DENPASAR, BALI EXPRESS- "Jangan makan pedas, nanti bisa kena usus buntu," perinngatan seperti itu mungkin sudah menjadi peringatan yang sering didengar oleh penggemar makanan pedas.
Kepala Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Universitas Udayana, dr. Putu Astri Novianti, M.Biomed, Sp.B., ungkapan tersebut hanyalah mitos. "Pasalnya infeksi usus buntu terjadi akibat adanya peradangan pada organ usus buntuk yang letaknya di persimpangan usus besar dan usus halus," jelasnya.
Sebelum membahas kenapa organ usus buntu ini bisa meradang, dr. Astri menjelaskan apa itu organ usus buntu. Usus buntu ini adalah organ yang bentuknya seperti tabung dengan panjang antara 8-10 cm dan letaknya di persimpangan usus halus dan usus besar dan memang usus ini buntu, sehingga apapun yang masuk di tabung ini tidak bisa keluar, inilah yang memicu terjadinya radang usus buntu.
Fungsi dari usus buntu ini berperan dalam sistem kekebalan tubuh, karena menghasilkan zat inoglugulin yang berperan untuk memperkuat imun tubuh. Selain itu usus buntu juga sebagai tempat berkembang biak bakteri baik. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan sistem kekebalan pada bayi hingga usia remaja awal.
Penyakit yang rentan menyerang usus buntu ini adalah peradangan hingga infeksi yang disebabkan oleh adanya penyumbatan pada saluran usus buntu ini. Penyumbatan ini biasanya disebabkan oleh adanya benda asing yang masuk ke dalam usus buntu ini. "Benda asing yang sering menyebabkan penyumbatan di usus buntu ini adalah fases yang mengering, ini diakibatkan oleh sembelit yang berkepanjangan," lanjutnya.
Sembelit ini menurut dr. Astri biasanya disebabkan oleh pola diet yang salah dan biasanya menyerang mereka yang berusia antara 10-30 tahun. Meakipun peradangan usus buntu bisa menyerang siapa saja.
Operasi dilakukan untuk mencwgah usus buntu pecah, karena jika usus buntu pecah, maka usus buntu ini akan mengeluarkan nanah dan nanah ini bisa menyebabkan infeksi di seluruh organ tubuh bahkan jika kuman yang ada di nanah ini masuk ke alira darah maka kuman bisa samai ke otak dan bisa menyebabkan infeksi otak bahkan bisa menyebabkan kematian.
Editor : I Putu Suyatra