BALIEXPRESS.ID-Perdebatan mengenai ajaran Hindu tidak selalu berada pada tingkat pemahaman yang sama. Setiap orang memiliki tingkat kesiapan mental, intelektual, dan spiritual yang berbeda dalam menerima serta memahami pengetahuan agama. Karena itu, perbedaan pemahaman terhadap ajaran Hindu merupakan sesuatu yang wajar.
Filolog Sugi Lanus menjelaskan, Hindu memiliki struktur epistemologi yang berjenjang. Hindu tidak memaksakan satu jalan tunggal dalam memahami ajarannya, tetapi menyediakan tangga pemahaman yang dapat disesuaikan dengan tingkat kesadaran manusia atau Adhikari.
“Hindu tidak memaksakan satu jalan tunggal, melainkan menyediakan tangga pemahaman yang menyesuaikan dengan tingkat kesadaran manusia (Adhikari),” jelas Sugi Lanus dalam catatan reflektifnya mengenai level perdebatan dalam Hindu.
Menurutnya, pemahaman seseorang terhadap Hindu tidak harus sama. Anak-anak, pelajar, mahasiswa, hingga peneliti memiliki kapasitas pemahaman yang berbeda. Karena itu, materi dan cara memahami Hindu juga semestinya disesuaikan dengan tingkat kesiapan masing-masing.
“Anak TK tidak harus sama pemahamannya dengan anak SMA, anak SMA tidak harus dipaksa sama dengan peneliti pascasarjana atau doktoral,” katanya.
Sugi menjelaskan, secara sederhana terdapat beberapa lapisan pengetahuan dalam Hindu. Lapisan pertama adalah naratif dan emosional, yang banyak ditemukan dalam Purana dan Itihasa. Pada tingkat ini, ajaran disampaikan melalui cerita, simbol, mitologi, serta personifikasi Tuhan.
Baca Juga: KMP Perkasa Prima 05 Mati Mesin di Selat Bali, 25 Penumpang Dievakuasi ke Ketapang
Cerita tentang para dewa, tokoh pewayangan, maupun berbagai kisah mitologis memiliki fungsi untuk menanamkan nilai moral, etika atau Dharma, serta rasa bakti atau Bhakti. Cerita menjadi pintu awal agar ajaran lebih mudah diterima masyarakat, khususnya anak-anak.
Menurut Sugi, berbagai karakter, gambar, cerita, patung, dan narasi tentang kedewataan dapat membantu seseorang mengenali nilai-nilai Hindu sebelum kemudian mampu memahami makna yang lebih dalam.
“Cerita biasanya berisi keseruan, polemik dan berbagai adonan metaforik yang seru atau indah untuk dikenang,” ujarnya.
Lapisan berikutnya adalah logika dan diskursus, yang berkaitan dengan Darsana dan filsafat. Pada tingkat ini, seseorang mulai mempertanyakan hakikat realitas dengan menggunakan metodologi logika atau Pramana.
Enam sistem filsafat Hindu atau Sad Darsana, misalnya, membahas persoalan mengenai asal-usul alam semesta, jiwa, serta hubungan antara keduanya dengan pencipta menggunakan penalaran yang lebih ketat.
“Seperti membedah struktur pohon untuk memahami bagaimana ia bertumbuh. Perlahan memasuki ajaran dari mengupas kulit buah, memperhatikan isi dan saripati jus atau esensi vitamin dan zat-zat terdalamnya,” jelas Sugi.
Baca Juga: Pencurian Motor di Banyubiru Jembrana Terungkap, Polisi Bekuk Pria 21 Tahun Kurang dari 24 Jam
Setelah lapisan filsafat, terdapat lapisan kontemplatif dan esoteris, terutama yang ditemukan dalam ajaran Upanisad. Pada tahap ini, pencarian tidak lagi semata-mata diarahkan ke luar melalui ritual dan dogma, tetapi mulai masuk ke dalam diri.
Salah satu pokok penting pada tingkat ini adalah pemahaman mengenai kesatuan antara diri sejati atau Atman dengan Realitas Tertinggi atau Brahman. Filsafat mulai bergerak menuju pengalaman dan realisasi spiritual.
Sugi menggambarkannya melalui hubungan antara gelombang dan samudra. Meskipun tampak berbeda, keduanya pada hakikatnya adalah air yang sama.
“Di sini kita diajak berhenti berdebat, tapi diarahkan untuk memasuki totalitas pengalaman manusia di depan ketakterbatasan kosmik atau semesta,” katanya.
Pada tingkat paling tinggi terdapat wahyu murni dan realisasi ultima, yang dikaitkan dengan Sruti atau Weda Samhita. Pada ranah ini, perdebatan dan penalaran tidak lagi menjadi pusat pencarian. Seseorang diarahkan menuju pengalaman langsung terhadap kebenaran tertinggi atau Aparoksha Anubhuti.
Menurut Sugi, logika pada dasarnya merupakan produk pikiran, sementara pengalaman spiritual tertinggi melampaui pikiran (Manas) dan intelek (Buddhi). Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti seseorang yang ingin mengetahui rasa manis gula.
“Mengalami rasa manisnya gula secara langsung, bukan lagi membaca buku atau berdiskusi tentang teori rasa manis,” ungkapnya.
Struktur pengetahuan yang berlapis tersebut, lanjut Sugi, membuat Hindu memiliki ruang yang luas bagi umat dengan tingkat pemahaman berbeda. Seseorang yang masih memahami Hindu melalui cerita dan mitologi tidak kemudian dianggap salah. Tingkat tersebut justru dapat menjadi pintu awal menuju pemahaman yang lebih mendalam.
Konsep yang digunakan untuk melihat perbedaan kesiapan tersebut adalah Adhikari-Bheda. Secara harfiah, Adhikari berarti orang yang memenuhi syarat, berwenang, atau layak. Dalam filsafat dan spiritualitas Hindu, istilah tersebut merujuk pada tingkat kesiapan mental, intelektual, dan spiritual seseorang dalam menerima, memahami, serta mempraktikkan pengetahuan tertentu.
Sugi membagi kesiapan tersebut ke dalam tiga kategori. Pertama, Manda Adhikari, yaitu tingkat pemula. Pada tahap ini, pikiran masih banyak dipengaruhi persoalan duniawi dan emosional sehingga membutuhkan cerita mitologi, ritual fisik, simbol, serta visualisasi untuk membangun disiplin moral dan rasa bakti.
Kedua, Madhyama Adhikari, yaitu tingkat menengah. Pada tahap ini seseorang sudah memiliki kemampuan berpikir kritis, pikirannya lebih tenang, dan mulai mempertanyakan hakikat kehidupan. Tingkat ini lebih sesuai untuk mempelajari perdebatan filsafat, etika yang lebih mendalam, serta Karma Yoga.
Baca Juga: Berdayakan UMKM hingga ke Pelosok Negeri, BRI Dorong Pengusaha Ikan Kering Sorong Naik Kelas
Ketiga adalah Uttama Adhikari, yaitu tingkat utama. Seseorang pada tahap ini memiliki pikiran yang lebih murni dan fokus, bebas dari kemelekatan duniawi, serta memiliki kerinduan kuat terhadap kebebasan atau Mumukshutva. Ia dianggap siap menerima pengetahuan langsung melalui Upanisad dan praktik meditasi tingkat tinggi.
Konsep tersebut, menurut Sugi, penting digunakan untuk membaca berbagai perdebatan tentang Hindu, termasuk perdebatan yang terjadi di media sosial. Sebab, tidak semua perdebatan berada pada tingkat yang sama.
“Apakah sebuah perdebatan terjadi di level Manda Adhikari, Madhyama Adhikari, atau telah memasuki level Uttama Adhikari?” ujarnya.
Ia menilai, perdebatan dalam Hindu pada dasarnya tidak dilarang. Dialog, diskusi, maupun perdebatan justru dapat menjadi bagian dari proses pencarian pengetahuan. Namun, seorang penganut Hindu diharapkan terus bertumbuh sebagai pencari spiritual atau mumukshu, bukan berhenti pada perdebatan yang tidak membawa pada pemahaman.
“Dalam Hindu perdebatan tidak diharamkan, tetapi diharapkan seorang penganut Hindu bisa bertumbuh dalam pencari spiritual (mumukshu), tidak terjebak dalam debat kusir jebakan ilusi (maya),” tegasnya.
Pada akhirnya, Sugi menekankan bahwa tujuan pencarian dalam Hindu bukan sekadar memenangkan perdebatan, mempertahankan narasi, atau menunjukkan siapa yang paling benar dalam sebuah diskusi. Perjalanan tersebut diarahkan menuju pencarian kebenaran yang lebih tinggi.
“Tujuan tertinggi Hindu adalah dapat mencapai kebenaran mutlak (Satyasya Satyam),” pungkasnya. (dik)