Seperti yang dialami Wayan Sutama, yang berprofesi sebagai tukang tambal ban keliling ini. Pria 40 tahun ini pernah kena palak, bahkan untung yang ia kais sejak pagi amblas karena ulah oknum tak bertanggung jawab.
Ceritanya berawal di tahun 2016 silam ketika pria asal Banjar Kukuh, Desa Samsaman, Kerambitan ini mendapat panggilan telepon dini hari di sekitar Kota Tabanan. Sebelum itu, Sutama sudah sedari pagi melayani puluhan customernya.
"Setelah selesai tambal ban, ada beberapa orang mabuk datang menghampiri. Perut saya langsung ditempeli pisau belati. Daripada saya melawan dan kehilangan nyawa, langsung saya kasi. Uang Rp 400 ribu hanya tersisa Rp 2 ribu saja di kantong," beber Sutama.
Padahal uang Rp 400 ribu itu ia kumpulkan susah payah. "Ya namanya di jalan, pasti ada saja risikonya. Tapi saya berprinsip memang begitulah jalan rezeki saya. Tidak ada yang tahu," sambung pria dua anak ini.
Belum lagi kejadian seperti kena tipu. Ia sering mendapat telepon malam atau subuh, setelah didatangi orangnya justru tidak ada di tempat. Meski mendapat kejadian seperti itu, Wayan Sutama tak pernah kapok dan terus melanjutkan profesi ini hingga sekarang.
Sebenarnya Sutama berjodoh dengan pekerjaannya ini juga tak sengaja. Memiliki basik otomotif, pria lulusan STM Saraswati Tabanan tahun 2000-2001 ini, dahulunya pernah bekerja di salah satu tempat di Seminyak di bagian engineering. Pulang kerja, ia mendapati ada orang yang motornya ngadat di jalan. "Karena iba, saya perbaiki karena basik saya otomotif. Syukur orangnya bisa pulang," bebernya.
Dari sanalah akhirnya ia mulai meniti karirnya. Memang sempat bekerja sebagai kuli bangunan, dan juga diajak bekerja di bengkel, namun ia lebih nyaman melayani dengan jasa panggilan.
Sutama memang paling sering melayani tambal ban. Selain itu, ia juga melayani ganti oli, serta pasang ban luar dan dalam khusus sepeda motor, baik matic maupun 2 tak, entah itu disuruh datang ke rumah atau di jalan.
Hanya saja ia memiliki trayek khusus seperti wilayah Tabanan Selatan meliputi Kerambitan, Tanah Lot, jalur Canggu ke Barat. Kemudian di Utara sampai Buruan Penebel, Taman Ayun hingga Alas Kedaton. Lalu di timur sampai Dalung serta Canggu. Dan, di Barat hanya sampai Pasar Bajera dan sekitarnya.
"Kalau tidak ada panggilan, setiap malam saya mangkal di Pos Polisi Patung Adipura. Saya kerja mulai jam 8 pagi sampai jam 3 subuh," imbuh Sutama sembari membubuhkan kontaknya, 085738657420.
Lantas untuk biaya servis? Sutama mengaku harga yang ia berikan tetap sama dengan harga bengkel pada umumnya. Sesekali ia juga menarik ongkos lebih, jika ia mendapat panggilan di luar trayek dan deal deal-an terlebih dahulu dengan yang memesan.
Peralatan yang dibawa juga sangat sederhana, mulai dari kompor buatan, obeng penyongkel, pompa angin manual, gunting, lem, dan lainnya. "Kalau motor matic kena charge Rp 50 ribu, 2 Tak Rp 60 ribu. Itu sudah termasuk ongkos, kalau untuk malam hari, biasanya kena tambahan lagi Rp 5 ribu," terangnya.
Sutama juga tak rakus soal pelanggan. Selain dirinya ada juga rekannya se-profesi. Jika ada panggilan di luar trayek atau di luar kabupaten, ia menelepon rekan terdekat untuk mengambilnya. "Ada komunitasnya kok. Kami saling bantu," kata Sutama.
Memang ada suka dukanya. Cerita di awal memang menjadi salah satu duka yang pernah ia alami. Tapi Sutama mengaku lebih banyak mendapat suka dari pekerjaan ini.
"Sempat dikasi ongkos lebih. Atau yang pernah saya layani, mereka kasi tahu ke teman atau saudaranya. Jadi banyak punya teman, banyak punya pengalaman, jadinya manyama braya. Kalau ongkosnya kurang juga tidak apa-apa. Sebenarnya kembali ke rasa, kasihan orang gak bisa pulang atau kerja, yang penting dia bisa selamat sampai tujuan. Lemah nu dawa (hari masih panjang), rezeki tidak akan kemana," beber Sutama.
Ia tak pernah gengsi atau malu mengambil pekerjaan ini. Bahkan ia sampai bisa menyekolahkan dua putrinya. "Anak saya yang pertama sudah SMA, adiknya sekarang masih SD. Selain ini, di rumah juga buka jasa laundry," tandasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya