DENPASAR, BALI EXPRESS- Tanam benang merupakan salah satu prosedur kecantikan yang dapat dilakukan oleh dokter estetika. Sebelum melakukan penanaman benang, dokter akan memberikan obat bius lokal di area wajah terlebih dahulu. Setelah itu, dokter akan memasukkan benang khusus ke bagian bawah kulit dengan bantuan jarum atau kanula.
Apakah prosedur ini berbahaya? Dokter spesialis Kulit dan Kelamin dr. I Dewa Gede Agung Manik S.M.Biomed.,Sp.KK, mengatakan jika tidak dilakukan dengan benar dan beesih, maka prosedur ini akan merusak wajah atau bahkan membuat wajah semakin tampak tua. "Meski tergolong aman, prosedur tanam benang terkadang juga bisa menimbulkan efek samping berat atau komplikasi," jelasnya.
Adapun proses dan tanam benang inj, diseburkan de. Manik hanya memakan waktu sekitar 4 menit. Karena setelah benang dimasukkan, jarum atau kanula akan dilepas dan benang akan tertinggal di bawah kulit.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, dokter juga dapat memberikan suntikan filler setelah tanam benang selesai. Hasil tanam benang dapat terlihat dalam waktu 1–3 hari, dan bersifat bersifat sementara dan dapat bertahan selama 1–3 tahun, tergantung jenis benang dan jumlah benang yang ditanam.
Selama 2–3 minggu setelah tanam benang, pasien disarankan untuk tidak mengoleskan krim perawatan wajah. "Selain itu, disarankan tidak tidur menyamping dan olahraga yang berat untuk sementara waktu," lanjutnya.
Efek samping dari tanam benang ini, bisa terjadi sejak selesai proses dilakukan, setelah tanam benang pasien mungkin akan merasakan nyeri, bengkak, dan memar pada wajah. Namun, efek samping ini akan hilang dalam beberapa hari.
Sedangkan untuk reaksi jangka panjng, pasien bisa mengalami reaksi alergi terhadap obat bius atau benang yang ditanam ke wajah, selain itu bisa terbentuk lekukan atau lipatan di tempat masuknya benang.
Bahkan yang paling parah adalah resiko Infeksi ini adalah risiko yang paling harus diwaspadai. "Infeksi akibat prosedur tanam benang umumnya ditandai dengan keluarnya cairan berwarna hijau, cokelat, merah atau kehitaman dari lokasi tanam benang," tambahnya.
Editor : Nyoman Suarna