BALI EXPRESS, SINGARAJA - Kasus perempuan pengidap gangguan jiwa yang melahirkan bayi di kamar mandi eks Pelabuhan Buleleng Kamis lalu (25/1) membuat siapapun yang masih warasa mengelus dada. Kok tega-teganya yang menghamili. Lantas, kini bagaimana nasib bayi yang dilahirkan Siti Muntamah, 35, tersebut?
Bayi lucu yang dilahirkan Muntamah tentu tak bisa memilih akan dilahirkan dari rahim siapa. Namun, bayi manapun di dunia ini tentu membutuhkan belaian kasih sayang ibu kandung. Sayang, menyerahkan bayi baru lahir kepada orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) seperti Muntamah jelas tidak mungkin. Bapaknya pun entah siapa. Hingga kini masih menjadi misteri.
Sejatinya, Muntamah masih punya keluarga dan sanak saudara. Usai ditemukan melahirkan bayi perempuan pada Kamis lalu, dia pun dijemput keluarganya. Sayang, pihak keluarga Muntamah tak kuasa merawat si bayi lantaran keterbatasan ekonomi.
Dan, garis nasib pun mengantarkan bayi Muntamah kepada Dinas Sosial Kabupaten Buleleng. Penyerahan secara simbolis dilakukan secara langsung oleh perwakilan keluarga kepada Dinas Sosial di hadapan Kapolsek Kota Singaraja, Kompol Agung Wiranata Kusuma, Jumat siang (26/1).
Dari pihak keluarga Siti Muntanmah diwakili oleh adiknya yang kedelapan, Susanti, 29, bersama saudaranya Kholifah. Sedangkan dari pihak Dinas Sosial diwakili oleh Kasi Kesejahteraan Lansia Dinas Sosial Niken Puji Astuti.
Dalam pertemuan yang berlangsung di Mapolsek Kota Singaraja ada beberapa kesepakatan yang dihasilkan, terkait penemuan bayi seberat 2,6 kg dan panjang 48 cm tersebut. Dari pihak keluarga (keluargaiIbu bayi, Red) menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah dalam hal ini Dinas Sosial Kabupaten Buleleng.
“Pertimbangan kami menyerahkan ke Dinas Sosial karena keterbatasan ekonomi. Karena semuanya sudah berkeluarga dan punya anak. Dari segi waktu juga kurang.Takutnya kan malah tidak diperhatikan bayinya,” ujar Susanti saat ditemui di Mapolsek Kota Singaraja.
Saat ditanya sejak kapan kakaknya, Siti Muntamah mengalami gangguan kejiwaan, Susanti menyebut kakaknya mengalami gangguan kejiwaan sejak bercerai dengan suaminya setahun lalu. Susanti menyebut, Muntamah sempat berkeluarga di Singaraja dan memiliki dua orang anak.
“Kalau gangguan kejiwaan itu sejak ia bercerai dari suaminya. Sekitar setahun lalu. Sering tidak nyambung saat diajak bicara. Sempat diajak ke dokter saraf, katanya sih depresi. Mungkin gara-gara pisah dengan suaminya,” imbuh Susanti
Lebih lanjut dikatakan Susanti jika kehamilan yang dialami kakaknya ini sebenarnya sudah ia ketahui. Bahkan beberapa kali Susanti sempat bertanya perihal siapa yang mengamilinya. “Tapi saat ditanya jawabnya selalu ketus. “Buat apa sih ngurusin masalah orang lain,” jawabnya sih sering begitu, makanya saya enggan jadinya,” ucap Susanti meniru ucapan kakaknya.
Kesehariannya, Susanti juga menyebut kakaknya sering berada di areal eks Pelabuhan Buleleng. Berkali-kali juga ia berusaha membujuknya untuk diajak pulang. Bahkan, ia kerap merayu dengan uang agar sang kakak berkenan pulang ke Seririt.
“Sebenarnya saya juga tak tahu mengapa dia suka ada di areal eks pelabuhan Buleleng. padahal kan rumahnya di Seririt, Jalan Diponegoro. Saya sering rayu diajak pulang, tapi kalau sudah sampai di rumah, biasanya balik lagi ke pelabuhan. Tujuannya kan biar bisa merawat kehamilannya,” akunya.
Sementara itu Niken Puji Astuti, selaku perwakilan dari Dinas Sosial menyebut bayi malang ini untuk sementara dirawat pihak Yayasan Mama Meta Magha di Jalan Gunung Agung, Denpasar. Sebab, sesuai mekanisme, sang bayi wajib dirawat minimal setahun sebelum adopsi.
“Dinas sosial bekerjasama dengan yayasan untuk bayi yang terlantar. Nanti tetap dirawat selama setahun dulu sebelum diadopsi. Setelah ada yang mau mengadopsi baru berkordinasi dengan Dinsos, karena ada beberapa persyaratan yang dipenuhi,” ujar Niken.
Terkait pembiayaan di RSUD Buleleng, Niken menyebut semua biaya saat menjalani perawatan ditanggung pihak yayasan. Niken menyebut, syarat utama bila ada yang mengadopsi bayi tersebut adalah minimal tidak punya anak dalam masa pernikahannya dan memiliki ekonomi yang mapan.
“Biayanya semua ditanggung pihak yayasan. Nanti setelah boleh pulang, bayi dibawa ke yayasan dulu. Nanti proses adopsinya kami pasti selektif. Minimal syarat orang yang mau mengadopsi adalah mereka tidak punya anak. Karena kan berkaitan dengan ahli waris nantinya. Selain itu juga harus mapan secara ekonomi dan siap mengadopsi dengan ikhlas. Jangan sampai setelah diadopsi hidup bayi terlantar” imbuhnya.
Sementara itu Kapolsek Kota Singaraja Kompol Anak Agung Wiranata Kusuma menyebut pihaknya hanya sebagai mediasi dalam kasus ini. Selanjutnya setelah diserahkan pihak keluarga, Dinsos yang memiliki kewenangan untuk bertindak lebih jauh.“Pihak keluarga menyerahkan kepada pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Sosial, sehingga ada yang merawat bayi ini.” ujarnya
Disinggung terkait kondisi Muntamah, Kompol Wiranata menyebut jika sebenarnya sudah dibawa pulang ke Seririt, hanya saja lantaran gangguan jiwa, Muntamah balik kucing ke eks Pelabuhan Buleleng.“Kita sudah bawa ibu itu ke rumah sakit, tapi kabur lagi. Dokter ditendang, karena mengalami gangguan kejiwaan. Informasi sekarang dia ada di Pelabuhan Buleleng setelah sempat diajak pulang ke Seririt,” terangnya.
Bahkan pihaknya menyebut jika anggota kepolisian sedang melakukan penelusuran untuk mengetahui siapa yang menghamili Muntamah. “Kami lakukan penelusuran secara manual, siapa yang menghamili Ibu ini. karena kesehariannya sering berada di eks pelabuhan Buleleng. Jadi kita telusuri secara manual dulu, sebelum mengarah ke tes DNA,” ujar kompol Wiranata.
Di tempat terpisah kondisi bayi yang kini dirawat di rumah sakit berangsur-angsur membaik. Kasubag Humas RSUD Buleleng, Ketut Budiantara saat ditemui di ruang NICU pada Jumat (26/1) mengatakan, bayi Muntamah sempat dirawat di dalam inkubator untuk memulihkan suhu tubuhnya.
Namun kini suhu tubuh bayi tersebut sudah dinyatakan normal, dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. "Saat diterima suhu tubuh bayi 32.9 derajat. Sekarang sudah normal, yakni 36,8 derajat," katanya.
Sementara untuk ibu maupun keluarga dari bayi tersebut sejauh ini diakui Budiantara belum datang ke RSUD Buleleng untuk menjenguk. "Yang datang menjenguk hanya pihak kepolisian, beberapa yayasan, dan si penanggung jawab bayi (orang yang pertama kali menemukan bayi,red). Ada beberapa yayasan yang datang membawa sejumlah bingkisan untuk bayi itu," ujarnya.
Editor : I Putu Suyatra