BALI EXPRESS, BANGLI - Perajin gong besi di Banjar Dajan Umah, Desa Pengotan, Bangli, tak pernah khawatir penjualan menurun. Sebab jenis gong yang satu ini memiliki peminat yang cukup banyak. Harganya jauh lebih murah dari gong berbahan campuran tembaga dan timah atau disebut kerawang.
Ketut Uliana, 26, adalah penerus usaha gong besi di Pengotan. Sang ayah I Nyoman Dana, merupakan perintis usaha tersebut. Nyoman Dana mewarisi perusahaan itu kepada empat orang putranya.
Kata Uliana, pesanan tak pernah sepi. Pelanggannya kebanyakan berasal dari komunitas seni yang tergolong baru. Di samping itu, beberapa lembaga pendidikan TK dan SD juga banyak memesan. "Pemkab Badung yang paling banyak memesan. Selain juga dari warga Badung sendiri yang memesan untuk dipakai latihan," jelas Udiana kepada Bali Express (Jawa Pos), Selasa (25/6).
Kata dia, gong besi memang direkomendasi bagi orang-orang yang baru belajar gamelan. Gong besi cukup tahan. Itu ada pengaruh terkait cara memukul alat musik. Dikatakan, orang yang baru belajar gamelan memiliki kekuatan pukulan yang jauh beda dengan orang sudah mahir menabuh gamelan. "Jadi kemungkinan pecah sangat lama," kata dia.
Harga yang ditawarkan pun bersahabat. Satu set atau satu barung gong lengkap dipatok Rp 60 juta. Sedangkan gong berbahan kerawang bisa mencapai Rp 180 juta. Untuk satu set baleganjur besi dipatok Rp 22 juta. Sementara bahan kerawang mencapai Rp 70 juta. "Kerawang dan besi sama-sama berkualitas. Memang kerawang sedikit lebih baik. Wajar mahal karena beda bahan. Tapi intinya gak kalah saing," imbuhnya.
Pembuatan gong besi tergolong rumit. Sebab para pekerja harus menyambung beberapa potongan besi dan melakukan pengelasan hingga berbentuk. Yang paling sulit membentuk gamelan jenis reong, tawa-tawa, dan daun gangsa. Semua proses dikerjakan secara manual tanpa alat cetak.
Ketut Uliana mengakui kalau setem nada sangat sulit. Butuh kepekaan terhadap nada dan karakter suara. Sebab standar nada gamelan menggunakan skala pentatonik atau lima nada . Untuk mendapat standar nada, dia menggunakan gamelan gangsa untuk penyeteman.
Ada juga yang memesan setem suara agar sesuai dengan nada alat musik modern dengan skala diatonik (tujuh nada). Biasannya pemesan melakukan eksperimen membutuhkan not-not musik barat dari gamelan. "Bapak dan kakak saya bagian setem cepat," kata pria bertubuh tambun ini menyeletuk.
Gong besi sudah melanglang buana. Penjualan bisa tembus ke pasar mancanegara. Di pasar nasional, konsumen asal Jakarta, Sulawesi, dan Jawa Timur mendominasi. "Kalau seluruh Bali sudah pasti. Sudah semua," tandasnya.
Editor : I Putu Suyatra