kehidupan bersama.

Dalam konteks Bali, filosofi tersebut sesungguhnya telah lama hidup melalui budaya ngayah, dana punia, gotong royong, serta berbagai tradisi saling membantu di tingkat banjar dan desa adat. Tradisi itu menunjukkan bahwa kesejahteraan individu tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan komunitas.

Di tengah meningkatnya kesenjangan sosial dan budaya materialisme, Sarasamuscaya menawarkan paradigma yang tetap relevan hingga hari ini. Kitab ini mengajarkan bahwa manusia boleh bekerja keras, boleh menjadi kaya, bahkan dianjurkan mengembangkan hartanya. 

Baca Juga: Tak Sekadar Menjaga Kamtibmas, "Dastro Bergolo" Turun ke Sawah Ingatkan Petani Waspada Cuaca Ekstrem

Namun semua itu harus dibangun di atas dharma, dikelola secara bijaksana, digunakan secukupnya, serta dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.

Dengan demikian, kemakmuran menurut Sarasamuscaya bukanlah sekadar bertambahnya angka dalam rekening atau luasnya kepemilikan aset. 

"Kemakmuran adalah ketika kekayaan mampu menghadirkan ketenangan batin, memperkuat hubungan sosial, mendukung pelaksanaan yadnya, serta menjadi jalan menuju kebahagiaan lahir dan batin," sebutnya.

Pada akhirnya, pesan Sarasamuscaya terasa semakin penting di era modern. Ketika dunia berlomba mengejar kekayaan tanpa batas, kitab kuno ini justru mengingatkan bahwa manusia tidak diukur dari seberapa banyak ia memiliki, melainkan dari seberapa benar ia memperoleh, mengelola, dan membagikan apa yang dimilikinya.

"Itulah hakikat teologi kemakmuran dalam Hindu, kekayaan yang berakar pada dharma akan melahirkan kesejahteraan, sedangkan kesejahteraan yang dijalani dengan kebijaksanaan akan mengantarkan manusia menuju tujuan tertinggi kehidupan, yaitu moksartham jagadhita ya ca iti dharma, kebahagiaan dunia sekaligus kebebasan spiritual," pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#uang #Sarasamuscaya #Kemakmuran #hindu #harta