BALIEXPRESS.ID- Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Bali merupakan salah satu penggerak roda perekonomian Bali.
Namun demikian, sektor ini masih menghadapi berbagai tantangan dalam pengembangan usahanya, salah satunya adalah para pelaku belum maksimal dalam upaya mengelola keuangan.
Dalam kelas Mengelola Keuangan Secara Menyeluruh, dari Dompet ke Bisnis, Rista Zwestika Reni, CFP, seorang perencana keuangan yang telah tersertifikasi menyebutkan ada beberapa tips untuk mengelola keuangan dari dompet pribadi.
Langkah awal yang harus dilakukan adalah membuat rencana pergerakan uang yang dimiliki oleh pelaku usaha, mulai dari melakukan perencanaan jumlah modal usaha dan biaya lainnya.
Selanjutnya melakukan efisiensi, yakni mengurangi pengeluaran yang tidak perlu. Yang kedua adalah menentukan target.
Setelah rencana permodalan dan pemenuhan stok dilakukan, hal selanjutnya yang dilakukan adalah menentukan target penjualan dan perkiraan jumlah keuntungan yang didapat.
Hal ini bisa dilakukan dengan membuat keputusan bisnis yang lebih tepat, sehingga target penjualan produk bisa dilakukan dengan tepat dengan resiko yang kecil.
“Namun sebelum merencanakan keuangan bisnis, pastikan kita memisahkan keuangan bisnis dengan keuangan pribadi,” papar Rista Senin (9/12).
Sementara itu, Direktur Bisnis & Operasi Kredit Pintar, Kokko Cattaka, menyebutkan, Kelas Pintar Bersama merupakan inisiatif Kredit Pintar yang selaras dengan himbauan OJK bagi para pelaku usaha jasa keuangan (PUJK).
Tujuannya adalah untuk dapat berkolaborasi dan bersinergi dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan yang baik sehingga dapat memperluas dan membuka basis ekonomi baru di daerah.
“Dengan adanya akses keuangan masyarakat yang lebih luas, bertanggungjawab, dan produktif, maka diharapkan dapat mendukung meningkatnya kesejahteraan dan memperkuat pembangunan ekonomi nasional,” jelasnya.
Kredit Pintar sendiri adalah peer-to-peer (P2P) lending yang berizin OJK, yang sepanjang Januari hingga November 2024 Kredit Pintar telah membukukan penyaluran pinjaman hingga lebih dari Rp 6,5 triliun.
Dengan cakupan penyaluran untuk wilayah Provinsi Bali selama tahun 2024 mencapai Rp 151 miliar lebih.
“Dengan angka ini menjadikan provinsi Bali sebagai wilayah dengan penyaluran pinjaman terbesar ke-9 di Indonesia, kami optimis pertumbuhan geliat ekonomi akan semakin tumbuh positif,” tambahnya.
Editor : IGA Kusuma Yoni