Struktur tanam dengan metode terasering itu terlihat apik. Deretan pohon buah naga membentang dari selatan hingga ke utara. Lahan itu milik Wayan Kantra. Belakangan pohon buah naga juga dikembangkan oleh warga lainnya di Desa Bulian.
Berdiri di atas dataran tanah yang subur membuat Desa Bulian memiliki potensi yang sangat menjanjikan untuk perkebunan buah. Dalam sekali panen lahan tersebut menghasilkan puluhan ribu ton buah naga. Jumlah itu terhitung dengan hasil panen pada setiap hektare kebun yang mencapai ratusan ton. Hasil panen tersebut dikirimkan ke seluruh Bali, juga daerah lain di Indonesia.
Perbekel Desa Bulian Made Sudirsa saat dikonfirmasi, Jumat, (6/1), mengatakan budidaya buah naga di desanya bermula sejak tahun 2004. Budidaya buah naga dipelopori oleh seorang petani bernama Wayan Kantra. Potensi yang menjanjikan dari budidaya buah naga itu kemudian diikuti oleh masyarakat lainnya di Desa Bulian.
Budidaya buah naga sangat cocok di Desa Bulian. Tidak hanya karena tanahnya yang tergolong subur untuk budidaya tanaman buah, namun prospek dari tanaman buah naga itupun sangat menjanjikan.
Usia pohon buah naga dapat mencapai 15 tahun, selama itu petani dapat melaksanakan panen minimal setiap satu tahun sekali. Ketersediaan air di Desa Bulian juga cukup untuk mengairi perkebunan.
Pengairan diatur pada setiap kelompok petani, sehingga pemberian air bisa sesuai dengan kebutuhan. “Sudah bisa diatur, kapan perlu disiram untuk pembuahan, dan kapan perlu disiram untuk penguatan batang,” jelasnya.
Hingga kini terdapat 25 kelompok petani yang membudidayakan buah naga pada lahan seluas 50 hektare di Desa Bulian. Masyarakat memasok buah naga ke seluruh pasar tradisional maupun toko buah yang ada di Bali. Namun, dirinya tidak menampik pemasaran ke daerah di luar Bali juga dilakukan. “Pada periode tertentu kami juga kirim ke Jawa dan Lombok,” imbuhnya.
Desa Bulian merupakan sentra produksi buah naga di Bali, sedangkan pada daerah lain bersaing dengan Banyuwangi. Namun, dari segi rasa pihaknya yakin untuk bersaing. Untuk itu, dukungan penuh diberikan oleh Pemerintah Desa Bulian bersinergi dengan pemerintah daerah kepada masyarakat petani buah naga.
Di sisi lain, petani buah naga, Wayan Kantra menyebutkan semua prosesnya dilakukan secara organik. Pemupukannya pun menggunakan pupuk kandang. Pemeliharaan dengan pupuk kandang memang dirasa cukup murah. Hanya saja petani harus telaten agar tanaman tidak terserang hama. "Dari operasional memang lebih murah. Kalau hama biasanya sih semut," terangnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya