Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jimbaran Hijau Mengedepankan Gerakan Cultural Integrity dan Authentic Community di Ideafest 2025

Putu Resa Kertawedangga • Selasa, 4 November 2025 | 21:22 WIB

CEO Jimbaran Hijau, Dr. Putu Agung Prianta (kiri) saat menjadi pembicara Ideafest 2025, di JCC Senayan.
CEO Jimbaran Hijau, Dr. Putu Agung Prianta (kiri) saat menjadi pembicara Ideafest 2025, di JCC Senayan.

BALIEXPRESS.ID - Ideafest 2025 yang mempertemukan berbagai macam thought leaders dari penjuru negara telah berlangsung pada 31 Oktober - 2 November 2025, di JCC Senayan.

Talkshow premier tersebut mengangkat tema Cultivate The Culture ini menjadi platform kritis dalam membentuk gagasan-gagasan yang baik bagi masa depan.

Dalam salah satu forumnya, Jimbaran Hijau beserta Jimbaran Hub sebagai pusat kegiatan kebudayaannya, menegaskan visi dan posisi mereka sebagai gerakan proaktif untuk kemajuan/progres yang berkelanjutan dan culturally-grounded.

Baca Juga: BRI Sukses Gaet 13,6 Juta Pelaku Usaha Lewat LinkUMKM: UMKM Naik Kelas Bukan Mimpi Lagi!

Kepemimpinan Jimbaran Hijau tampil cemerlang dalam dua sesi penting yang membedah esensi dari pengembangan atau development di era modern.

Sesi pertama, bertajuk Building Space ≠ Building Community: How to Build for Belonging mengundang Mahanugra Kinzana, Head of Business & Commercial Jimbaran Hijau, untuk membicarakan spacemaking bersama dengan Popo (CEO Mbloc Space), Asa (CEO Samsara Group), dan Metta Setiandi (founder The Met Glodok).

Dalam dialog yang mengeksplor cara mengubah ruang-ruang fisik menjadi ekosistem yang hidup, Mahanugra memfokuskan perbincangannya pada bagaimana Jimbaran Hub menghidupi dan dihidupi oleh komunitas warga di sekitarnya, utamanya dalam konteks Bali beserta tantangan pariwisatanya.

Baca Juga: Meriahkan HUT Ke-16 Mangupura, Pemkab Badung Gelar Turnamen Mini Soccer Antar OPD

Nugra sapaan akrab dari Head of Business & Commercial Jimbaran Hijau, menyampaikan tentang tantangan dan peluang dalam mendirikan komunitas genuine yang tumbuh dan besar di tengah-tengah hotspot pariwisata global.

“Sebuah ruang akan menjadi komunitas jika koneksi yang otentik itu dirawat. Kami membangun ekosistem kreatif dan entrepeneurial dengan menghubungkan inovasi lokal dengan jaringan global, sembari melestarikan nilai-nilai utama dari pulau kami. Pertanyaannya bukan bagaimana membangun ekosistem tersebut untuk warga, melainkan bersama warga, memastikan bahwa identitas lokal ini menguat via pertukaran global,” ujarnya.

Jimbaran Hub adalah contemporary village center yang hidup dengan detak gerakan kebudayaan.

Baca Juga: Nusa Penida Festival 2025 Tawarkan Konsep Baru, Dorong Wisatawan Lebih Lama Menikmati Indahnya Kepulauan

Secara aktif, ruang ini menciptakan rasa memiliki (belonging) melalui pengalaman terkurasi dan koneksi antarwarga.

Gerakan ini dirayakan tahunan oleh puncak pesta rakyat bertajuk Jimbafest, didukung oleh gabungan konferensi bisnis dan festival showcase industri musik internasional bernama AXEAN Festival, dan gelaran rutin komunitas di mana ekosistem dinamis di mana kultur lokal dan pertukaran global diciptakan dan hidup bersama.

Sesi kedua bertajuk Developing Bali in the Context of Culture, Future, Nature, menggali persimpangan kritis yang kini tengah dihadapi oleh pulau dewata.

CEO Jimbaran Hijau, Dr. Putu Agung Prianta, menawarkan perspektif penting pelaku industri dan developer di panel yang terdiri dari Prof. Darma Putra (founder Jurnal Kajian Bali dan Guru Besar Universitas Udayana), Maria Mutiara (founder The Rahayu Project), dan dimoderatori oleh Johan Tandoko (Direktur Eksekutif Makadaya Impact Center).

Diskusi tersebut membayangkan ulang masa depan Bali, sembari mencari gagasan agar pulau seribu pura ini dapat berevolusi tanpa harus mengorbankan esensi kultural dan alaminya.

Dr. Agung menyampaikan, sikap tegasnya terhadap development yang pesat namun menyeragamkan, sehingga beresiko menghapus karakter unik Bali.

Ia menyatakan, dasar falsafahnya yang menyambut kebutuhan kontemporer tanpa harus membahayakan otentisitas lokal.

“Kita harus menggugat ulang ide yang menganggap bahwa modernitas berarti menghapus tradisi. Modernitas bisa berpadu dengan nilai tradisi, kuncinya ada di menemukan balance-nya. Approach kami di Jimbaran Hijau adalah creating a sense of place, supaya Bali tetap terasa seperti di Bali,” paparnya.

“Kami melakukannya dengan mengadopsi dan mengintegrasikan vernacular architecture dan prinsip-prinsip filosofis Bali dalam development dan design kami. Kami adalah bukti bahwa progres dan cultural integrity bukanlah hal yang terpisah,” imbuhnya.

Jimbaran Hijau sendiri merupakan perwujudan dari filsafat ruang dalam rancang serta cipta lingkungan.

Development yang digarap oleh Jimbaran Hijau menunjukkan bahwa pengembangan menghormati identitas Bali melalui vernacular architecture, sebagaimana tampak dalam pengembangan Natadesa Resort Residence.

Selain itu, Jimbaran Hijau juga menjadi rumah bagi beragam ekspresi artistik melalui program rutin kesenian di lingkungannya, dengan mengajak komunitas dan warga seni Bali.

Sebagai kawasan, portofolio Jimbaran Hijau turut mendunia dengan adanya Raffles Bali, dengan standar wellness dan hospitality bertaraf global dan telah meraih dua Michelin Keys, membuktikan bahwa autentisitas dan excellence tidak dapat terpisahkan.

Keterlibatan Jimbaran Hijau dalam panggung Ideafest 2025 menegaskan posisinya sebagai thought leader dan penggagas gerakan yang didekasikan untuk sebuah model kemajuan yang lebih harmonis, budaya dirawat, koneksi dipelihara, dan development memperkaya semangat dan jiwa suatu tempat secara unik. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#IdeaFest #Jimbaran Hijau #talkshow