BALIEXPRESS.ID-Panca Suara merupakan salah satu unsur yang tidak pernah terpisahkan dari pelaksanaan berbagai upacara yadnya umat Hindu. Kehadiran lima unsur suara ini bukan sekadar pelengkap suasana, melainkan menjadi bagian penting dalam prosesi keagamaan umat Hindu.
Tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan memiliki landasan yang kuat dalam naskah-naskah suci, salah satunya Lontar Aji Gurnita. Melalui lontar tersebut dijelaskan bahwa setiap suara yang hadir dalam upacara memiliki fungsi religius sekaligus makna filosofis yang mendalam.
Akademisi Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan, sekaligus seniman Bali, Kadek Abdiyasa, M.Pd., menjelaskan bahwa Panca Suara terdiri atas lima unsur utama, yaitu suara genta yang dibunyikan oleh sulinggih atau pemimpin upacara, suara mantra yang diucapkan saat ritual berlangsung, suara kidung atau kekawin sebagai pujian suci, suara tetangguran atau gamelan, serta suara kulkul maupun sunari sebagai penanda dimulainya suatu kegiatan keagamaan.
Menurut Abdiyasa, kelima unsur suara tersebut tidak dapat dipisahkan dari konsep estetika Hindu yang dikenal dengan Satyam, Siwam, dan Sundaram, yakni kebenaran, kesucian, dan keindahan.
Ketika seluruh suara tersebut berpadu dalam sebuah upacara, maka tercipta keharmonisan yang tidak hanya indah didengar, tetapi juga memiliki kekuatan spiritual yang diyakini mampu menyempurnakan jalannya yadnya.
"Setiap suara memiliki makna sebagai media pemujaan kepada manifestasi Tuhan. Di dalamnya terkandung kekuatan spiritual yang berkaitan dengan Sang Hyang Smara Ratih, Dewata Nawa Sanga, Panca Brahma, Panca Bhuta, Panca Dewata, hingga Catur Loka Phala," jelas Abdiyasa.
Ia menambahkan, penggunaan Panca Suara bukan sekadar kebiasaan masyarakat Bali, melainkan memiliki dasar yang jelas dalam berbagai naskah kuno. Selain disebutkan dalam Kidung Wargasari, penjelasan yang cukup rinci juga ditemukan dalam Lontar Aji Gurnita. Dalam lontar tersebut dijelaskan bahwa setiap upacara besar hendaknya diiringi bunyi gamelan ketika Catur Weda dilantunkan oleh seorang wiku atau sulinggih yang memimpin upacara.
Tidak hanya itu, lontar tersebut juga menjelaskan bahwa gamelan menjadi perangkat utama dalam pelaksanaan upacara di sanggar, pura keluarga, maupun pura besar dan kecil. Kehadiran gamelan dipadukan dengan persembahan upakara, papendetan, serta berbagai rangkaian ritual lainnya sebagai bentuk penghormatan kepada para dewa yang dipuja.
Menurut Abdiyasa, penjelasan tersebut menunjukkan bahwa bunyi gamelan memiliki kedudukan yang sangat penting dalam setiap upacara. Gamelan harus dibunyikan bersamaan dengan pembacaan mantra dan suara genta yang dibunyikan oleh pandita. Ketiga unsur tersebut saling melengkapi sehingga menciptakan kesatuan spiritual yang utuh.
"Suara gamelan, mantra, dan genta bukan hanya merupakan aktivitas seni ataupun tradisi budaya. Ketiganya menghasilkan getaran-getaran spiritual yang dipercaya mampu meningkatkan kesakralan upacara sekaligus menghantarkan persembahan kepada manifestasi Tuhan yang dipuja di pura," ujarnya.
Selain digunakan dalam upacara Dewa Yadnya, gamelan juga memiliki peran penting dalam berbagai upacara Pitra Yadnya. Lontar Aji Gurnita menjelaskan bahwa gamelan boleh dimainkan dalam upacara suka maupun duka, termasuk pujawali, pitra tarpana, pitra pindhaka, serta berbagai jenis yadnya lainnya. Jenis gamelan yang digunakan dapat berupa Babonangan maupun Gong karena keduanya memiliki kedudukan yang sama penting dalam mendukung jalannya upacara.
Abdiyasa menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan Pitra Yadnya, pemilihan jenis gamelan maupun tabuh yang dimainkan tidak dilakukan secara sembarangan. Setiap tabuh dipilih sesuai dengan suasana yang ingin dibangun selama prosesi berlangsung.
"Dalam upacara Pitra Yadnya, gamelan memiliki fungsi menciptakan suasana yang selaras dengan tujuan upacara. Tabuh yang dimainkan biasanya memiliki karakter yang lembut, tenang, dan penuh nuansa haru sehingga mampu membawa perasaan masyarakat larut dalam penghormatan kepada leluhur," katanya.
Selain membahas fungsi gamelan dalam upacara, Lontar Aji Gurnita juga menguraikan hubungan antara setiap nada gamelan dengan konsep Dewata Nawa Sanga. Menurut Abdiyasa, setiap bilah instrumen gamelan maupun setiap suara yang dihasilkan sesungguhnya berada di bawah penguasaan dewa atau dewi tertentu sesuai arah mata angin dan aksara suci yang menyertainya.
Baca Juga: Kecelakaan Maut di Buleleng: Mobil Keluar Parkir Tabrak Motor, Wanita Karangasem Tewas
Dalam laras pelog Panca Suara, nada dang atau aksara A berada di arah timur dan dikuasai Dewa Iswara. Nada deng atau aksara E berada di selatan dengan Dewa Brahma sebagai penguasanya. Nada dong atau aksara O berada di barat dan berhubungan dengan Dewa Mahadewa. Nada dung atau aksara U berada di utara di bawah kekuasaan Dewa Wisnu, sedangkan nada ding atau aksara I berada di pusat yang dilambangkan sebagai tempat berstana Dewa Siwa.
Sementara itu, pada laras selendro Panca Suara, susunannya memiliki konsep yang sama, tetapi dikaitkan dengan para dewi. Nada ndang di timur berada dalam perlindungan Dewi Mahadewi. Nada ndeng di selatan berkaitan dengan Dewi Saraswati. Nada ndong di barat dihubungkan dengan Dewi Gayatri. Nada ndung di utara melambangkan Dewi Sri, sedangkan nada nding di tengah merupakan simbol Dewi Uma.
"Konsep ini menunjukkan bahwa setiap suara gamelan bukan hanya menghasilkan bunyi yang indah, tetapi juga mengandung simbol-simbol ketuhanan. Oleh karena itu, setiap nada memiliki makna sakral yang harus dipahami oleh para penabuh maupun masyarakat yang menggunakannya dalam upacara," terang Abdiyasa.
Kesakralan Panca Suara juga tercermin dari adanya berbagai ritual penyucian sebelum instrumen gamelan digunakan dalam kegiatan keagamaan. Sebelum dimainkan untuk mengiringi yadnya, gamelan terlebih dahulu disucikan melalui upacara tertentu sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.
Selain penyucian sebelum digunakan, masyarakat Bali juga mengenal upacara khusus untuk memuliakan gamelan yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Krulut atau yang lebih dikenal dengan Tumpek Krulut.
Pada hari suci tersebut, gamelan dipersembahkan sesajen sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus penghormatan kepada kekuatan suci yang diyakini bersemayam dalam setiap sumber suara.
Melalui ajaran yang tertuang dalam Lontar Aji Gurnita, Panca Suara menunjukkan bahwa suara bukan hanya menjadi unsur estetika dalam kebudayaan Bali, tetapi juga menjadi media spiritual yang menghubungkan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
“Harmoni antara mantra, genta, kidung, gamelan, dan kulkul mencerminkan perpaduan nilai agama, seni, dan budaya yang telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Hindu Bali hingga saat ini,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika