BALIEXPRESS.ID – Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) bergerak cepat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global. Penguatan dolar Amerika Serikat, volatilitas harga minyak dunia, serta meningkatnya ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor yang memicu gejolak pasar.
Langkah responsif ini dilakukan untuk memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga sekaligus mempertahankan kepercayaan pasar dan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih berada dalam fase ekspansi yang kuat. Pemerintah, menurutnya, terus berupaya menjaga daya beli masyarakat serta memastikan momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
“Ekonomi sedang ekspansi. Daya beli kami jaga mati-matian. Boro-boro krisis, resesi saja belum, melambat saja belum. Kita masih ekspansi, masih akselerasi,” ujar Purbaya.
Pengalaman Hadapi Krisis Jadi Modal Pemerintah
Purbaya menjelaskan, Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi berbagai gejolak ekonomi global. Pengalaman menghadapi Krisis Moneter Asia 1998, Krisis Keuangan Global 2008, hingga pandemi COVID-19 pada 2020 menjadi bekal penting bagi pemerintah dalam menyusun langkah mitigasi terhadap potensi tekanan ekonomi saat ini.
Menurutnya, fondasi ekonomi nasional masih cukup kuat karena ditopang oleh konsumsi domestik yang stabil, pengelolaan fiskal yang hati-hati, serta koordinasi yang solid antara pemerintah dan otoritas moneter.
Selain itu, pemerintah memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap menjadi instrumen utama untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Investor di pasar saham tidak perlu khawatir. Fondasi ekonomi dijaga dengan baik dan pemerintah memiliki pengalaman dalam menjaga momentum pertumbuhan di tengah tekanan global,” katanya.
Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah
Pemerintah juga menyiapkan langkah antisipatif terhadap potensi kenaikan harga energi global yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah. Dalam situasi tersebut, APBN akan difungsikan sebagai shock absorber atau peredam gejolak ekonomi apabila tekanan eksternal meningkat.
Koordinasi erat antara pemerintah dan Bank Indonesia dinilai menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Dengan fundamental ekonomi yang relatif kuat serta respons kebijakan yang cepat, Indonesia dinilai masih memiliki ruang yang cukup untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah. ***