Tidak saja anak muda, kalangan dewasa pun turut bergabung. Sepeda Minion klasik juga terlibat mengelilingi kota. Kopdar Bike #2 yang diinisiasi Kopi DeKakiang, Mule.keto dan Danke Cafe ini, mengambil rute kota dengan melintasi Jalan Udayana, berbelok Utara menuju Jalan Ngurah Rai.
Di Jalan Ngurah Rai, para pesepeda diperkenalkan pada bangunan sekolah SMA N 1 Singaraja. Sekolah ini memiliki bangunan yang dibangun saat zaman Belanda. Kontruksi dan arsitektur bangunan masih dipertahankan hingga kini. Bangunan sekolah itu pun cukup tinggi dengan gedung berlantai empat.
Perjalanan dilanjutkan menuju jalan Diponegoro. Di jalan itu disuguhkan sebuah pasar. Pasar ini disebut Pasar Anyar Singaraja. Konon sebelum disebut Pasar Anyar, pasar itu disebut Pabean. Disanalah trasaksi jual beli terjadi. Tidak saja tempat pemenuhan kebutuhan pokok, namun juga tempat trasaksi rempah serta hewan yang datang dari berbagai tempat.
Setelah melintasi Pasar Anyar atau Pabean, pesepeda meluncur ke Pelabuhan Tua Buleleng. Dahulu pelabuhan ini difungsikan sebagai pelabuhan bongkar muat barang oleh para saudagar Tiongkok. Segala jenis transaksi bisnis pernah terjadi di pelabuhan ini.
Seiring waktu, pelabuhan ini tidak lagi difungsikan. Segala aktivitas bongkar muat kemudian dialihkan ke Pelabuhan Celukan Bawang di Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak.
Di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng juga terdapat beberapa bangunan tua. Satu bangunan difungsikan sebagai Museum Tematik. Di museum tersebut terpampang berbagai cerita mengenai Mester Ketut Pudja, Gubernur pertama dan terkhir Provinsi Sunda Kecil.
"Acara Kopdar Bike ini dirancang, bukan sekadar kumpul pesepeda lalu gowes bareng saja, kami berusaha untuk selalu memberikan informasi tentang Singaraja," ujar Koordinator Kopdar Bike 2, Bagus Jayantha, yang juga owner Danke Cafe.
Usai berkeliling di Pelabuhan Tua Buleleng, rombongan bergerak menuju Jalan Imam Bonjol. Di jalan itu terdapat sebuah masjid Agung Jami' Singaraja yang besar dan unik. Masjid tersebut bukan masjid tertua m, namun masjid terbesar di Buleleng. Masjid itu adalah salah satu tempat yang digunakan oleh Raja Buleleng bersembunyi. Sembari bersembunyi ia menulis sebuah Al'Quran. Dan kini Al'Quran tulisan tangan Raja Buleleng masih tersimpan dengan rapi.
Kitab suci umat Islam itu pun diawetkan dengan merica untuk menjaganya dari rayap. Disamping itu ornamen dari masjid itu bergaya Bali. Di beberapa sudut ukiran Bali menghiasi masjid. Bahkan pintu gerbangnya adalah hibah dari Puri Buleleng. Mimbar yang digunakan di masjid itu juga tersentuh ukiran Bali. Di depan masjid terdapat Toko Arab. Di toko itu menjual berbagai macam rempah-rempah.
Di kawasan lain, tepatnya di kawasan Jalan Gajah Mada terletak satu bangunan sekolah SMP Negeri 1 Singaraja. Hingga kini bangunan sekolah itu tetap mempertahankan bangunan asli zaman Belanda.
Saat ini bangunan sekolah yang membelakangi SMA N 1 Singaraja itu telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Bergeser ke selatan terdapat satu gardu listrik yang besar. Gaya bangunannya pun masih bergaya Belanda. Melaju kembali, di Setra Adat Buleleng terdapat satu buah pohon yang menjulang tinggi. Pohon itu konon digunakan oleh pasukan rakyat Bali untuk meninjau kedatangan pasukan Belanda yang berlabuh di Pelabuhan Tua Buleleng.
"Rutenya lumayan melelahkan, terutama ketika melintasi Jalan Gajah Mada, saya kira itu jalan yang lurus dan datar, ternyata menanjak halus, cukup bikin ngos-ngosan gowes pedal. Tapi terbayarkan dengan beberapa pengetahuan," ujar Hary Sujayanta, salah satu pesepeda yang turut menyusuri Kota Singaraja.
Dari Jalan Gajah Mada berbelok ke Jalan Veteran. Memasuki pusat kota di jalan itu, terdapat Museum Lontar Gedong Kirtya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya