Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Alasan Muncul Mitos Tak Boleh Membaca Saat Saraswati

I Putu Suyatra • Kamis, 24 Maret 2022 | 23:29 WIB
Sarati banten, Jro Ketut Utara. (istimewa)
Sarati banten, Jro Ketut Utara. (istimewa)
SAAT peraayaan Saraswati ada sebuah mitos,  yaitu tidak boleh membaca. Bukan tanpa alasan, mengapa dianjurkan untuk tidak membaca saat perayaan Saraswati. Sesungguhnya upaya itu dilakukan dengan tujuan menghindari ketidakstabilan emosi saat membaca.

Sebab, seringkali dalam aktivitas membaca buku, perasaan pembaca akan turun naik mengikuti alur cerita atau pesan-pesan yang disampaikan dalam buku tersebut. Akibatnya, emosi berupa kesan-kesan yang timbul dapat berupa kesan yang positif maupun negatif.

“Yang patut dihindari adalah timbulnya kesan-kesan negatif dalam pikiran. Dengan tujuan mencegah kemungkinan tersebut maka mitos atau pantangan tersebut dibuat,” papar Sarati banten, Jro Ketut Utara.

Adanya kemungkinan timbulnya pikiran serta perkataan negatif juga terdapat pada aktivitas menulis. Dalam aktivitas menulis, bisa  saja terjadi kesalahan dalam penulisan. Seringkali tanpa disadari bahwa saat baru menyadari kesalahan penulisan tersebut secara refleks mengeluarkan kata-kata makian atau umpatan yang tidak patut.

Terlebih di depan sastra-sastra suci, sumber pengetahuan yang saat itu sedang disakralkan posisinya di hari suci turunnya ilmu pengetahuan itu sendiri. Saat hari suci Saraswati, seluruh simbol-simbol pengetahuan tersebut diupacarai dan disakralkan layaknya benda-benda suci, ibaratnya seperti pratima di pura. “Oleh sebab itu, tidaklah patut jika memaki di hadapan simbol-simbol pengetahuan yang disakralkan tersebut,” ungkapnya.

Pantangan membaca dan menulis di hari suci Saraswati sesungguhnya merupakan bagian dari kepedulian terhadap sumber-sumber pengetahuan tersebut. Momentum untuk peduli tersebut diharapkan pula mampu mengingatkan manusia selaku umat Hindu agar senantiasa menghormati simbol-simbol dan sumber-sumber ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

Apabila merujuk kembali pada teks Sundarigama bahwa upacara pemujaan Saraswati dilaksanakan pada pagi hari atau sebelum tengah hari, maka aturan tidak boleh membaca dan menulis tersebut tidak berlaku lagi setelah lewat dari tengah hari. “Oleh sebab itulah biasanya pada sore atau malam hari sering dilaksanakan acara berupa malam sastra yang bertujuan membedah ilmu-ilmu pengetahuan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan filosofi hari suci Saraswati itu sendiri,” pungkasnya. Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #HARI RAYA SARASWATI #empat hari