Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jagung Mahal dan Langka, Peternak Ayam Petelur di Karangasem Bali Merugi

I Wayan Adi Prabawa • Selasa, 16 Januari 2024 | 14:59 WIB
Peternak ayam petelur di Desa Sebudi, Keamatan Selat, Karangasem, Bali saat berada di kandang ternaknya, Senin, 15 Januari 2024.
Peternak ayam petelur di Desa Sebudi, Keamatan Selat, Karangasem, Bali saat berada di kandang ternaknya, Senin, 15 Januari 2024.

KARANGASEM, BALI EXPRESS – Harga jagung untuk pakan ternak ayam petelur mengalami kenaikan.

Tak hanya mahal, jagung juga mulai langka. Kondisi ini membuat peternak ayam petelur di wilayah Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem menjadi bingung dalam mencari bahan pokok tersebut.

Hal itu diungkapkan salah satu peternak ayam petelur I Ketut Edi Santa, Senin, 15 Januari 2024.

Edi yang saat ini memelihara 3 ribu ekor ayam petelur hanya memiliki ketersediaan pakan sebanyak 300 kilogram jagung.

Jumlah tersebut hanya mencukupi satu hari saja. “Ini persediaan untuk hari ini saja, untuk besok tidak ada kalau tidak dapat membeli,” ujarnya.

Terlebih harga jagung saat ini sedang meroket,  1 kilogram mencapai Rp10 ribu. Itu pun belum diolah.

Kondisi ini dikatakan sudah terjadi sejak 1 bulan terakhir. Ia tidak bisa berbuat banyak dalam situasi seperti ini. “Asal bisa bertahan saja sudah bersyukur,” tandasnya.

Di balik meningkatnya harga jagung sekaligus sulit didapat, harga telur disebutkan mengalami penurunan.

Harga telur yang sebelumnya Rp38 ribu per tray, kini menjadi Rp34 ribu untuk telur jenis biasa.

Edi pun mengaku secara hitung-hitungan bisnis situasi seperti saat ini tidak bersahabat dengan para peternak.

“Kalau dihitung-hitung saya setiap hari merugi sekitar Rp85 ribu. Semoga situasi cepat membaik,” terangnya.

Kenaikan harga pakan juga diakui peternak lain, I Gede Rudi. Menurutnya harga saat ini sangat jauh peningkatannya dibanding sebelum-sebelumnya.

“Ini sangat jauh peningkatannya. Kalau sebelum-sebelumnya paling mahal di harga Rp7 ribu, sekarang Rp10 ribu,” imbuhnya.

Dirinya pun tak menampik jika dalam situasi seperti ini mengalami kerugian dalam beternak.

Bahkan untuk mengurangi kerugian, dirinya rela menyortir ayam yang masih produktif bertelur untuk di jual untuk menutupi biaya pengeluaran.

“Ini saya lakukan supaya meminimalisir kerugian,” pungkasnya. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #karangasem #peternak ayam #Ayam petelur #harga jagung