Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Nguliang Tegak di Bebetin Simbol Penghormatan jasa Pemimpin Adat, Dilakukan setelah Pitra Yadnya  

I Putu Mardika • Senin, 13 Juli 2026 | 20:13 WIB
Tradisi Nguliang tegak di Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Buleleng
Tradisi Nguliang tegak di Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Buleleng

BALIEXPRESS.ID-Tradisi Nguliang Tegak hingga kini masih dilestarikan krama Desa Adat Bebetin, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Tradisi sakral yang tidak hanya menjadi bagian dari pelaksanaan yadnya, tetapi juga menjadi simbol penghormatan kepada para leluhur yang semasa hidupnya mengemban amanah sebagai pemimpin adat.

Tokoh adat Desa Bebetin, Jro Pasek Nyoman Sulatra, menjelaskan bahwa tradisi ini lahir dari kesadaran masyarakat untuk menghormati jasa para pemimpin adat yang telah mengabdikan hidupnya bagi desa. Menurutnya, jabatan sebagai prajuru adat bukan sekadar posisi administratif, melainkan pengabdian spiritual yang memiliki konsekuensi hingga setelah seseorang meninggal dunia.

"Nguliang Tegak bukan sekadar upacara adat. Ini adalah bentuk penghormatan kepada para leluhur yang semasa hidup mengemban tugas sebagai Ulun Desa. Melalui upacara ini, kedudukan yang pernah dipangku dikembalikan secara niskala sehingga beliau tidak lagi memiliki kewajiban kepada para dewa maupun kepada desa adat," ujar Jro Pasek Nyoman Sulatra.

Tradisi tersebut hanya diperuntukkan bagi keluarga yang leluhurnya pernah menduduki jabatan tertentu dalam struktur pemerintahan adat Desa Bebetin, seperti Penyarikan, Jero Pasek, Jero Mangku Kahyangan Tiga, maupun Kubayan. Pelaksanaannya baru dapat dilakukan setelah seluruh rangkaian upacara pitra yadnya, termasuk ngaben, telah selesai dilaksanakan.

Menurut Jro Pasek Nyoman Sulatra, masyarakat Bebetin meyakini bahwa manusia tidak hanya memiliki hubungan dengan sesama manusia, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral kepada leluhur dan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Karena itu, Nguliang Tegak menjadi media penyempurna pengabdian seseorang setelah menyelesaikan tugasnya di dunia.

"Kalau selama hidup seseorang mengemban amanah adat, maka setelah beliau meninggal harus ada upacara yang mengembalikan kedudukan itu. Dengan demikian, perjalanan rohnya menjadi sempurna dan keluarga yang ditinggalkan tidak lagi memiliki kewajiban secara spiritual," jelasnya.

Baca Juga: Melalui Pemberdayaan BRI, Suhita Lebah Indonesia Berhasil Mengembangkan Usaha Madu Berkelanjutan Berbasis Komunitas

Keunikan Nguliang Tegak juga terlihat dari rangkaian persiapannya yang berlangsung beberapa hari sebelum puncak upacara. Berbagai banten dipersiapkan secara gotong royong oleh masyarakat.

Tiga hari sebelumnya dilakukan piuning di Pura Dalem, Pura Puseh, dan Pura Bale Agung sebagai bentuk permohonan restu agar seluruh prosesi berjalan lancar. Selain itu, pemberitahuan secara niskala juga dihaturkan kepada para leluhur di merajan keluarga dan sejumlah pura yang berkaitan dengan garis keturunan pelaksana upacara.

Jro Pasek Nyoman Sulatra menuturkan bahwa seluruh sarana upacara memiliki makna simbolik. Banten bukan sekadar persembahan fisik, tetapi menjadi media yang menghubungkan manusia dengan kekuatan niskala.

"Banten adalah lambang pengorbanan suci. Semua disusun seindah mungkin karena bukan hanya dipersembahkan kepada Tuhan, tetapi juga sebagai simbol ketulusan hati manusia. Yang paling utama sebenarnya bukan kemewahan upakaranya, melainkan ketulusan yadnya yang dipersembahkan," katanya.

Ia menambahkan bahwa dalam pelaksanaan Nguliang Tegak terdapat prinsip Tri Manggalaning Yadnya, yakni kesatuan antara sulinggih atau pemimpin upacara, sarati banten, dan keluarga penyelenggara yadnya. Ketiganya harus memiliki persepsi yang sama agar seluruh tahapan ritual dapat berlangsung sesuai sastra dan tradisi yang diwariskan para leluhur.

Di balik prosesi yang sakral, Nguliang Tegak sesungguhnya menyimpan fungsi sosial yang sangat kuat. Seluruh krama desa terlibat dalam setiap tahapan persiapan, mulai dari sangkep desa, pembagian tugas, pembuatan banten, hingga pelaksanaan upacara. Perempuan berkumpul melaksanakan majaitan dan matanding, sementara kaum laki-laki mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis upacara.

Menurut Jro Pasek Nyoman Sulatra, kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama masyarakat Bebetin dalam mempertahankan tradisi.

"Kalau ada Nguliang Tegak, tidak pernah dikerjakan sendiri. Semua datang ngayah. Ada yang membuat banten, ada yang menyiapkan tempat, ada yang membantu konsumsi. Di situ terlihat bahwa adat tidak hanya mengajarkan sembahyang, tetapi juga mengajarkan hidup bersama," ungkapnya.

Semangat gotong royong yang tumbuh melalui tradisi tersebut menjadi ruang pembelajaran sosial bagi generasi muda. Anak-anak dan remaja secara langsung menyaksikan bagaimana orang tua mereka bekerja tanpa pamrih demi kepentingan bersama. Nilai itu diwariskan bukan melalui ceramah, melainkan melalui praktik kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: PETAKERTA Jadi Kompas Pembangunan Banjar Kemenuh Kangin, 184 KK Didata dari Rumah ke Rumah

Lebih jauh, Jro Pasek Nyoman Sulatra menilai bahwa Nguliang Tegak merupakan bentuk pendidikan karakter berbasis budaya lokal yang sangat relevan di tengah perubahan zaman. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan lagi bagaimana melaksanakan upacara, melainkan bagaimana menjelaskan makna filosofisnya kepada generasi muda.

"Anak-anak sekarang jangan hanya tahu kapan upacaranya dilaksanakan. Mereka harus memahami mengapa tradisi ini dilakukan, apa nilai yang diwariskan, dan mengapa leluhur menjaga tradisi ini sejak dahulu. Kalau hanya ikut tanpa memahami makna, lama-kelamaan tradisi bisa kehilangan ruhnya," katanya.

Jro Pasek Nyoman Sulatra menegaskan bahwa pelestarian tradisi bukan berarti menolak perkembangan zaman. Sebaliknya, masyarakat justru harus mampu menjaga nilai-nilai luhur sambil menyesuaikan diri dengan perubahan sosial yang terjadi.

"Modern boleh, teknologi juga boleh berkembang. Tetapi identitas jangan sampai hilang. Selama masyarakat masih memahami makna Nguliang Tegak dan tetap melaksanakannya dengan tulus, saya yakin tradisi ini akan tetap hidup sampai kapan pun," ujarnya.

Ia menambahkan, tradisi ini mengajarkan bahwa penghormatan kepada leluhur bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga membangun masa depan melalui pewarisan karakter, solidaritas, dan spiritualitas kepada generasi berikutnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
Desa bebetin Nguliang Tegak tokoh adat tradisi