Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dari Tukang Tato, Boy Masuki Dunia Diorama, Ini Ceritanya

Nyoman Suarna • Jumat, 24 Desember 2021 | 16:12 WIB
INDAH: Boy saat menunjukan diorama dengan konsep natal.
INDAH: Boy saat menunjukan diorama dengan konsep natal.
DENPASAR, BALI EXPRESS – Pandemi memberikan dampak yang cukup keras bagi pariwisata Bali. Salah satunya, bagi pelaku usaha yang menggantungkan nasibnya pada kedatangan wisawatan mancanegara (wisman) seperti para seniman tato. Minimnya, bahkan cenderung nihilnya kedatangan wisman ke Bali, salah satu seniman tato, Boy Prasetyo, 41.

Ditemui di kediamannya yang beralamat di Jalan Nangka, Desa Tonja, Denpasar, ia terpaksa meninggalkan dunia seni rajah kulit yang digelutinya sejak tahun 1995 sementara, untuk beralih ke dunia diorama. Hal ini lantaran, telah lama ia menanti tanpa kepastian soal kedatangan wisman ke Bali.

“Ya karena memang kondisi pandemi Covid-19 seperti ini jadi tamu itu belum ada datang. Terus perekonomian pariwisata di Bali lagi kurang bagus, makanya saya coba untuk masuk ke dunia mainan. Saya belajar custom untuk mendapatkan sesuatu yang lebih daripada hobi itu sendiri,” jelasnya, Kamis (23/12).

Boy mengaku, dunia diorama ini telah ditekuninya sejak kurang lebih setahun lalu. Namun baru belakangan ini, ia benar-benar mencurahkan waktunya untuk mengerjakan dunia diorama tersebut.

“Disamping saya suka juga, saya hobi, makanya saya tuangkan kesukaan saya, saya luapkan semua apa yang ada dalam pikiran saya, untuk membuat karya seni ini,” kata dia.

Saat ini, ia tengah mengerjakan beberapa bentuk dengan konsep natal sebab bertepatan jelang Natal dan Tahun Baru. Seperti pohon natal, santa claus, dan lainnya yang identik dengan Natal. Namun, Boy membuatnya sedikit berbeda.

“Karakternya saya bikin sinterklas sama yang lebih unik lagi, ada beruang tapi bertanduk. Kalau pada umumnya kan sinterklas dengan rusanya, ini saya bikin yang beda, unik. Ini kebetulan saya mau kasi hadiah buat teman,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga membuat diorama dengan tema film-film besutan Marvel, atau karakter kartun lainnya. “Salah satunya yang lain, Mr. Bean sesuai dengan film-film yang ada kita buat, tetapi tetap saya membuatnya beda dari yang umum,” katanya.

Sementara untuk proses pembuatannya, bisa ia kerjakan kurang lebih satu bulan. Disinggung apakah usaha ini bisa dijadikan ladang penghasilan, ia mengaku bisa, namun, dirinya belum berniat untuk menjual hasil karyanya. “Iya (bisa ladang penghasilan), itu kan bisa mengikuti kalau sudah memiliki segala sesuatunya seperti karya yang cukup, terus cukup yang menikmati, cukup yang dapat mengapresiasi yang saya buat,” katanya.

“Untuk saya selama ini sih masih belum menjual ya. Masih kebanyakan hobi. Kalau dijual kisaran harganya relatif ya untuk sebuah karya itu kan kadang-kadang tidak bisa kita nominalkan seberapa-berapa, tergantung orang yang menikmatinya,” sambungnya. Editor : Nyoman Suarna
#denpasar #bisnis #features