TABANAN, BALI EXPRESS - Beberapa tahun belakangan ini ternak ayam aduan impor jadi tren. Namun, semenjak pandemi Covid-19, penjualan ayam aduan impor menurun drastis hingga membuat peternak rugi puluhan juta rupiah.
Seperti halnya yang dialami salah seorang peternak ayam aduan impor di Banjar Mengesta, Desa Mengesta, Kecamatan Penebel, Tabanan, yang juga Camat Pupuan, I Gede Hendra Manik Mastawa.
Dikatakan I Gede Hendra Manik Mastawa, sebelum pandemi Covid-19, dalam satu bulan bisa menjual 10 hingga 15 ekor ayam dengan meraup omzet Rp 30 Juta hingga Rp 40 Juta. Namun, sejak pandemi Covid-19, penjualan ayam per bulannya menurun drastis.
Bahkan, pernah tidak ada seekor ayam pun yang terjual. "Seperti di awal-awal pandemi itu penjualan 0, bulan Agustus juga 0, kalau bulan September ada yang laku beberapa, dan ada pemasukan Rp 27 Juta," ujarnya, Kamis (22/10).
Padahal, dalam satu bulan, ia harus menghabiskan uang mencapai Rp 12 Juta untuk pakan ayam serta vaksin, vitamin dan kalium. Namun, di masa pandemi ini ia terpaksa mengurangi populasi ayam, sehingga biaya tersebut bisa ditekan setengahnya. "Biasanya kita jual yang umurnya 5 bulan sampai 1 tahun, tapi sejak pandemi sulit sekali laku," tukasnya.
Ia menceritakan awal mula beternak ayam aduan impor, karena sang ayah yang penghobi ayam sejak lama. Di tahun 2008 sang ayah I Nyoman Suteja mulai memelihara ayam Madenan, kemudian di tahun 2010 mulai impor ayam dari Filipina.
Namun tiba-tiba sang ayah jatuh sakit, hingga tak berani keluar rumah, tidak mau bertemu orang banyak hingga takut naik mobil maupun sepeda motor. "Setelah dicek ke rumah sakit ternyata ada masalah di jantung, dan tahun 2014 akhirnya ayah saya operasi jantung," tuturnya.
Dua hari setelah operasi berlalu, ia pun mengajak sang ayah untuk membuat kandang ayam, mengingat ayahnya sangat gemar memelihara ayam. Dan, sungguh sebuah keajaiban, sejak saat itu kondisi sang ayah semakin membaik.
Ayahnya mulai berani bertemu orang-orang, bahkan berani naik kendaraan, dan sehat hingga saat ini. "Waktu ayah saya sakit, saya yang menggantikan untuk memberi makan ayamnya setiap hari. Jadi lama-lama saya mulai tertarik, sampai di tahun 2014 muncul ide untuk pengembangan ayam impor ini, akhirnya coba impor ayam dari Amerika. Dan kebetulan pengembangan ini membuat ayah saya pulih dari sakitnya, bisa dikatakan ini terapi ayam," paparnya.
Jenis ayam yang dimpor dari Amerika mulai dari Black Mamba, Black Bonansa, Black Martkle, hingga Black Grey. Sedangkan jenis ayam yang dimpor dari Filipina seperti Domhart, Grey Hart, Sweater, hingga Black Sambuaga, dan Spangle.
Hendra Manik rela merogoh kocek cukup dalam untuk memulai pengembangan ayam aduan impor tersebut mencapai Rp 1,4 Miliar.
Dan, setelah berjalan, kini pengembangan ayam aduan impor yang dilakoninya dikenal banyak penghobi ayam di Nusantara.
Di peternakan seluas 25 are, kini Hendra Manik memelihara 19 ekor induk jantan dan 24 ekor induk betina. Dengan anakan yang sudah siap jual sekitar 70 ekor serta yang masih diumbaran sekitar 100 ekor. Sehingga total ayam di peternakannya mencapai 300 ekor.
Menurutnya, perawatan ayam di peternakannya memang membutuhkan penanganan khusus, mulai dari tahap pengeraman, penetasan, dan lainnya. Untuk menjaga kesehatan ayam-ayamnya, Hendra Manik rutin melakukan vaksinasi pada usia ayam 3 hari dan 21 hari.
Selain itu, juga rutin diberikan vitamin dan kalsium. Kebersihan ayam juga harus dijaga dengan rajin dimandikan. "Apalagi kalau cuaca ekstrem harus benar-benar diperhatikan, obat cacing juga rutin 3 bulan sekali," paparnya.
Kualitas ayam ternakannya yang cukup unggul pun membuat pembeli datang dari berbagai wilayah di Nusantara, bahkan luar negeri seperti Malaysia dan Timor Leste, meskipun pemasaran yang ia lakukan hanya sebatas melalui media sosial Facebook.
Untuk di Nusantara ia sudah pernah mengirim ke Manokwari, Sorong, Papua, Makassar, Palembang, Gorontalo, Manado, hingga Madura. Sedangkan untuk di Bali pembeli datang dari Karangasem, Tabanan, Ubud, Sukawati dan sekitarnya.
Untuk harga bervariasi tergantung jenis ayam, mulai dari Rp 1,5 Juta hingga Rp 6 Juta. "Tapi sekarang harganya sudah banyak berubah karena peternak ayam aduan impor di Bali kini sudah banyak dan menawarkan harga bersaing," lanjut mantan Camat Penebel yang sejak tahun 2017 menjabat sebagai Camat Pupuan tersebut.
Alumni IPDN Mataram tahun 1998 ini hanya dibantu keluarganya memelihara ayam. Termasuk kedua orang tuanya yang memberi makan pada pagi hari karena pagi harus kerja.
Lantaran mengembangkan ayam impor, pria kelahiran 8 Januari 1976 itu membuat kandang dengan style Amerika. Yakni kandang berbentuk segitiga dalam ukuran kecil dan tidak terlalu tinggi. Ayam pun bisa langsung menyentuh tanah. "Ayam umur 6 bulan sudah bisa diikat di kandang ayam tipe ini," tandasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya