BALI EXPRESS, TABANAN - Kendala yang paling sering dihadapi selama tiga tahun mengkonservasi burung hantu adalah soal pakan. Tikus sawah harus selalu tersedia dalam keadaan segar. Harus tikus sawah. Tidak boleh yang lainnya. Karena ini ada sangkut pautnya dengan naluri berburu si burung saat dewasa nantinya.
Dalam berapa hari terakhir, I Made Jonita alias Dek Enjoy, salah satu dedengkot Kelompok TuwuT (Tyto Alba Umawali untuk Tani) di Banjar Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan, ini mengaku sering pulang agak malam dari berburu tikus sawah. Begitu juga pada Sabtu (24/3) yang lalu. Dia harus mendapatkan paling tidak delapan ekor tikus sawah sebagai pakan burung hantu yang dikonservasi kelompoknya malam itu.
Sambil menyudahi makan malamnya lalu membasuh tangan, Dek Enjoy bercerita tentang perburuannya hari itu. Dia mengaku agak alot memburu tikus dengan target yang sekian banyak itu. Menunggu tikus-tikus buruan keluar dari persembunyiannya perlu kesabaran.
“Kemarin-kemarin bisa kurang dari itu (delapan ekor). Sekarang ini lagi sedang beranak. Kebutuhan pakannya jadi bertambah. Makanannya juga harus tikus sawah. Jadi begitu dewasa nanti, naluri mereka untuk memburu tikus sawah sudah terlatih. Kalau dikasih tikus putih, mungkin akan repot nantinya,” kata Dek Enjoy.
Kenapa tidak berburu sekalian kemudian distok? Menurutnya, pakan untuk burung hantu tidak bisa distok. Harus segar.
Sekarang ini, di dalam kandang konservasi yang dimiliki Dek Enjoy, ada lima ekor indukan burung hantu. Itu ditambah lagi dengan dua ekor anakan yang belum lama ini menetas.
Tidak jauh dari kandang konservasi, ada satu rubuha (rumah burung hantu) yang ditempati satu ekor burung dengan enam ekor anakan yang lebih awal menetas.
“Total di tempat konservasi ada lima indukan dan delapan anakan. Kalau di rubuha yang terpancang di sawah-sawah sepertinya ada lagi tiga ekor anakan. Kami belum sempat periksa satu persatu,” jelasnya.
Dengan jumlah burung yang ada di tempat konservasi saat ini, kebutuhan pakan tidak bisa ditawar-tawar jumlahnya. Apalagi untuk anakannya. Karena itu syarat utama agar anakan burung hantu itu bisa tumbuh dengan baik.
Dek Enjoy sendiri mengaku sudah empat kali mengubur burung hantu liar atau yang dilepasliarkan. Penyebab kematiannya macam-macam. Dia menduga ada yang belum cukup umur memaksakan diri untuk terbang. Kemudian dia tidak bisa balik lagi ke sarang dan akhirnya kesulitan cari makanan sendiri.
“Apalagi yang baru bisa terbang. Dianya susah cari makan. Induknya juga susah memberi makan,” beber Dek Enjoy.
Kondisi itu dia ketahui karena ada beberapa petani juga yang membawa bangkai burung hantu ke tempatnya. Beberapa ada yang masih hidup. Sehingga secepatnya diberikan pertolongan.
Sayangnya, tidak sedikit juga burung hantu yang kondisinya sakit itu dalam keadaan kritis. Sehingga dalam masa pengobatan dia mati.
Lain halnya yang ada di dalam karantina. Pertumbuhannya akan lebih mudah terpantau. Atau, burung-burung yang menempati rubuha di sekitaran Subak Ganggangan.
Untuk memantau anakan yang lahir di sekitar Subak Ganggangan atau di tempat konservasi, dirinya terkadang memakai bambu yang di ujung atasnya diisi ponsel. Berbekal fitur video pada ponsel itulah, dia mengamati dan mengevaluasi jumlah maupun kondisi anakan burung hantu.
“Harusnya pakai tongsis. Tapi, rata-rata panjang tongsis relatif pendek, kami siasati pakai bambu. Makanya kami sebut bambusis,” ujarnya dengan tawa yang terkekeh.
Meski begitu, semangat kelompok TuwuT untuk terus mengembangkan predator alami ini. Sehingga hasil produksi pertanian para petani bisa diselamatkan pada saat musim panen. Sehingga, Balai Pelestarian Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Wilayah Timur yang berkantor di Malang, Jawa Timur, mengakui kegiatan TuwuT terhitung yang paling berhasil dan menonjol. Tidak hanya di Bali, tapi dalam regional Indonesia Timur.
Bahkan, aktivitas kelompok ini sudah menjadi rujukan kelompok tani dari daerah lainnya. Seperti Desa Timpah di Kecamatan Kerambitan. Sukawati di Gianyar.
Bila dihitung-hitung, konservasi burung hantu tidaklah murah. Untuk pakan dan pengawasan saja paling tidak perlu biaya Rp 100 ribu per harinya. Belum lagi bila merawat burung yang dalam keadaan sakit atau cacat.
Kelompoknya sendiri sudah sempat menerima bantuan dari pemerintah. Dari Pemkab Tabanan, kelompoknya menerima bansos. Kemudian pada 2016 lalu mereka menerima bantuan yang jadi bagian program Gerbang Pangan Serasi dari Bapelitbang. Sedangkan yang rutin dari BPTPH.
“Dari BPTPH, kami dibantu Rp 900 ribu per orang untuk dua anggota kelompok. Sedangkan tahun ini, rencananya desa kami yang akan membantu lewat APBDes. Cuma besarannya kami belum tahu,” ungkapnya.
Editor : I Putu Suyatra