Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Petani di Bali Olah Kopi Arabika Jadi Arak, Prosesnya Tidak Ribet

I Made Mertawan • Selasa, 15 Agustus 2023 | 15:00 WIB
Arak kopi hasil olahan Kelompok Tirta Kauripan, Desa Awan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali.
Arak kopi hasil olahan Kelompok Tirta Kauripan, Desa Awan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali.

BANGLI, BALI EXPRESS- Minuman beralkohol berupa arak, tentu bukan hal asing di Bali. Tak sulit menemukan tempat pembuatan arak di Pulau Dewata. 

Arak di Bali tidak hanya terbuat dari hasil destilasi atau penyulingan nira kelapa maupun enau. Belakangan ini, sudah banyak masyarakat Bali yang berinovasi dalam hal membuat arak.

Seperti yang dilakukan Kelompok Tirta Kauripan, Desa Awan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali.  Kelompok yang terdiri sejumlah petani ini mulai mengembangkan arak dengan bahan utama kopi arabika.

Sebelumnya, Kelompok Tirta Kauripan sukses mengolah jeruk siem menjadi arak. Namanya arak jeruk.

“Sekarang arak kopi. Bahan utamanya kopi arabika,” kata Konsultan Kelompok Tirta Kauripan I Made Parnawa.  

Kelompok itu baru mulai mengembangkan arak kopi sejak sekitar tiga bulan lalu. Namun ternyata sudah bisa diterima di pasaran.

Tak hanya di Bali, para penikmat arak di luar Bali mulai memesan arak kopi. Tidak jauh berbeda dengan arak jeruk yang sudah dinikmati di berbagai daerah di Indonesia.

“Arak kopi sudah pernah kirim ke Dompu, Bekasi,” kata Parnawa.

Bagaimana rasanya?  Parnawa membandingkan dengan arak jeruk buatan Kelompok Tirta Kauripan.

“Lebih lembut (arak kopi,Red), arak jeruk di tenggorokan agak pahit,” ungkap Parnawa. 

Arak kopi, lanjut Parnawa dijual tergantung kemasan, yakni Rp75 ribu sampai Rp130 ribu. Saat ini, kelompok ini baru membuat arak kopi original. “Mungkin nanti ada variannya,” jelas Parnawa.

Pria asal Desa Awan ini menuturkan, kelompok itu akhirnya mengembangkan arak kopi karena melihat hasil panen melimpah.

Seperti diketahui, selain jeruk, masyarakat Kintamani pada umumnya memang dikenal dengan penghasil kopi.

Kopi Kintamani sudah banyak diolah menjadi bubuk, green bean, roasted bean dan lainnya. “Kami mulai mengolah menjadi arak,” jelas Parnawa.

Kopi yang diolah menjadi arak ini adalah kopi arabika hasil panen sejumlah petani di Desa Awan, mengingat produksi masih terbatas.

Proses kopi jadi arak ini diakuinya tidak ribet. Hampir sama dengan pembuatan arak jeruk.

Kopi terlebih dahulu diolah menjadi bubuk. Baru dicampur air dan gula aren, lalu direbus dengan suhu sekitar 80-100 derajat celcius. “Selanjutnya dinginkan 24 jam,” kata Parnawa.

Proses selanjutnya adalah fermentasi sekitar 3 pekan. Baru kemudian prosesi penyulingan. “Jadi arak, kadar alkohol 35-38. Tergantung permintaan,” ungkap Parnawa. (*)

Editor : I Made Mertawan
#bali #arak kopi #bangli #kopi arabika #arak