"Jadilah pendorong perubahan kebiasaan. Kebiasaan diubah, kebiasaan didorong, jangan sekadar mengikuti kebiasaan," ucap Anies.
Anies lantas mencontohkan sejarah penggunaan batik di Indonesia. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu bercerita, pada zaman dahulu, batik tidak digunakan sebagai baju. Batik digunakan sebagai sarung. Sedangkan atasan atau baju yang dipakai tanpa motif alias polos.
"Kalau gak polos putih, polos hitam, merah, dan namanya batik itu dipakainya untuk sarung, tidak ada untuk baju. Coba ingat-ingat, tidak ada (untuk baju), (tetapi) untuk kain, di atasnya kebaya," ucap Anies.
"Kemudian terjadilah pelanggaran atas pakem itu. Kain yang dipakai di bawah dipakai untuk baju. Ketika pertama digunakan, ini gak sopan, ini pelanggaran, ini gak ikuti pakem. Kemudian diikuti banyak orang. Sekarang menjadi baju batik identitas Indonesia. Pelanggaran itu sekarang menjadi kebiasaan baru," tambah Anies.
Anies lantas mengajak untuk membuat “pelanggaran” demi munculnya inovasi-inovasi baru.
"Pelanggaran itu sekarang menjadi kebiasaan baru. Di bidang pendidikan mulailah pelanggaaran-pelanggaran itu. Tapi kalau kita terkunci dengan pakem maka gak muncul kebaruan," tutupnya.
Meski telah memberi klarifikasi terkait ceramahnya, namun video ceramah Anies tetap menjadi sorotan pengamat social Rudi S Kamri. Melalui youtube Kanal Anak Bangsa, Jumat (16/12), Rudi mengatakan, pernyataan Anies yang menyebut bahwa pelanggaran pakem batik yang digunakan sebagai atasan adalah pernyataan bodoh pejabat publik.
Rudi menilai, literasi Anies tentang batik dan wastra nusantara sangat minim. Batik telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009.
“Sudah berpuluh-puluh kali saya melihat seorang Anies menggunakan busana batik, lah kok baru sekarang berubah hanya untuk sebuah pencitraan untuk menarik hati orang-orang dengan melacurkan intelektualitasnya dengan mengecam batik,” jelasnya.
Rudi pun mempertanyakan status kewarganegaraan Anies. Sebab, jika Anies merupakan WNI maka seharusnya ia memiliki kebanggaan menggunakan batik.
“Anies ini orang Indonesia bukan sih?” tanya Rudi.
Lebih lanjut Rudi pun menyarankan agar Anies belajar lagi soal kain jarik dan batik. Menurut Rudi, batik sudah digunakan oleh pria dan perempuan sejak berpuluh-puluh tahun sebagai busana yang sangat fleksibel. Batik bisa digunakan dalam event non formal maupun formal dan bisa dipadupadankan dengan apa saja.
“Saya menduga ini hanya pencitraan untuk menjelekkan rezim pemerintah yang sekarang, padahal hari batik telah ditetapkan tahun 2009,” pungkas Rudi. Editor : Nyoman Suarna