BALI EXPRESS, SINGARAJA - Di seluruh Bali masih banyak terdapat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Diantara mereka masih ada yang diperlakukan tidak manusiawi, seperti disekap dan diborgol. Seperti dialami I Gede Rimkaya, 54, ODGJ asal Dusun Dauh Pangkung, Desa Umejero, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Seperti apa?
I Gede Rimkaya merupakan putra sulung dari I Nengah Adri, 65 dari dua bersaudara, yang menderita gangguan jiwa sejak tahun 1990-an. Karena sering mengamuk di rumahnya,oranmgtuanya akhirnya memasung, demi alasan keamanan.
Ketika Bali Express mengunjungi I Gede Rimkaya ke rumahnya,ia sedang berdiri sambil merokok. Rambutnya panjang dan memutih hingga sebahu. Badannya bongsor. Sepintas, sama sekali tak terlihat jika ia sedang mengalami gangguan jiwa. Namun setelah diamati dengan seksama, rupanya mulutnya tak pernah diam. Selalu komat-kamit.
Bahkan sesekali terdengar suara dengan nada tinggi tanda ia marah-marah tak jelas. Kedua kakinya dipasung dengan menggunakan besi yang direkatkan dengan baut. Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) I Nengah Adri menuturkan, Rimkaya mengalami gangguan kejiwaan akibat depresi. Malangnya lagi, setelah tahu Rimkaya menderita sakit kejiwaaanya , ia pun diceraikan oleh istrinya.
“Anak saya depresi, setelah itu langsung mengalami gangguan kejiwaan. Sempat saya ajak berobat ke RSJ Bangli. Tahunnya lupa, tapi setelah dirawat disana akhirnya dikembalikan lagi, ” ujar Nengah Adri sendu mengenang, Senin (13/11) kemarin.
Berbagai upaya dilakukan Nengah Adri demi kesembuhan anaknya. Tak hanya pengobatan medis saja ia tempuh. Pengobatan alternatif pun berusaha ia lakoni agar anaknya kembali waras. Anehnya, meski sudah mendatangi 27 orang paranormal, anaknya masih saja mengalami gangguan kejiwaan.
“Sampai 27 paranormal saya minta untuk mengobati. Tapi gagal. Akhirnya saya coba meminta kepada seorang tokoh spiritual melalui pengobatan Agni Hotra. Akhirnya ada perubahan, setidaknya sudah berhenti teriak-teriak,” bebernya.
Namun lantaran merasa tak nyaman dengan kondisi anaknya yang bisa saja kambuh sewaktu-waktu, Nengah Adri memutuskan untuk memasung anaknya, demi alasan keamanan. Ia minta keponakannya, Jro Putu Darmaya, 54 untuk membuatkan alat pasung, sejak 3 tahun silam.
Awalnya, alat pasungnya oleh Jro Putu Darmaya dibuat dari kayu. Namun karena terlalu besar dan berat, akhirnya diganti dengan rantai untuk diikat pada bagian tangan dan kaki. Tetapi merasa kasihan, kembali dibuatkan alat pasung baru yang terbuat dari besi, dan hanya dipasang pada bagian kaki saja. Sedangkan tangannya tidak diikat.
“Saya kasihan sebenarnya kalau dipasung. Tapi demi kemanan terpaksa. Takutnya sering keluar, trus mengganggu orang-orang,” beber Nengah Adri.
Meski dalam kondisi gangguan kejiwaan, untuk urusan makan dan minum, Gede Rimkaya masih bisa melakukan sendiri. Ia tak meski dilayani. Semua makanan dan minuman bisa diambilnya sendiri tanpa harus dilayani.“Tapi kalau membuat kopi, saya belum ijinkan. Takut dia lupa mematikan kompor” imbuhnya.
Ditanya terkait larangan pemasungan, Nengah Adri memang tak tahu jika memasung ODGJ itu dilarang. Tetapi apa boleh buat. Nengah Adri tak punya alasan lain. Ketakutan jika anaknya mengamuk membuatnya terpaksa melakukan pemasungan.
“Saya takut kalau dia dibiarkan bebas. Apalagi saya perempuan pasti kalah tenaga, suami saya sudah meninggal. Takutnya dia kambuh, terus mengambil senjata tajam atau barang berbahaya,” akunya.
Nengah Adri berharap jika anaknya bisa mendapatkan bantuan pengobatan sehingga kembali waras seperti sediakala. Apalagi ditengah keterbatasan ekonomi. Sebab, di usianya yang sudah renta harus menanggung anak dan seorang cucu (Putri Gede Rimkaya, Red). Praktis, untuk keprluan sehari-hari Nengah Adri hanya mengandalkan uang pensiunan dari almarhum suaminya.
“Kalau bisa kami berharap agar dibantu pengobatan. Karena tiang tidak bekerja, dan harus menanggung dua orang. Selama ini hanya mengandalkan uang pensiunan dari suami untuk menghidupi,” tuturnya.
Editor : I Putu Suyatra