Dirintis sejak 2014, Kopi Dadong tak hanya beredar di Bali, namun juga beberapa daerah di luar Pulau Dewata. Bahkan sempat ekspor. “Kalau kopi bubuk di seputaran Bali saja. Green bean baru ke Jakarta, Bandung. Paling banyak itu Jakarta,” kata Dewa Ayu kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Selasa (24/5).
Dalam sebulan, Dewa Ayu mampu menjual rata-rata 100-500 kilogram (kg) green bean. Untuk penjualannya, Kopi Dadong sudah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan. Namun demikian, melebarkan sayap pemasaran terus dilakukan seperti memanfaatkan pertemanan, jejaring sosial, termasuk mulai merambah pasar online atau marketplace. “Saya baru buka di Tokopedia saja, tapi belum menampilkan produk, barang belum jadi,” akunya.
Untuk transaksi, ia biasa menggunakan aplikasi keuangan BRI yaitu BRImo. “Iya kalau transaksi lebih banyak transfer, saya pakai BRImo lebih simpel,” jelas perempuan berusia 41 tahun itu.
Dewa Ayu mengungkapkan, kopi yang diolah ini merupakan hasil panen petani di sekitar desa setempat. Dewa Ayu langsung membeli kopi petik merah dari petani. Mengingat panen kopi 1 tahun sekali, maka saat musim panen harus membeli dalam jumlah banyak. Itu dipakai stok agar saat tidak ada panen, permintaan green bean dan kopi bubuk tetap terlayani. “Makanya perlu biaya besar,” ungkapnya.
Di sinilah Dewa Ayu menyadari pentingnya bantuan permodalan dan perbankan. Dewa Ayu tercatat sebagai nasabah BRI sejak 2018. Saat ini dia merupakan nasabah kredit modal kerja BRI. “Susah kalau tidak ada pinjam dana dari bank karena perlu biaya untuk beli kopi saat musim panen,” jelasnya.
Ia memilih salah satu bank himbara itu karena dinilai tidak ribet. Awalnya Dewa Ayu merupakan nasabah BRI Unit Catur, tapi kini sudah menjadi nasabah BRI Cabang Bangli karena plafon kredit mencapai ratusan juta rupiah.
Regional CEO BRI Denpasar Recky Plangiten mengatakan bahwa BRI memberikan pendampingan, pelatihan, membuat program dan produk untuk akselerasi digitalisasi UMKM. “Salah satunya program Brilian Preneur untuk pendampingan dan pelatihan nasabah UMKM dari proses penggunaan produk produk digital BRI, pelatihan manajemen usaha, sampai dengan menyertakan nasabah dalam pameran UMKM di JCC sehingga dapat memperluas pasar nasabah UMKM,” katanya.
Sedangkan untuk digitalisasi nasabah UMKM di pasar tradisional, BRI menggunakan platform pasar.id, dengan memfasilitasi seluruh pedagang pasar di Indonesia untuk melakukan aktivitas jual beli secara digital. (wan) Editor : I Putu Suyatra