Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ketut Laba Bikin Kopi Cipir, Coba Kecipir Jangan Dicibir

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 15 Mei 2021 | 15:11 WIB
Ketut Laba Bikin Kopi Cipir, Coba Kecipir Jangan Dicibir
Ketut Laba Bikin Kopi Cipir, Coba Kecipir Jangan Dicibir

TABANAN, BALI EXPRESS-I Ketut Laba Nindya Arta mengubah sayur Kecipir menjadi sajian minuman yang berbeda. Dibilang kopi, bukan kopi. Dikatakan teh, bukan teh. Cuma demi memudahkan menyebutkan saja, olahan itu dinamakan Kopi Cipir.


Buah atau sayur Kecipir yang lebih lazim di Bali dikenal dengan sebutan Kelongkang atau Botor, selama ini dikenal sebagai salah satu jenis sayuran.


Buah dari tanaman bangsa kacang-kacangan ini paling gampang dijumpai sebagai campuran pada sajian tipat cantok.


Tapi siapa sangka biji Kecipir yang sudah kering bisa diolah menjadi sajian minuman yang baru. Seperti kopi, namun sesungguhnya bukan kopi.


Biar gampang saja untuk menyebutkan, sajian minuman itu dinamakan Kopi Cipir. Namun tetap, sekali lagi olahan itu bukanlah kopi. Soalnya, kalau saat melakukan aktivitas, kopi akan disebut ngopi. Kalau Kopi Cipir, namanya Nyipir. Kalaupun dipaksakan untuk menyebut istilah bagi aktivitasnya mungkin Ngopi Cipir.


Rumit memang untuk memberi namanya. Bahkan untuk I Ketut Laba Nindya Arta yang membuat inovasi sajian minuman yang satu ini.


Kalaupun dibilang teh, malah tidak menyerupai teh. Namun apalah namanya, yang jelas Ketut Laba lagi rajin-rajinnya mempopulerkan hasil inovasinya itu.


Pensiunan di dunia usaha properti itu sedang getol-getolnya mengenalkan istilah Nyipir. Bahkan, dia sampai-sampai bikin sebutan untuk penikmat Kopi Cipir : Cipper.


Nah, Jumat (14/5), di rumahnya di Banjar Buahan Tengah, Desa Buahan, Kecamatan Tabanan, Ketut Laba cerita ikhwal dirinya sampai bisa menemukan olahan minuman berbahan baku biji Cipir.


"Sebelumnya dirasakan dulu," ujar Ketut Laba memulai ceritanya. "Bagaimana rasanya? Lain ya rasanya?" tanyanya sambil tersenyum.


Menurutnya, lain orang lain pengalaman rasa yang diperoleh usai menyeruput. Sehingga sulit untuk menerjemahkan rasanya. "Tetapi enak. Sedap kan?" imbuhnya lagi.


Bahkan sajian Kopi Cipir yang dia produksi mudah untuk di-mixing atau dicampur. Mau dicampur dengan susu, jahe, sampai dengan tiramisu. "Kalau suka tiramisu, silakan ditambahkan tiramisu," tuturnya.


Mudahnya Kopi Cipir dikombinasikan rasanya karena sifatnya yang mudah membaur. Tidak sekuat kopi. "Kalau kopi, apapun yang dicampur, kopinya masih terasa. Karena kopi (aromanya) strong," jelasnya.


Tapi, sekalipun Kopi Cipir tidak beraroma kuat, bukan berarti dia tidak bisa disajikan dengan varian lainnya seperti kopi. Mulai dari Espreso, Latte, atau Cappucino.


"Kalau yang ini espreso," kata Ketut Laba menyela sembari menyodorkan cangkir berisi formula Kopi Cipir yang diolah jadi minuman khas Italia itu. Rasanya pahit juga. Cuma warnanya tidak sepekat kopi.


Obrolan pun lanjut lagi. Dia menuturkan mulai berinovasi dengan Kopi Cipir sejak 2016 lalu. Selain Cipir, dia waktu itu juga memanfaatkan biji-bijian lainnya.


Eksperimennya waktu dilakukan terhadap empat jenis biji-bijian. Ada biji Durian, Nangka, Batun Taep, dan yang terakhir Cipir. "Semuanya enak. Semuanya sama-sama punya rasa yang enak," imbuhnya.


Dia menuturkan, Kopi Cipir yang kini dia produksi berangkat dari keprihatinannya terhadap langkanya kacang-kacangan tersebut dari wawasan anak muda sekarang.


“Banyak anak-anak sekarang tidak mengetahui Cipir itu apa. Untuk apa. Paling kalau mengetahuinya, ya cuma sebatas sayur,” ujarnya.


Berangkat dari itu, dia mulai berpikir untuk mengolah Cipir. Tidak cuma sebagai sayuran semata. Namun, bisa menjadi kopi, the, bahkan susu. “Iya karena biasanya dalam satu batang Cipir itu ada bijinya yang putih. Itu yang bisa diolah jadi susu. Tapi sangat sulit dapatnya. Untung-untungan,” cetusnya.


Namun eksperimen yang dia lakukan tidak serta merta mengantarkan Ketut Laba pada penemuan Kopi Cipir. Proses panjang mesti dia lalu. Serangkaian kegagalan dia harus rasakan.


Waktu pertama uji coba, dia sampai menghabiskan beberapa teflon untuk melakukan roasting atau menyangrai biji Cipir. Pernah pula pakai wajan tanah liat. Tapi tidak memberi hasil yang maksimal. Balik lagi pakai teflon, tapi masih gagal.


“Pertama, dapur seperti kebakaran. Banyak asap. Kedua, teflon gosong. Terus yang ketiga, teflonnya tidak gosong, tapi biji Cipirnya yang di-roasting malah jadi seperti pop corn,” kenangnya.


Rangkaian kegagalan dalam uji cobanya itu berlangsung kurang lebih enam bulanan. Sampai dia menemukan beberapa teknik yang tepat untuk menyangrai biji Cipir agar bisa diolah layaknya kopi.


Teknik ini menyangkut kadar air sampai dengan lemak nabati pada biji Cipir yang disangrai. Belum lagi dengan teknik pengeringannya. Dari dijemur di terik matahari sampai dengan kering karena disangrai.


“Dari satu kilogram (biji Cipir) itu bisa mengalami penurunan (bobot) kurang lebih 25 persen. Kalau sudah di-roasting, bijinya bisa tahan sampai enam bulan tanpa kehilangan rasa,” sambungnya, seraya menyebutkan baru 2019 lalu dia mulai memanfaatkan beberapa mesin kopi untuk memperbanyak varian atau turunan sajiannya.


Dari biji tersebut, bila diolah nantinya bisa menghasilkan kurang lebih 60 kemasan kopi. Berat bersih satu kemasannya yakni 30 gram. Dan ini bisa disajikan untuk tiga sampai empat cangkir.


“Satu kemasan, (harga) standarnya Rp 15 ribuan. Espresso kalau di Starbuck itu bisa Rp 150 ribuan. Di kami Rp 20 ribuan,” tutur jebolan jurusan akuntansi di SMK Negeri 1 Tabanan pada 1989 itu.


Meski telah melakukan uji coba pada 2016 lalu, Ketut Laba rupanya tidak langsung memperkenalkannya ke khalayak. Baru pada 2019 lalu dia mulai memperkenalkan inovasinya tersebut.


Itupun setelah dia mengantongi beberapa dokumen penting, mulai dari sertifikat produki pangan industri rumah tangga, sertifikat penyuluhan keamanan pangan, hingga izin usaha.


Pun demikian sertifikat dari Dinas Kesehatan yang membuat dia mengetahui ternyata Kopi Cipir memiliki beberapa khasiat bagi kesehatan. Selain karena sifatnya yang herbal.


Namun, dari cerita Ketut Laba, perjalanannya dengan Kopi Cipir sepertinya masih cukup panjang. Sekalipun produknya itu sudah menyebar melalui jalinan pertemanannya. Bahkan produknya itu sudah punya tagline, Kopi Cipir *bukan kopi. “Coba Kecipir Jangan Dicibir”.


Di Indonesia saja, setidaknya tersebar di sembilan kota, yakni Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Medan, Menado, dan Makassar. Bahkan di luar negeri konon terlacak di Jerman dan Belgia.


“Entah siapa yang bawa bisa sampai ke sana. Yang jelas saya (melakukan pemasaran) dari teman ke teman,” sebutnya, seraya mengaku tidak mengetahui juga siapa yang bisa memunculkan produknya di salah satu marketplace terkenal di Indonesia.


Yang jelas, sejak izin edar keluar, Ketut Laba mulai memperbanyak produksi. Setidaknya mulai dari 2020 lalu. Pernah sekali waktu dia sampai memproduksi sampai 3.800 kemasan.


Apa tidak ada rencana buka coffee shop? “Kalau saya ingin maju dan berkembang bersama. Kalau ada yang bawa ke coffee shop silakan. Tapi saya tetap di produksi. Saya ingin berbagi,” ujarnya mempertegas keinginannya untuk tetap berada di sektor hulu.


Bahkan saat ini dia sudah dan sedang menunggu proses pengajuan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) yang telah diajukannya.


Dia memberanikan upaya itu karena dia menglaim baru dia yang memproduksi Kopi Cipir di Indonesia. “Sudah saya ajukan ke Kejaksaan,” sebutnya. 




Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bisnis #features #tabanan