TABANAN, BALI EXPRESS - Sejak Covid-19 merajalela, banyak orang mengernyitkan dahi, terutama pelaku usaha, karena omsetnya menurun drastis. Hal itu juga dirasakan pelaku usaha, terutama penata rias.
Desak Made Lia Lestari, ibu satu anak asal Tabanan ini contohnya. Semenjak Covid-19, dimana pemerintah menganjurkan tidak ada kegiatan berkerumun maupun perayaan, usahanya sementara diistirahatkan.
"Dulu seminggu itu full job, minimal bisa 2 kali dalam seminggu," ujar Desak Lia kepada Bali Express (Jawa Pos Grup), Senin (25/5).
Pelanggannya dulu kebanyakan dari anak-anak sekolah atau perguruan tinggi yang hendak merayakan kelulusan. Tak jarang juga, rias untuk pengantin juga ia ladeni. Kendala sekarang, karena kegiatan berkumpul untuk perayaan tidak diizinkan oleh pemerintah, makanya bisnisnya ini ikut terkena dampak. "Dulu saking kewalahannya, saya sampai nolak," tambahnya.
Harga yang ia tetapkan bervariasi, mulai dari harga terendah Rp 100 ribu sampai yang termahal. Biasanya yang paling mahal disesuaikan dengan kesepakatan dengan customer. "Biasanya disesuaikan dengan keinginan pelanggan, tapi tetap saya menekankan kualitas, agar pelanggan bisa order lagi," tegasnya.
Proses untuk merias itu biasanya membutuhkan waktu 30 menit bahkan sampai dua jam, tergantung jenis riasan. Kalau make-up sanggul/hairdo itu 45 menitan, kalau untuk graduation/wisuda sampai satu jam. "Untuk upacara keagamaan, misalnya untuk tunangan bisa sampai dua jam. Karena kalau make-up harus detail agar pelanggan puas tentunya, dan yang pasti tidak luntur kalau kena keringat atau air," bebernya.
Karena sepinya orderan, Desak Lia mau tidak mau beralih ke bisnis yang lain yang bisa ia kerjakan dari rumah.
Editor : Nyoman Suarna