Kain Tenun Cepuk Tanglad, Wastra Sakral yang Digunakan dalam Ritual

I Putu Mardika • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 20:14 WIB
Motif kain tenun Cepuk di Desa Tanglad, Nusa Penida, Klungkung
Motif kain tenun Cepuk di Desa Tanglad, Nusa Penida, Klungkung

BALIEXPRESS.ID-Kain tenun Cepuk bukan sekadar kain tradisional yang memiliki motif indah. Bagi masyarakat Bali, khususnya yang masih mempertahankan tradisi dan tata upacara warisan leluhur, kain Cepuk memiliki hubungan erat dengan kehidupan spiritual. Kain ini digunakan dalam berbagai pelaksanaan upacara yadnya, mulai dari upacara manusa yadnya, pitra yadnya, hingga berbagai ritual keagamaan lainnya.

Di Desa Adat Tanglad, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, tradisi menenun kain Cepuk masih dipertahankan hingga sekarang. Di tangan para perajin, benang demi benang diolah secara telaten menjadi kain yang tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga mengandung makna religius, sosial, budaya, dan ekonomi.

Salah seorang perajin Kain Tenun Cepuk Desa Adat Tanglad, Ni Ketut Ciring, mengatakan kain Cepuk sudah digunakan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat Bali. Penggunaannya tidak dapat dilepaskan dari pelaksanaan upacara yadnya.

“Kain Cepuk sebagian besar digunakan sebagai sarana dalam pelaksanaan upacara yadnya. Ada yang digunakan sebagai pakaian pelinggih, pelengkap upakara, maupun pakaian bagi orang yang akan diupacarai,” ujar Ni Ketut Ciring.

Penggunaan tersebut menunjukkan bahwa kain tradisional di Bali memiliki kedudukan yang berbeda dengan kain biasa. Kain tidak hanya dilihat dari bentuk dan keindahannya, tetapi juga dari konteks penggunaannya. Motif, warna, bahan, hingga waktu pemakaian dapat berkaitan dengan jenis upacara yang sedang dilaksanakan.

Dalam sejumlah sumber tradisional, penggunaan Kain Tenun Cepuk bahkan telah disebutkan dalam kaitannya dengan upacara Manusa Yadnya. Dalam transkrip Lontar Dharma Kahuripan, misalnya, terdapat keterangan mengenai penggunaan kain Cepuk dalam rangkaian upacara potong gigi atau mepandes/metatah.

Kain Cepuk dapat digunakan sebagai pakaian ketika seseorang menjalani masa ngekeb maupun ketika melaksanakan prosesi potong gigi. Untuk laki-laki dan perempuan, penggunaannya dapat disesuaikan dengan ketentuan dan kebutuhan upacara. Dalam sumber tersebut juga disebutkan beberapa jenis kain dan perlengkapan yang menyertai busana dalam pelaksanaan upacara metatah.

Baca Juga: Menembus Pegunungan, Mantri BRI Setia Dampingi Warga Garut Selatan

Sementara itu, dalam upacara Pitra Yadnya, kain Cepuk juga memiliki fungsi yang tidak kalah penting. Ia menyebut kain bebali Cepuk disebut digunakan sebagai rurub atau penutup jenazah paling atas selama jenazah masih berada di rumah sebelum diusung menuju kuburan.

Menurutnya, penggunaan kain tersebut berkaitan dengan doa dan harapan agar seseorang yang telah meninggal memperoleh keselamatan serta mendapatkan jalan menuju alam yang lebih baik, sesuai dengan amal bhakti yang dilakukan selama hidupnya.

Karena itu, kain Cepuk memiliki dimensi simbolik yang kuat. Kain bukan hanya menjadi benda yang dikenakan atau digunakan untuk melengkapi upacara, melainkan menjadi bagian dari bahasa simbolik masyarakat dalam menyampaikan doa, penghormatan, dan harapan.

Di balik penggunaannya yang sarat makna, proses pembuatan Kain Tenun Cepuk juga membutuhkan ketekunan luar biasa. Pengerjaannya dilakukan melalui banyak tahapan dan memerlukan keterampilan khusus. Proses tersebut dimulai dari memintal benang, kemudian menggabungkan benang yang telah dipintal dan melilitkannya pada penyangga.

Tahap berikutnya adalah mengikat benang sesuai motif yang akan dibuat. Setelah itu benang menjalani proses pewarnaan dasar dan dijemur. Tali kemudian dilepas dan motif pada benang diberi warna. Setelah kembali dikeringkan, benang dilepas dan dipindahkan menggunakan pengelosan dan undar.

Benang selanjutnya dililitkan pada hanyinan, kemudian dipindahkan ke pandalan. Setelah seluruh persiapan selesai, barulah proses menenun dilakukan dengan mengikuti motif yang telah dirancang. Dari rangkaian panjang tersebut lahirlah selembar kain Cepuk yang memiliki karakter khas Nusa Penida.

Proses yang panjang itulah yang membuat kain Cepuk tidak bisa dipandang hanya sebagai produk kerajinan biasa. Ada keterampilan, ketelitian, kesabaran, sekaligus pengetahuan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Baca Juga: Pembahasan Tingkat I RUU Pengaturan Reforma Agraria Disepakati untuk Dilanjutkan ke Sidang Paripurna

Kain Cepuk dikenal memiliki beragam motif dengan fungsi dan makna masing-masing. Motif Mekawis, misalnya, digunakan untuk membungkus tulang dalam upacara kematian atau pengabenan. Motif Kecubung digunakan untuk anak perempuan ketika melaksanakan upacara potong gigi, sedangkan motif Lingking Paku digunakan untuk anak laki-laki dalam upacara yang sama.

Ada pula motif Tangi Gede yang memiliki fungsi khusus sebagai sanan empeg, yakni digunakan dalam konteks tertentu bagi anak kedua dari tiga bersaudara apabila kakak pertama dan adik ketiganya telah meninggal. Motif Sudamala dengan warna hitam dan putih digunakan dalam prosesi melukat atau pembersihan diri. Sementara motif Kurung lebih fleksibel karena dapat digunakan untuk berbagai keperluan dan dapat dimodifikasi.

“Setiap motif memiliki kegunaan dan makna. Karena itu, kain Cepuk tidak bisa dipisahkan dari konteks upacara dan kehidupan masyarakat,” kata Ni Ketut Ciring.

Baca Juga: Pembahasan Tingkat I RUU Pengaturan Reforma Agraria Disepakati untuk Dilanjutkan ke Sidang Paripurna

Tak hanya digunakan dalam ritual, kain Cepuk juga mempunyai menjadi ikon budaya. Kain ini dapat diberikan sebagai cenderamata untuk mempererat persahabatan dan hubungan sosial. Di sisi lain, kain Cepuk lama, langka, dan memiliki keunikan tertentu juga dapat menjadi simbol prestise bagi orang yang mengoleksinya.

Secara ekonomi, kain Cepuk juga memberikan peluang bagi masyarakat. Kain yang dibuat menggunakan bahan alami memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Keunikan motif, proses pengerjaan yang panjang, serta fungsi ritual membuat kain tertentu diminati kolektor dan dapat memiliki harga yang relatif tinggi.

Namun, bagi masyarakat Tanglad, nilai ekonomi bukan satu-satunya alasan untuk mempertahankan tradisi menenun. Ada nilai pelestarian yang jauh lebih penting. Kain Cepuk merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa masyarakat yang diwariskan dari leluhur sehingga keberadaannya perlu terus dijaga.

Dalam proses pelestarian tersebut, perempuan memiliki peran yang sangat penting. Ibu-ibu di lingkungan masyarakat menjadi kelompok yang cukup dominan dalam menjaga keterampilan menenun. Dalam perkembangannya, generasi muda juga mulai menunjukkan ketertarikan untuk belajar dan terlibat.

Menurut Ni Ketut Ciring, keterlibatan anak-anak muda menjadi harapan tersendiri bagi keberlanjutan kain Cepuk. Apalagi, kerajinan tersebut tidak hanya mempunyai nilai budaya, tetapi juga memiliki peluang ekonomi.

Baca Juga: Menteri Nusron di Peringatan HANTARU: Transformasi, Melayani Lebih Pasti Jadi Cara Kerja Sehari-Hari

“Sekarang anak-anak muda sudah mulai mau ikut aktif. Selain untuk melestarikan tradisi, dari sisi ekonomi kerajinan kain Cepuk juga cukup menjanjikan,” ujarnya.

Keterlibatan generasi muda menjadi penting karena tantangan pelestarian budaya saat ini bukan sekadar menjaga bentuk fisik sebuah tradisi. Yang lebih penting adalah memastikan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan makna yang ada di balik tradisi tersebut tetap dipahami.

Kain Cepuk juga mengandung nilai filosofis yang berkaitan dengan konsep desa kala patra. Penggunaannya dapat menyesuaikan tempat, waktu, dan keadaan. Artinya, pemakaian kain tidak bersifat kaku, tetapi mempertimbangkan motif, jenis upacara, waktu, serta kondisi masyarakat yang melaksanakan yadnya.

“Kami yakin, pemakaian kain Cepuk dalam upacara yadnya berkaitan dengan doa dan harapan orang yang menggunakannya. Motif dan warna memberikan kesan klasik sekaligus khas,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
bali yadnya cepuk klungkung kain tenun