Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dewari Swari Keluar dari Tradisi, Pentaskan Gebug Light-Bala Samar

I Putu Suyatra • Selasa, 29 Agustus 2017 | 16:55 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, DENPASAR - Dua pementasan mengisi Bali Mandara Mahalango, Minggu (27/8). Satu pementasan tradisi yaitu Prembon. Satu lagi pertunjukkan inovatif yang berani keluar dari ikatan tradisi. Pementasan itu dibawakan oleh komunitas Seni Dewari Swari dari Banjar Mijil dan Sanggar Seni Bawa Laksana, Banjar Mawang Kelod.


Koordinator Komunitas seni Dewari Swari dan Sekar, I Komang Kusuma Adi mengatakan bahwa  ide pertunjukkan inovatif ini  berawal dari tahun 2016. “Kami menampilkan seni tradisi gebug ende dalam konsep gelap. Karena selama ini seni tradisi Bali selalu dipentaskan di tempat terang. Maka kami mencoba menampilkan di tempat gelap seperti di pentas-pentas gemerlap dunia malam. Sehingga seni tradisi Bali dapat diterima oleh semua kalayak,” jelas Kusuma Adi.


Lebih lanjut dikatakan, anak-anak muda dari Br. Mijil, Sidemen ini membawakan pertunjukkan inovatif bertajuk Gebug Light-Bala Samar.


Secara garis besar pertunjukkan menampilkan empat garapan, yaitu tabuh kreasi, tabuh kreasi berkolaborasi dengan tari topeng eksprimental, seni akapela dan pementasan Gebug Light-Bala Samar  itu sendiri.


Kusuma Adi menambahkan, penampilan  mereka malam itu memamg benar-benar gelap. Semua lampu panggung dan gedung Ksirarnama, Taman Budaya, Denpasar dipadamkan. Hasilnya, pendar-pendar cahaya beraneka warna yang menyelimuti pakaian dan asesoris penari menjadi menonjol mengikuti gerak tarian yang berakar dari tradisi gebug ende.


“Kami memang sengaja mencoba sesuatu yang baru agar tidak bosan tetapi tetap berakar pada tradisi kami,”  tutur Kusuma Adi.


Keberanian anak-anak muda dari Komunitas Seni Dewari Swari dan Sekar dari Br. Mijil, Sidemen-Karangasem, keluar dari ikatan tradisi mendapat apresiasi dari penamat seni, Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST,MA.


“Saya apreasiasi karena mereka anak muda yang dikelilingi oleh tradisi yang kuat,  ingin mencoba membuat sesautu yang baru yang  keluar dari ikatan-ikatan tradisi. Itu adalah sebuah keberanian,” apresiasi Dibia.


Walaupun Dibia mengakui bahwa hasilnya masih relatif. Seperti soal kerapian dan keutuhan peruntujukan contohnya transisi yang masih lama sehingga pertunjukkan kurang padat. Contoh lain penghayatan dari karakter topeng yang berbeda tetapi diwujudkan dalam gerakyang sama oleh si penari dari awal sampai akhir. “Tetapi  tetap perlu diapresiasi karena keberanian mereka dalam melakukan inovasi keluar dari seni tradisi,” tegas Dibia.


Sementara, pada sore harinya  bertempat di kalangan Ratna Kanda tampil  Topeng Prembon. Sanggar Seni Bawa Laksana dari Br. Mawang Kelod, Lot Tunduh, Gianyar yang menampilkan Topeng Prembon dengan lakon Juru Boros Windu Sara.  Menurut penulis naskah lakon Juru Boros Windu Sara  Pande  Nyoman Arthawa, S.Sn, alasan mengangkat lakon ini terkait dengan zaman di Bali yang memasuki zaman kaliyuga. Zaman dimana mayoritas prilaku manusia buruk. “Maka orang-orang yang memiliki sifat baik, mereka akan pergi ke pegunungan untuk mencari tempat yang sepi karena kondisi tidak sesuai dengan dharma lagi,” jelas Arthawa.


Lakon ini menceritakan tentang kehidupan di sebuah Pasraman  Kacubung Asihan. Pesraman ini dipimpin oleh Bagawan Jaga Satru didampingi kedua putrinya, Ni Mirah Cempaka Putih dan Ni Mirah Cempaka Kuning. Mereka rajin berkebun dan memelihara di Pasramannya yang terletak di tengah hutan. Pendeta Jaga Satru sesungguhnya adalah seorang raja yang memilih meninggalkan kerajaannya untuk wanaprastha. Hal ini dilakukan lantaran Jaga Satru sudah tidak tahan dengan kondisi rakyatnya yang mulai serakah. “Hal inilah yang kemudian diwujudkan melalui sebuah garapan prembon dengan nuansa yang klasik,” tandasnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#tari bali #denpasar