Tradisi Ngebek di Pura Agung Payangan Penyucian Tapakan Ida Bhatara

I Putu Mardika • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 10:10 WIB
Tradisi Ngebek di Pura Agung Payangan, Gianyar (ist)
Tradisi Ngebek di Pura Agung Payangan, Gianyar (ist)

BALIEXPRESS.ID-Pura Agung Payangan di Desa Melinggih, Kecamatan Payangan, Gianyar, memiliki tradisi sakral yang masih dijaga hingga kini. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Ngebek, sebuah ritual yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat pengempon Pura Agung Payangan.

Pengempon Pura Agung Payangan, Wayan Sudita, mengatakan Tradisi Ngebek merupakan bentuk penghormatan kepada Ida Bhatara Siwa Pasupati. Ritual ini berkaitan dengan penyucian sekaligus pemasupatian tapakan Ida Bhatara, khususnya Barong dan Rangda yang akan disakralkan.

“Tradisi Ngebek ini merupakan bentuk penghormatan kepada Ida Bhatara Siwa Pasupati. Salah satu tujuannya untuk menyucikan dan menyakralkan tapakan, termasuk tapakan yang baru pertama kali akan melibatkan diri di Pura Agung Payangan,” ujar Sudita.

Tradisi ini melibatkan dua desa adat sebagai pengempon, yakni Desa Adat Badung dan Desa Adat Payangandesa. Selain itu, sejumlah tapakan dari wilayah Melinggih, Ubud, dan Bongkasa turut hadir dalam pelaksanaan ritual.

Baca Juga: Laklak Baas Barak Cenana Jatiluwih Ada Sejak 1890-an, Empat Jenis Laklak untuk upacara Nyatur

Dalam pelaksanaannya, terdapat sekitar 10 tapakan Ida Bhatara yang mengikuti Tradisi Ngebek. Di antaranya Barong Landung dari Karang Suwung, Barong Ket dari Kedewatan Ubud dan Puri Kelodan, Barong Macan dari Amo Bukian, sejumlah Barong Ket dari Melinggih, serta tapakan dari Tangkup dan Bongkasa.

Tradisi Ngebek dilaksanakan di Bale Agung, kawasan Jaba Tengah Pura Agung Payangan. Ritual ini digelar setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Rahina Budha Kliwon Wuku Dunggulan atau bertepatan dengan Hari Raya Galungan.

Prosesi dimulai setelah seluruh tapakan tedun dan melinggih di Pura Agung Payangan. Setelah persembahyangan dan ngider, sekitar tengah malam dilaksanakan ritual penyembelihan babi butuhan atau babi jantan.

Usai prosesi utama, masing-masing tapakan kembali ke daerah asalnya. Bagi tapakan yang tidak dapat hadir, pengempon tetap wajib membawa banten pejati sebagai bentuk penghormatan dan tanggung jawab terhadap tradisi.

Menurut Sudita, Ngebek tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga memperkuat hubungan sosial. Tradisi ini mempertemukan masyarakat dari berbagai daerah dalam satu rangkaian upacara, sehingga semangat gotong royong, solidaritas, dan kebersamaan tetap terjaga.

“Di sinilah kebersamaan itu terlihat. Semua ikut mengambil bagian sesuai dengan kewajibannya. Yang tidak bisa hadir pun tetap mengirimkan pejati. Ini menunjukkan tanggung jawab dan penghormatan terhadap adat,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
Pura Agung Payangan Desa Melinggih gianyar payangan tradisi