AGUS EKA PURNA NEGARA, Klungkung
WABAH berupa penyakit kulit melanda warga di Desa Terunyan, Kintamani, Bangli. Setelah mencari petunjuk secara niskala, warga setempat diminta untuk membuat sesolahan atau persembahan berupa tarian dengan cambuk sebagai sarana penyembuhan.
Sosok Ratu Brutuk pun tercipta. Ratu Brutuk adalah simbolisasi dari anak buah atau perewangan Ratu Sakti Pancering Jagat dan Ratu Ayu Dalem Pingit Dasar. Secara filosofi Ratu Brutuk merupakan simbol penyatuan akasa dan pertiwi agar terciptanya kesuburan dan kemakmuran di muka bumi.
Bahkan secara etimologi Ratu Brutuk merupakan simbolis pertemuan antara Ratu Ayu dan Ratu Sakti Pancering Jagat. Seperti kisah yang berkembang di Terunyan, Kintamani, Bangli, Ratu Sakti disebut sebagai pengembara dari Kerajaan Dalem Solo.
Cerita lain yang berkembang, warga percaya sosok Ratu Brutuk atau yang dikenal Barong Brutuk dapat memberikan kesembuhan sehingga gering atau wabah dapat sirna. Zaman dahulu penyembuhan masyarakat yang mengalami penyakit kulit, dilakukan dengan cara memecut bagian tubuh yang mengalami penyakit kulit.
Dari segi tampilan, Ratu Brutuk terlihat sangat sederhana. Sarana utama dengan kraras (daun pisang kering) dan sebuah topeng. Kesenian ini ditarikan saat prosesi Ngusaba Kapat Lanang di Pura Pancering Jagat Trunyan. Di mana warga setempat mengenal Purnama Kapat Lanang dan Purnama Kapat Wadon.
Lukisan tentang kesenian Ratu Brutuk pun jadi sumber inspirasi bagi Sekaa teruna (ST) Satmya Pitaka Banjar Kayehan, Desa Dawan Kaler, Kecamatan Dawan, Klungkung. Menurut Ketua STT, I Wayan Widiana, pemilihan konsep ogoh-ogoh Barong Brutuk tercetus karena minimnya waktu pengerjaan.
Maklum, nyomia ogoh-ogoh, khususnya di Klungkung diputuskan diizinkan hanya selang beberapa pekan sebelum pangerupukan. Di samping itu, ketentuannya wajib memakai bahan ramah lingkungan. "Kami harus hemat biaya karena di saat pandemi tidak memungkinkan meminta sumbangan," ujar Widiana, Selasa (1/3).
Dana yang dikeluarkan tergolong minim, hanya Rp 1 juta. Itupun hanya dipakai untuk biaya kebutuhan seperti konsumsi. Dalam mengusung tema Barong Brutuk, para pemuda tentu membuat ogoh-ogoh yang bentuknya menyerupai. Seperti memakai daun pisang kering sebagai penutup badan, serta alang-alang kering untuk simbol rambut.
Sedangkan topeng yang dipakai sudah dibuat sejak beberapa tahun lalu. Kemudian rangka masih memakai kayu dan beberapa material tambahan untuk perkuat konstruksi. Ogoh-ogoh setinggi 3 meter itu pun dikerjakan dalam waktu enam hari. "Kami kerahkan semua anggota untuk mencari bahan-bahan di sekitar rumah. Ternyata dapat banyak. Tidak susah mencari," terangnya.
Alhasil, mereka dipercaya satu-satunya mewakili Desa Dawan Kaler dalam lomba ogoh-ogoh se tingkat Kecamatan Dawan. Sementara itu, Kepala Dusun Kayehan, Komang Warta telah mengimbau para Sekaa teruna taat penerapan Prokes. "Swab test sudah dengan hasil negatif. Hanya 25 orang yang mengarak. Jadi kami pastikan acara berjalan aman sesuai Prokes," kata Warta. (*) Editor : I Putu Suyatra