BALIEXPRESS.ID – Dalam tradisi Ngaben Massal bagi umat Hindu Bali, terdapat serangkaian prosesi sakral yang harus dilalui sebelum mencapai puncak upacara.
Mulai dari Nuwasen, Mlaspas Genah, Ngulapin di Setra, hingga Ngendag Kuburan dan Ngajum Kajang.
Di antara semua rangkaian tersebut, prosesi Ngendag Kuburan menjadi salah satu yang paling unik dan penuh simbolisme.
Apa Itu Ngendag Kuburan?
Dalam prosesi Ngendag Kuburan, jenazah yang akan diambil (angkid) digantikan oleh pohon pisang yang dikubur di liang lahat.
Menurut Ida Mpu Yogi Swara dari Griya Uma Jati, upacara ini merupakan sarana penting untuk menyampaikan pesan kepada Atman (jiwa) orang yang telah meninggal namun masih terikat dengan Suksma Sarira.
“Ngendag adalah bentuk pemberitahuan kepada Atman bahwa akan diadakan prosesi Pangabenan. Ini juga merupakan penghormatan terhadap elemen Stula Sarira dan Suksma Sarira yang selama ini terikat dengan pertiwi,” jelas Ida Mpu Yogi.
Upacara ini biasanya dilakukan pada malam hari, sehari sebelum puncak prosesi Ngaben.
Momen ini sangat sakral karena menjadi penghubung antara dunia yang terlihat dan yang tak kasat mata.
Tahapan Sakral dalam Prosesi Ngendag
Ngendag Kuburan dilakukan dengan tata cara khusus dan penuh kehormatan.
Keluarga besar datang ke Setra pada malam hari dengan membawa banten pajati, pasucian, dan pasilur bambang berupa ayam hitam dan pohon pisang.
1. Penghormatan di Makam
Keluarga menghaturkan banten Pangendag di atas makam atau gundukan kuburan. Setelah itu, mereka menepuk gundukan sembari memanggil nama orang yang akan diaben.
“Menepuk gundukan ibarat membangunkan dia yang telah meninggal, sembari memanggil namanya untuk memberi tahu bahwa prosesi akan dimulai,” terang Ida Mpu Yogi.
2. Penggantian Jenazah dengan Simbol
Setelah itu, liang lahat digali kembali, namun tidak terlalu dalam. Proses ini lebih bersifat simbolis.
Pohon pisang ditanam di liang lahat sebagai pengganti jenazah yang akan diangkat pada keesokan paginya.
3. Persiapan Puncak Ngaben
Pada pagi harinya, keluarga akan melaksanakan prosesi Ngangkid, yakni mengangkat tulang belulang dari kuburan.
Setelahnya, dilakukan upacara Pasilur Bambang untuk memohon izin kepada Bhatara di Pura Prajapati.
“Ayam hitam yang dilepas dan pohon pisang yang ditanam menjadi simbol pengganti jenazah. Ini bagian penting dari banten Pasilur,” tambahnya.
Makna Mendalam di Balik Prosesi Ngendag
Prosesi Ngendag bukan hanya sekadar tradisi, melainkan bentuk penghormatan terhadap elemen kehidupan yang telah berlalu.
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya tahapan ini.
“Sering kali masyarakat hanya mengetahui prosesi Ngangkid, yakni mengambil tulang belulang. Padahal, ada rangkaian sakral yang harus dilakukan sebelumnya,” tandas Ida Mpu Yogi.
Prosesi ini mengajarkan penghormatan yang mendalam terhadap leluhur dan kesadaran spiritual untuk menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan niskala.
Dengan menjalankan prosesi ini secara lengkap, keluarga dapat memastikan bahwa upacara Ngaben berjalan sesuai adat dan memberikan ketenangan bagi Atman yang sedang dalam perjalanan menuju moksha. ***
Editor : I Putu Suyatra