DEWA KRISNA PRADIPTA, Denpasar
RD. Yohanes Martanto sebagai Pastor Paroki di Gereja tersebut mengatakan sebelum ibadah Jumat Agung pada Jumat sore, pihaknya mengadakan Tablo 'Jalan Salib Jumat Agung' ini.
"Pada hari ini Gereja Katolik Santo Petrus merayakan hari raya Jumat Agung, ini akan menjadi kesempatan bagi umat Katolik untuk merenungkan penderitaan Yesus Kristus yang terjadi dua ribu tahun lalu," ujarnya.
Lebih lanjutnya ia mengatakan, dalam hal ini Yesus harus menderita karena ia ingin menebus dan menyelamtkan umat manusia yang ada di dunia ini. Karena dosa-dosa dari seluruh manusia ini, maka ia harus dipaku dan di salib hingga wafat di Bukit Golgota dan itulah sebagai ungkapan penuh cinta Allah yang paling agung kepada umatnya.
"Ia ingin membebaskan dan menyelamatkan umatnya, itu kira-kira yang menjadi pesan umum yang disampaikan dalam kisah Tablo yang dibawakan oleh orang muda Katolik Santo Petrus Denpasar," serunya.
Lanjutnya, karena situasi pandemi ini tablo tetap berjalan namun tetap menerapkan prokes. Para pemainnya dibatasi dan juga mereka harus menjaga prokes karena masih dalam kondisi pandemi. "Jadi para pemainnya masih sangat terbatas. Kalau yang sesungguhnya pesertanya bisa lebih banyak," tegasnya.
Sebelumnya tablo ini sudah dua tahun tidak dipentaskan karena pandemi. Namun setelah mendapat izin dan kelonggaran, pertunjukan bisa di pentaskan kembali menjelang Paskah ditahun 2022.
Lalu, pemeran Yesus, Johanes Eudes Jordan Siran mengaku memerankan Yesus itu tidak mudah, butuh waktu dua bulan baginya untuk mendalami peran tersebut.
"Latihannya dua bulan untuk menghayatinya. Berat sekali tantangannya mulai dari dicambuk sampai disalib tantangannya. Perasaan saya sangat senang diberikan kesempatan untuk memerankan Yesus. Pesan saya kepada umat agar selalu berdoa jangan lupa pada Tuhan karena tuhan kita ada disini," kata, Johanes. (*)