Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pasangan Sejenis Lebih Berpotensi Tertular Hepatitis C

I Putu Suyatra • Selasa, 7 Desember 2021 | 05:34 WIB
Pasangan Sejenis Lebih Berpotensi Tertular Hepatitis C
Pasangan Sejenis Lebih Berpotensi Tertular Hepatitis C

DENPASAR, BALI EXPRESS- Penyakit Hepatitis atau peradangan pada organ hati sampai saat ini menjadi salah satu penyakit dengan jumlah penderita teebanyak di Indonesia. Apa saja jenis penyakit hepatitis dan kenapa hepatitis C menjadi penyakit yang berpotensi menjadi penyakit kronis?


Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Divisi Gastro Entero-Hepatologi, dr. Gde Somayana, Sp.PD-KGEH., menyebutkan penyebab dari penyakit ini sangat banyak mulai dari bakteri, obat-obatan dan prilaku seksual. "Hepatitis bisa disebabkan oleh virus, ada banyak virus yang bisa menyebabkan penyakit hepatitis. Ada hepatitis A, B, C, D dan masih banyak lagi jenis virus yang bisa menyebabkan penyakit hepatitis," jelasnya.


Virus hepatitis A disebabkan oleh virus RNA, penularannya melalui makanan dan minuman, namun tidak berpotensi menjadi kronis. Hepatitis B penularannya melalui makanan dan minuman, virus hepatitis B ini, pada umumnya menjadi kronis jika daya tahan tubuh seseorang melemah. 


Untuk hepatitis C, dikatakan dr. Somayana, samai saat ini menjadi penyakit Hepatitis dengan jumlah penderita terbanyak di Indonesia. Hampir 80 persen seseorang yang terjangkit virus ini memiliki potensi menjadi penderita hepatitis C dengan kondisi kronis. Penularan virus hepatitis C ini, biasanya terjadi melalui cairan tubuh, seperti darah, air liur, pisau cukur dan sebagainya. 


Selain itu, Hepatitis C ini sering berdampingan dengan HIV, karena penularan penyakit hepatitis juga bisa mellui prilaku sex bebas. Dan resiko penularan lebih besar terjadi pada pasangan sejenis dibandingkan dengan resiko penularan pada aktivitas seksual lawan jenis. 


Namun demikian, dr. Somayana menjelaskan jika prilaku seksual penderita hepatitis tidak berganti-ganti (hanya dengan satu pasangan saja) potensi penularannya sangat rendah. "Dari beberapa penelitian yang saya tahu, resiko penularan hepatitis pada pasangan suami istri yang tidak pernah berganti pasangan sangat rendah, hanyak sekitar 2,5 persen dari total kasus yang ada," terangnya.


Dilanjutkannya menderita penyakit Hepatitis C sulit disembuhkan karena sebagin besar pasien penyakit ini datang berobat dalam kondisi yang sudah parah. Hal ini disebutkannya karena penyakit ini sering kali tanpa gejala yang berat, sehingga membuat penderitanya abai.


Adapun gejala hepatitis C, pada prinsipnya gejala dari awalnya tidak terlalu parah, karena gejala awalnya adalah penurunan nafsu makan, terserang flu dan bisa sembuh dalam waktu satu minggu. "Karena gejala ringan ini, maka pasien akan abai, sehingga pertolongan pada fase akut yang singkat ini tidak bisa dilakukan segera, inilah yang membuat banyak pasien yang datang sudah dalam kondisi parah," paparnya.


Untuk terapi atau penanganan Hepatitis C ini, dr. Somayana menyebutkan seiring dengan perkembangan teknologi, skrining dan penanganan hepatitis C sudah bisa dilakukan di Bali. "Namun pasien harus bisa konsisten untuk menjalankan terapi dan pengobatan yang diperlukan," tambahnya.

Editor : I Putu Suyatra
#kesehatan