BALI EXPRESS, DENPASAR - Mayoritas masyarakat Bali percaya akan adanya roh halus serta alam yang memiliki kekuatan magis. Bahkan, kepercayaan animisme tersebut hingga kini kian eksis, tercermin dari sejumlah tarian sakral, salah satunya tari Sang Hyang Memedi. Kenapa Memedi, seperti apa mistisnya?
Tari Sang Hyang Memedi, merupakan sebuah tarian sakral yang masih eksis hingga saat ini. Banyak dokumen penelitian yang mencatat keberadaan tarian ini. "Tari Sang Hyang Memedi adalah suatu tarian sakral yang berfungsi sebagai pelengkap suatu upacara untuk mengusir wabah penyakit yang sedang melanda suatu desa atau daerah," papar Budayawan yang juga mantan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Komang Astita kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin.
Dikatakannya, Tari Sang Hyang Memedi umumnya dilaksanakan di daerah Bali Utara, termasuk juga Jatiluwih yang kerap menggelarnya.
Tari Sang Hyang Memedi dipentaskan, lanjut Astita, dimaksudkan sebagai penetralisasi, baik itu soal wabah penyakit ataupun kekuatan black magic. Dalam beberapa literatur disebutkan, diawal 1940 – an Bali memiliki banyak jenis Tari Sang Hyang yang kini sebagain besar telah punah. Beberapa jenis Tari Sang Hyang tersebut adalah Tari Sang Hyang Memedi, Tari Sang Hyang Celeng, Tari Sang Hyang Lelipi , Tari Sang Hyang Kuluk, Tari Sang Hyang Bojog, Tari Sang Hyang Sri Puput, Tari Sang Hyang Capah, Tari Sang Hyang Sela Perahu, Tari Sang Hyang Sampat, Tari Sang Hyang Dedari. Selanjutnya ada Tari Sang Hyang Lesung, Tari Sang Hyang Kekerek, Tari Sang Hyang Teter, Tari Sang Hyang Dongkang, Tari Sang Hyang Penyu, Tari Sang Hyang Lilit Litig, Tari Sang Hyang Sambe, dan Tari Sang Hyang Tutup. Namun, dari sekian banyak Tari Sang Hyang yang tercatat, yang masih lestari hanya sembilan jumlah tarian, di antaranya adalah Tari Sang Hyang Memedi.
Tari Sang Hyang Memedi umumnya diperankan oleh satu hingga tiga orang penari laki – laki yang mengenakan pakaian berupa dedaunan kering, serta serat akar pohon. Tarian ini biasanya hanya dipentaskan dalam upacara sakral tertentu, dan tidak untuk dipertontonkan. “Namanya saja tarian sakral. Artinya bukan untuk dipertontonkan secara umum. Pelaksanaannya juga tidak sembarangan. Hanya upacara – upacara tertentu saja dapat mementaskan tarian tersebut,” ujar Astita.
Tari Sang Hyang Memedi cukup unik dan penuh misteri. Pasalnya, penari yang menarikan bukanlah penari yang berlatih gerakan sebelum melakukan pementasan. Gerakannya ditarikan begitu saja setelah sang penari mengalami karauhan atau trance.
“ Mangku pura pun, biasanya tidak tahu siapa yang akan menarikan Tari Sang Hyang Memedi saat itu, karena yang memilih langsung dari sasuhunan pura tersebut. Ketika sang penari sudah mulai trance atau karasukan, barulah dipakaikan perlengkapannya seperti baju yang terbuat dari daun pisang kering (kraras). Malah di Jatiluwih, mereka menggunakan batang padi kering sebagai pakaiannya,” ungkapnya.
Uniknya, tak ada gerakan pakem yang biasanya ditarikan oleh para penari Tari Sang Hyang Memedi. Umumnya para penari akan berlarian kesana kemari mengelilingi pura, berloncatan dan tertawa tak karuan. Lalu menari dengan gerakan abstrak. “Gerakannya bisa dikatakan abstrak. Tidak ada pakem khusus yang digunakan. Iringan musiknya pun hanya dari sebuah lirik lagu yang dinyanyikan secara bersamaan tanpa ada gamelan,” tuturnya.
Lirik lagu yang biasa ditembangkan ketika Tari Sang Hyang Memedi dipentaskan :
Ye memen bajra luas ke setra,
kautus ngundang Memedi.
Memedi pada kaundang,
ane peceng, perot kaundang.
Memedi gigine putih poleng,
irik irikin je kuda wake.
Wake enyak teken iya,
iya enyak ngajak wake.
Cikapak aji dungkul mengebeng,
Luas kija, kaundang, menginutin rejang Jawa. Sada teka egah egoh mengabang dadongne kahwan.
Gending Tari Sang Hyang Memedi itulah yang digunakan dalam mengiringi Tari Sang Hyang Memedi.
Gending tersebut konon memiliki kekuatan magis mengundang para Memedi untuk datang dan ikut masuk dan menari bersama. Gerakan yang ditarikan pun mengikuti melodi yang dinyanyikan dalam gendingnya.
“Biasanya tarian ini dibawakan langsung oleh pangempon pura atau pemangku pura. Namun, tidak bisa ditebak juga siapa yang akan menarikan. Pada waktu menari, penari Tari Sang Hyang Memedi akan menggunakan pakaian serba putih dengan membawa sebilah keris yang terhunus. Beberapa kali penari akan terlihat melakukan gerakan menusuk sesuatu yang tak terlihat, lalu kembali berlarian dan melompat abstrak,” paparnya.
Lantas, siapakah Memedi itu?
Memedi, merupakan sosok mahluk halus yang dipercaya memiliki sifat jahil dan suka menyembunyikan sesuatu. Pernah mendengar istilah engkebang Memedi? Biasanya kalimat itu digunakan para orang tua untuk mengajak anak nya pulang ketika sandikala. Memedi dikatakan memiliki rupa yang aneh, bergigi poleng, dengan rambut dan pakaian yang acak – acakan. Konon, Memedi tinggal di tempat – tempat tertentu seperti tebing, jurang, teba atau sungai, pohon – pohon besar serta di rimbunan bambu. Namun, dalam Weda dijelaskan bahwa Memedi termasuk kedalam golongan mahluk asura atau paisaca - paisaci .
“Dalam Weda dikenal ada dua golongan, yaitu Sura dan Asura. Sura merupakan golongan mahluk suci yang dominan memiliki sifat baik, seperti dewa dewi, astavasu, prajapati. Sedangkan Asura dikatakan sebagai golongan mahluk astral yang dominan memiliki sifat kurang baik, seperti raksasa, memedi, detya,” ujar Ida Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa. Dalam kitab Purana, sering kali nama nama para raksasa digambarkan menggunakan nama Asura, seperti Mahesasura dan Durgasura.
“ Ada baiknya kita saling menghormati antara manusia dengan mereka yang tak kasat mata. Caranya dengan rajin sembahyang, ketika pergantian waktu seperti tengai tepet, sandi kala, atau subuh. Sebaiknya kita tidak beraktivitas di tempat tempat tertentu, seperti teba atau tempat mistis lainnya. Dan, lebih disarankan untuk melakukan persembahyangan ketika waktu pergantian tersebut,” ujarnya.
Editor : I Putu Suyatra