Dokter Spesialis Kandungan RS. Garbamed, dr. Made Oka Widiabdi Husada, Sp.OG., menjelaskan sebenarnya metode ERACS yang merupakan singkatan dari Enhanced Recovery After Cesarean Surgery, merupakan metode melahirkan yang bisa mempersingkat masa penyembuhan usai melahirkan.
"Metode ini adalah pengembangan dari metode ERAS (Enhanced Recovery After Surgery) yang biasa diterapkan pada pasien operasi saluran pencernaan, yakni usus besar atau kolon, sehingga mempersingkat perawatan pasca operasi," jelasnya.
Seiring dengan berjalannya waktu, dilanjutkan dr. Oka,metode ERAS dikembangkan menjadi ERACS dan digunakan untuk proses persalinan caesar. Metode ini telah berhasil dibuktikan di Eropa sejak tahun 2012 dan diadopsi di Amerika tahun 2018. Di Indonesia, metode ERACS sudah mulai diterapkan dalam persalinan sejak tahun 2019. Beberapa rumah sakit sudah menerapkan metode ini sebagai pilihan melahirkan caesar.
Lantas perbedaan metode ERACS dengan operasi caesar konvensional? Dijelaskam dr. Oka, operasi dengan metode ERACS memang sedikit berbeda dari operasi caesar biasa. Dalam pelaksanaanny, metode ERACS, memiliki batasan waktu, karena dosis obat bius yang digunakan lebih kecil jika dibandingkan dengan dosis obat yang digunakan dalam operasi caesar konvensional.
Biasanya dikatakan dr. Oka, waktu melahirkan dengan ERACS yakni maksimal 60 hingga 90 menit. "Sehingga obat anastesi/obat bius yang diresepkan oleh dokter anastesi adalah obat bius tanpa kandungan morphin, sehingga efeknya bisa segera hilang dalam rentang waktu yang ditentukan," lanjutnya.
Untuk menerapkan metode ERACS ini, dr. Oka mengakui memang diperlukan waktu persiapan yang matang dan bisa dilalukan jika kondisi ibu hamil stabil. Adaun fase yang dimaksud adalah, fase pre-operatif, yakni fase sebelum melahirkan tujuannya adalah untuk memgoptimalkan kondisi kesehatan ibu hamil menjelang masa persalinan.
Selanjutnya adalah, fase inter-operatif, fase ini mencakup kesiapan tim selama operasi caesar dengan metode ERACS. Tim mencakup dokter kandungan, dokter anestesi, dokter anak, perawat, bidan, dan manajemen rumah sakit yang mendukung supaya ERACS ini bisa diimplementasikan.
Pada fase ini, ibu hamil tidak perlu menjalani puasa selama 8 jam seperti caesar konvensional. Pada fase ini, ibu hamil justru justru diminta untuk konsumsi minuman berkalori tinggi, tepat dua jam sebelum melahirkan, tujuannya supaya ibu tidak mengalami stres metabolik dan resistensi insulin selama operasi.
Selanjutnya adalah fase post-operatif, fase setelah operasi adalah periode krusial bagi pasien yang melahirkan dengan metode ERACS, karena efek obat bius yang sudah hilang, maka dokter akan memberikan obat anti-mual, anti-muntah, dan anti-nyeri dengan dosis yang tepat. "Sehingga latihan pada pasien sudah mulai dilakukan pada rentang waktu dua jam setelah tindakkan operasi, dan setelah 24 jam, pasien diharapkan sudah bisa mandiri," tambahnya. Editor : I Dewa Gede Rastana