Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ternyata Bundaran Dekat Tol Berbentuk Lonjong Ada Sejarah Niskalanya

I Putu Suyatra • Senin, 16 Desember 2019 | 04:00 WIB
Ternyata Bundaran Dekat Tol Berbentuk Lonjong Ada Sejarah Niskalanya
Ternyata Bundaran Dekat Tol Berbentuk Lonjong Ada Sejarah Niskalanya


DENPASAR, BALI EXPRESS - Belum banyak yang tahu, jika Tol Bali atau yang biasa disebut Jalan di Atas Perairan (JDP) atau yang sekarang dikenal dengan Tol Bali Mandara, banyak berubah dari perencanaan awal. Perubahan ini terjadi karena pembangunan ini sangat menghormati dan lentur, jika berbenturan dengan kawasan suci atau Pura.


Kadis PU Bali Ketut Artika kala itu (saat diwawancarai Desember 2012) mengatakan, ada perubahan lokasi titik turun jalan di Nusa Dua tepatnya di Desa Ungasan yang disebut Paket 1. Awalnya adalah sekitar 200 meter dari posisi saat ini. Namun setelah dicek secara detail, ke lokasi itu ternyata di lokasi tersebut ada satu Pura yang sangat disakralkan oleh masyarakat setempat.


“Pura Tirta, masyarakat sangat menyucikan. Jika di lokasi itu diturunkan JDP, memang tidak menggusur Puranya tetapi jalannya ada di atas Pura, nggak bagus jadinya,” ujar Artika kemarin.


Akhirnya? Dengan pola pembangunan design and build, artinya membangun sambil merencanakan, diputuskan untuk digeser sekitar 200 meter dari lokasi Pura itu, sehingga dari posisi Pura jalan terlihat membentang namun posisi turunnya jauh dari Pura. Ini dilakukan agar, aktivitas JDP tidak menggangu ritual umat Hindu di Pura tersebut. Selain itu, jalan juga direndahkan.


“Kami sangat menghormati kawasan - kawasan suci dalam membangun JDP ini,” ujar pejabat asal Klungkung ini.


Saat ini sudah berjalan bagus, walaupun sempat ada yang mempermasalahkan lokasi baru ini. Namun sudah dijelaskan ke pihak DPRD Bali, yang menganggap lokasi sekarang cenderung berada di tikungan ketika turun ke jalur umum. Ini yang dianggap bisa membuat macet, tetapi sudah dijelaskan bahwa pintu tol sangat jauh di dalam bukan langsung di pinggir jalan.


 


Selain di Paket 1, ada juga di paket 3. Yaitu lokasi lingkaran Simpang Ngurah Rai yang dibuat lebih besar dari Bundaran HI, Jakarta. Awalnya desainnya benar – benar bulat, namun ketika dibentangkan bundaran itu ternyata menyentuh Pura Karang Asem, yang berada di pinggir laut dekat Patung Ngurah Rai Simpang Bandara.


Akhirnya dibuat keputusan bahwa, bundaran Simpang Bandara itu dibuat menjadi bulat telur atau oval. Itu untuk menghindari atau mengalah dari Pura yang ada di pinggir laut itu.


“Rancangan awal adalan bulat benar - benar bulat, namun ternyata ada Pura akhirnya dijadikan bulat telur,” ujar Pengendali Proyek Paket III Ngadino.


 


Dia menjelaskan sambil menunjukkan gambar, persis di sebelah utara ada Pura Karang Asem, termasuk bentuk lingkaran yang jadi lonjong mirip telur itu juga ditunjukkan.


“Kami memilih mengalah, tidak mungkinlah kami (paksakan). Kami sangat lentur jika berurusan dengan Pura,” ujar pria asal Semarang ini.


 


Tak hanya Pura. Di Paket IV yang berada di kawasan Benoa, tol juga mengalah karena melintasi setra atau juburan. Sebenarnya dari arah Pelabuhan Benoa menuju simpang bandara maunya dibuat lurus awalnya, tapi kalau itu dibuat lurus akan mengenai satu kuburan yang berada di daerah Pesanggaran. Akhirnya dibelokkan sedikit, supaya tidak menembus kuburan.


“Paket III ada pura, Paket IV ada kuburan. Tetap harus dihormati, jalannya yang mengalah,” kata Ngadino.   

Editor : I Putu Suyatra
#bali #tol bali mandara #badung