Laklak Baas Barak Cenana Jatiluwih Ada Sejak 1890-an, Empat Jenis Laklak untuk upacara Nyatur

I Putu Mardika • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 09:42 WIB
Panganan Laklak Baas Barak Cenana Jatiluwih, Desa Jatiluwih, Tabanan (ist)
Panganan Laklak Baas Barak Cenana Jatiluwih, Desa Jatiluwih, Tabanan (ist)

BALIEXPRESS.ID-Di balik indahnya hamparan sawah Jatiluwih, Kabupaten Tabanan tersimpan sebuah warisan kuliner tradisional yang memiliki cerita panjang tentang kehidupan masyarakat, pertanian, kepercayaan, dan penghormatan terhadap alam.

Warisan itu adalah Laklak Baas Barak Cenana Jatiluwih, jajanan tradisional berbahan dasar beras merah yang hingga kini masih dipertahankan masyarakat secara turun-temurun.

Laklak Baas Barak Cenana Jatiluwih bukan sekadar makanan yang disajikan untuk mengisi perut. Bagi masyarakat setempat, keberadaannya berkaitan erat dengan nilai spiritual dan kehidupan sosial. Sejak sekitar tahun 1890-an, laklak ini telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jatiluwih dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Tokoh masyarakat Jatiluwih, I Nengah Kartika, S.Sos., menjelaskan bahwa sejarah laklak tersebut tidak dapat dipisahkan dari perjalanan masyarakat dalam membuka dan mengelola wilayah Jatiluwih yang pada masa lalu diyakini masih berupa hutan belantara.

Dalam cerita yang berkembang secara turun-temurun, kawasan Jatiluwih dahulu merupakan wilayah yang dianggap keramat dan memiliki penghuni gaib. Seiring kedatangan masyarakat dari sejumlah wilayah, seperti Singaraja, Denpasar, dan Karangasem, kawasan tersebut mulai dikelola. Masyarakat yang berasal dari enam pasek kemudian membangun kehidupan dan mengembangkan wilayah Desa Pakraman serta Desa Dinas Jatiluwih.

Perubahan besar terjadi setelah masyarakat menemukan sumber-sumber mata air. Hutan yang sebelumnya menjadi kawasan liar kemudian perlahan dibuka menjadi lahan pertanian. Padi gaga menjadi salah satu tanaman yang dikembangkan hingga kemudian berkembang menjadi sistem persawahan seperti yang dikenal di Jatiluwih saat ini.

Baca Juga: Gede Arland Indrayana Buka Les Mandarin Gratis untuk Anak Buleleng

Dari perkembangan pertanian tersebut muncul beberapa jenis padi, di antaranya padi barak atau beras merah, beras putih, ketan, dan injin. Keempat warna tersebut memiliki makna dalam kepercayaan masyarakat Hindu dan dikaitkan dengan Catur Puja atau empat pemujaan.

Keberadaan empat jenis beras itu kemudian tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan pertanian, tetapi juga digunakan sebagai sarana upakara dalam berbagai kegiatan keagamaan.

Menurut cerita leluhur masyarakat setempat, pada suatu masa terdapat seorang leluhur yang memperoleh pawisik atau semacam bisikan mengenai adanya keinginan penghuni gaib di kawasan hutan untuk mendapatkan persembahan dari masyarakat. Persembahan tersebut diminta dalam bentuk sesajen yang dibuat dari bahan-bahan yang tersedia di lingkungan Jatiluwih.

“Masyarakat kemudian membuat berbagai jenis jajanan tradisional. Salah satunya adalah laklak yang kemudian dikenal sebagai Laklak Baas Barak Cenana Jatiluwih,” jelasnya.

Pada awalnya, laklak hanya dibuat dari beras putih. Namun, seiring berkembangnya kebutuhan upacara yadnya, masyarakat kemudian mengembangkan laklak menjadi empat jenis sesuai warna beras, yakni putih, merah, kuning, dan hitam. Keempat jenis tersebut dapat digunakan dalam upacara nyatur sebagai simbol penyatuan empat unsur persembahan.

Laklak Baas Barak Cenana kemudian semakin melekat dalam berbagai kegiatan masyarakat. Jajanan tersebut digunakan sebagai persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi sebagai ungkapan rasa syukur karena masyarakat berhasil menanam padi atau nandur sekaligus sebagai permohonan keselamatan.

Baca Juga: BRI Raih 4 Penghargaan Fortune Indonesia 100 2026, Tegaskan Fundamental dan Bisnis yang Solid

Tidak hanya dalam kegiatan pertanian, laklak juga dinikmati para petani ketika melakukan nandur maupun saat panen. Dalam kehidupan keagamaan, makanan tradisional tersebut hadir dalam penyineban odalan di pura, upacara mewinten, ngerorasin pengabenan, serta upacara mejauman atau memadik dalam rangkaian perkawinan.

Dalam tradisi perkawinan masyarakat Jatiluwih, terdapat simbol khusus yang melekat pada Laklak Baas Barak Cenana. Dua lembar laklak digabungkan menjadi satu yang disebut sebungkul. Penyatuan tersebut dimaknai sebagai pertemuan Purusa dan Pradana atau laki-laki dan perempuan.

“Simbol tersebut menggambarkan harapan terbentuknya hubungan yang erat antara pasangan yang melangsungkan perkawinan. Karena itu, laklak menjadi bagian dari persembahan yang tidak boleh dipisahkan dari rangkaian tradisi perkawinan masyarakat setempat,” imbuhnya.

Keunikan Laklak Baas Barak Cenana Jatiluwih juga terlihat dari proses pembuatannya. Berbeda dengan sejumlah jenis laklak lainnya, masyarakat Jatiluwih masih mengenal penggunaan peralatan tradisional berupa keren dan kekeb.

Keren merupakan alat memasak berbahan tanah liat dengan permukaan datar. Sementara kekeb digunakan sebagai penutup dan juga terbuat dari tanah liat.

Baca Juga: Pemkab Tabanan Bakal Tanam Kabel Provider Bawah Tanah, Ogoh-Ogoh dan Bade Tak Lagi Terhalang

“Penggunaan kedua alat tersebut menghasilkan bentuk laklak yang lebar, pipih, serta memiliki tekstur khas menyerupai sarang semut,” paparnya. 

Proses pembuatan dimulai dengan mencuci beras merah, kemudian merendamnya menggunakan air bersih. Beras selanjutnya dijemur hingga kering sebelum diolah menjadi tepung.

Dijelaskan Nengah Kartika, Tepung beras merah kemudian dicampur dengan air hingga menghasilkan adonan yang encer dan merata. Setelah itu, keren dipanaskan menggunakan api sedang. Adonan dituangkan ke permukaan keren lalu ditutup dengan kekeb.

Bagian atas kekeb disiram air untuk membantu proses pematangan dan membuat laklak mengembang. Setelah sekitar dua menit, laklak diperiksa. Jika masih lengket, berarti proses pematangan belum selesai. Sebaliknya, apabila sudah mudah diangkat dan tidak lengket, laklak siap disajikan.

Untuk menambah cita rasa, laklak biasanya disajikan bersama kelapa parut dan gula merah cair atau unti.

Di tengah berkembangnya pariwisata Jatiluwih, keberadaan laklak kini memasuki ruang yang lebih luas. Makanan yang dahulu terutama disiapkan untuk keperluan keluarga dan upacara tersebut mulai dikenalkan kepada wisatawan lokal maupun mancanegara melalui restoran dan usaha kuliner di kawasan Jatiluwih.

Baca Juga: Kelola Sampah Lebih Optimal, DLH Tabanan Ajak Warga Manfaatkan Depo Debes

“Perkembangan tersebut sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Beras merah atau baas barak cenana merupakan salah satu bagian dari identitas pangan Jatiluwih dan memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan petani,” imbuhnya.

I Nengah Kartika menekankan pentingnya menjaga agar perkembangan ekonomi tidak menghilangkan nilai budaya yang melekat pada laklak. Jika kelak makanan tradisional tersebut semakin dikenal secara nasional maupun internasional, masyarakat asal perlu tetap memperoleh manfaat dari perkembangan tersebut.

Salah satu konsep yang dapat digunakan adalah pembagian manfaat secara adil antara masyarakat asal dengan pihak lain yang terlibat dalam pengembangan produk. Konsep ini juga dapat berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap kekayaan intelektual komunal masyarakat.

“Jadi pembagian Laklak Baas Barak Cenana bukan hanya membuka peluang bisnis baru, tetapi juga dapat memperluas akses pasar dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap nilai pengetahuan tradisional yang dimiliki Jatiluwih,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
Laklak Baas Barak Cenana padi Jatiluwih tabanan beras