GIANYAR, BALI EXPRESS - Sentra produksi Jaja Uli yang ada di Banjar Batur Sari, Kelurahan Bitera, Kecamatan/Kabupaten Gianyar, mencoba tetap bertahan di masa pandemi Covid-19.
Bendesa Adat Batur Sari, Dewa Nyoman Gede, menjelaskan bahwa 95 persen warga Banjar Batur Sari menggantungkan hidupnya dari memproduksi Jaja Uli. Dimana Banjar Batur Sari memiliki 87 KK dengan satu desa adat. Sehingga produk Jaje Uli Batur Sari kini dengan mudah ditemui di sejumlah pasar tradisional.
Pembuatan Jaja Uli di Banjar Batur Sari sendiri telah berkembang sejak tahun 1960. Dimana hal itu tidak bisa lepas dari potensi yang dimiliki desa setempat berupa keberadaan pohon kelapa. "Kalau dihitung sudah sekitar 60 tahunan. Saya ingat waktu saya kecil, ibu saya sudah membuat Jaja Uli disini," ungkapnya Minggu (9/5).
Didampingi Kelian Dinas Batur Sari, I Wayan Darmawan, dirinya menyebutkan jika seiring berjalannya waktu, para pembuat Jaje Uli mulai berinovasi. Terlebih di masa pandemi seperti saat ini mereka harus bisa bertahan. Diantaranya dengan memotong Jaja Uli menggunan mesin, alias tidak lagi memotong secara manual.
"Sekarang ini memotong jajannya sudah pakai mesin. Kalau dulu masih memotong manual pakai tangan. Hanya saja tidak semua warga pakai mesin, ada beberapa warga yang tidak menggunakannya atau masih manual," sebutnya.
Lebih lanjut dirinya mengatakan jika untuk pemasaran produk, para pembuatan Jaja Uli ini dibantu oleh sejumlah pengepul. Ada juga yang menitipkan di warung-warung, mulai dari Desa Beng, Batubulan, Bedulu, hingha wilayah Denpasar dan Badung. Namun saat ini masih belum harga standar harga untuk warga. "Sehingga kedepan encana akan ditata lebih lanjut dalam Bupda desa adat soal standar harga," tandasnya.
Sementara itu, salah seorang warga pembuat Jaja Uli di Banjar Batur Sari, Ni Nengah Suarni, 40, mengatakan jika dirinya sudah hampir 20 tahun menggeluti usaha Jaja Uli. Ia pun memilih bertahan dengan cara manual dalam proses pemotongan jaja uli yang dibuatnya.
Dalam sehari dirinya bisa mengolah 15 kilogram bahan. Sedangkan saat hari raya dirinya bisa mengolah lebih banyak bahan. "Saya buat ada 4 ukuran, yautu kecil, sedang, tanggung, besar. Harganya bervariasi," ungkapnya.
Ditambahkannya jika kendala yang sering kali dihadapinya adalah cuaca. Mengingat jaje uli yang sudah dipotong harus dijemur agar kering dengan bantuan cahaya matahari. Terlebih dirinya tidak memiliki oven.
Berkat produksi Jaja Uli nya tersebut, ia pun mengaku bisa menyekolahkan anaknya, bahkan sampai ke perguruan tinggi. "Tetap bersyukur ada usaha ini, suami saya yang dulu kerja di villa sekarang bantu membuat jaja uli juga karena dirumahkan akibat Covid-19," paparnya.
Ia pun tak menamfik jika selama pandemi covid-19, pesanan Jaja Uli sempat menurun lantaran adabpembatasan upacara adat. "Tapi sekarang syukur baru mulai lagi ada pesanan," tandasnya.
Editor : Nyoman Suarna