BALIEXPRESS.ID – Potret ekonomi Bali 2024 menunjukkan pertumbuhan positif, namun tantangan mendesak terkait diversifikasi ekonomi menjadi sorotan.
Dalam talkshow yang digelar Bisnis Indonesia bertajuk Outlook Ekonomi Bali: Potret 2024 dan Proyeksi 2025 yang berlangsung di Prime Plaza Hotel Sanur, Selasa (10/12), para ahli sepakat perlunya strategi ekonomi untuk mengatasi ketimpangan pembangunan antara Bali Utara dan Bali Selatan.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Gusti Agung Diah Utari, menegaskan pentingnya diversifikasi sumber pembiayaan melalui penerbitan obligasi daerah.
Baca Juga: Kisah Ibu yang Buang Mayat Bayi di Sading, Tinggalkan Surat Isinya Menyayat Hati
Menurutnya, pembiayaan pembangunan tidak bisa hanya mengandalkan APBN dan APBD.
"Ketentuan terkait obligasi daerah sebenarnya sudah ada di Kementerian Keuangan. Kami menyarankan agar Bali melakukan shadow rating terlebih dahulu untuk mengetahui kemampuan pembayaran pemerintah provinsi," ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya hilirisasi pertanian untuk mendukung ekonomi Bali.
Baca Juga: Kronologi Penemuan Mayat Bayi Perempuan dalam Tas Belanja di Sading Badung
"Hilirisasi pertanian, seperti produk pangan lokal, perlu didorong. Kami berharap pembiayaan sektor pertanian, baik di sisi hulu maupun hilir, bisa lebih didukung oleh pemerintah dan perbankan," tambahnya.
Sementara itu, Fungsional Bappeda Bali, Ida Bagus Putrayasa, mengungkapkan bahwa struktur ekonomi Bali masih sangat bergantung pada sektor tersier, terutama pariwisata, yang menyumbang 56,78% terhadap perekonomian.
Sektor primer, seperti pertanian, hanya menyumbang 24%.
"Transformasi ekonomi Bali harus menyeimbangkan struktur ekonomi dan memanfaatkan potensi sumber daya lokal, seperti pertanian dan kelautan, untuk mengurangi ketergantungan pada pariwisata," katanya.
Putrayasa menambahkan, prioritas pembangunan Bali ke depan mencakup pertanian, kelautan, UMKM, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.
"Tema pembangunan Bali tahun 2025 adalah pemantapan transformasi ekonomi yang hijau, tangguh, dan sejahtera," jelasnya.
Baca Juga: Berangus Judol, Siber Polda Bali Takedown dan Blokir 2066 Situs pada 2024
Pengamat Ekonomi Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas), Ida Bagus Raka Suardana, menekankan pentingnya optimalisasi investasi untuk pertumbuhan ekonomi.
"Kepastian politik dengan adanya pemerintahan baru akan mendorong investasi, terutama di sektor konstruksi yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Bali pada 2025 berada di kisaran 5%-5,8%.
Baca Juga: Marak Kendaraan Plat Luar, Nyoman Parta Usulkan Ganti Plat DK Usai 6 Bulan Beroperasi
Namun, para narasumber sepakat bahwa Bali harus memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat sektor primer dan sekunder agar pembangunan lebih merata di seluruh wilayah.(***)
Editor : Rika Riyanti