Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Merajan bagi Umat Hindu di Bali

Putu Agus Adegrantika • Senin, 17 Juli 2023 | 03:30 WIB
Merajan adalah satu tempat pemujaan umat Hindu di Bali. Biasanya ada di rumah masing-masing
Merajan adalah satu tempat pemujaan umat Hindu di Bali. Biasanya ada di rumah masing-masing

BALI EXPRESS -  Sebuah kenyataan bahwa umat Hindu dalam pemujaannya kepada Tuhan dan Roh Leluhurnya. Pada zaman batu sekitar 2.500 tahun sesudah masehi hingga 500 sesudah masehi, telah pula melakukan pemujaan terhadap Tuhan dan Roh Leluhurnya. Kini di Bali, tempat pemujaan di rumah masing-masing disebut merajan.

Hal itu pun dikutip dari tulisan Drs I Keutu Pasek Swastika dalam bukunya yang berjudul Indik Wewangunan. Diungkapkan saat itu tidak seperti sekarang bentuk dan wujud dari tempat pemujaannya. Melainkan hanya berupa tumpukan batu yang sangat sederhana, disebut dengan menhir dan juga berupa Tugu Batu.

Selanjutnya, setelah kemajuan zaman terlebih agama Hindu masuk ke Bali dan berkembang sesuai budaya setempat. Maka wujud dari tempat pemujaan tersebut mengalami suatu perubahan selaras dengan perkembangan budaya Hindu Bali.

Maka terbentuklah sebuah pelinggih sebagai kita lihat dan wujudkan seperti saat ini. Hal tersebut tiada lepas dari konsep dan pengaruh dari para leluhur. Seperti Rsi Markandeya, Mpu Kuturan, Danghyang Nirartha serta Maha Rsi lainnya.

Merajan terdiri dari Pelinggih utamanya adalah Kamulan dan Rong Tiga. Tidak terlepas dari konsep Mpu Kuturan yang telah berjasa menyatukan dari sembilan sekta yang ada pada zaman pemerintahan Raja Airlangga di Jawa. Sembilan sekte itu di Bali disatukan menjadi tiga, yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, Dewa Siwa.

Sementara sembilan sekte yang dimaksudkan adalah Siwa Sidhanta, Pasupata, Bhairawa, Wasinawa, Sogata, Brahmana, Sora, Surya, Ghanapatya.  Selanjutnya penyatuan tiga tersebut tertuang menjadi konsep Tri Murti.

Di Jawa konsep Tri Murti tercermin dalam Candi Prambanan yang dipertukan memuja Brahma, Wisnu dam Siwa. Sementara di Bali menjadi Tri Kahyangan, atau Kahyangan Tiga yang ada setiap desa adat untuk Brahmana di Pura Puseh, Wisnu di Pura Desa, dan Siwa di Pura Dalem.

Selanjutnya dalam setiap keluarga tercermin kedalam kamulan atau rong tiga. Yaitu di kanan memuja Brahma, di Kiri memujua Wisnu dan di tengah memuja Siwa.

Dalam hal ini Kamukan sebagai tempat pemujaan Roh Leluhur dimana rong di sebelah kanan untuk mensthanakan leluhur yang laki, di sebelah kiri untuk mensthanakan leluhur wanita, sedangkan di tengah Beliau yang Maha Kuasa (Siwa).

Baru selanjutnya berkembang konsep bahwa di setiap Kahyangan Tiga ada juga Kahyangan Jagat oleh Danghyang Nirartha pada tahun 1540 Masehi. Maka dibangunlah Padmasana sebagai pemujaan Yang Maha Tunggal yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Maka mulai saat itu di setiap Kahyangan atau tempat suci dibangun Padmasana.

Editor : I Putu Suyatra
#dewa wisnu #bali #merajan #dewa brahma #Tri Murti #Rsi Markandeya #hindu #dewa siwa #Danghyang Nirartha #mpu kuturan #Ida Sang Hyang Widhi Wasa