SINGARAJA, BALI EXPRESS - Lomba Gerak Jalan kategori Sekolah Dasar (SD) digelar di Buleleng, Bali, Senin (14/8) siang.
Seperti diketahui, setiap menjelang hari Kemerdekaan Republik Indonesia, gerak jalan adalah salah satu lomba yang biasa dilaksanakan termasuk di Bali. Ini biasanya selalu mengundang antusiasme peserta dan penonton.
Seperti yang tampak pada lomba gerak jalan di Buleleng, Bali, para peserta tampak antusias. Begitu pula penonton yang senantiasa setia menunggu pasukan gerak jalan melintas. Mereka bersorak, bahkan menyuarakan yel-yel penyemangat untuk para pasukan gerak jalan.
Satu per satu barisan melintas di ruas jalan Kota Singaraja. Selintas beberapa penonton terlihat tertawa sembari bertepuk tangan dengan semangat.
Ternyata, ketika barisan pasukan gerak jalan SD Mutiara melintas di jalan Imam Bonjol Singaraja, ada yang aneh.
Satu anggota barisan putri terlihat berbeda. Ia tidak menggunakan sepatu. Diketahui siswa itu bernama Ni Putu Bhadrika Aiswariananda.
Siswa yang akrab disapa Aira ini berjalan hanya menggunakan sepasang kaos kaki.
"Aira sepatunya terlepas karena tidak sengaja terinjak oleh temannya. Lepasnya itu saat melintas di jalan Imam Bonjol. Jadi dilepaskan dua-duanya," ujar pembina gerak jalan sekaligus Guru Olahraga di SD Mutiara Singaraja, Ni Ketut Widhi Trisna Wati.
Semangat para siswa dari SD Mutiara Singaraja ini patut diacungi jempol. Meski mengalami insiden copotnya sepatu saat berlomba tak membuat patah semangat.
Justru mereka tambah semangat. Meski sesekali gelak tawa penonton mengiringi sembari menunjuk, mereka tak peduli. Mereka tetap melaju sambil menyanyikan yel-yel.
Ternyata bukan hanya Aira yang sepatunya terlepas. Dua orang temannya pada barisan putra juga turut mengalami hal serupa.
Bedanya sepatu mereka copot sebelah. Keduanya adalah Dede Putra Sati Aditana dan Gede Nathan Prama Sanjaya.
"Sepatu Dede lebih dulu lepas saat di jalan Veteran Singaraja kemudian disusul oleh Nathan saat di jalan Pahlawan. Saat itu ada pasukan dari SD lain menyalip, jadi tidak sengaja terinjak oleh teman di belakangnya," terang guru olahraga yang akrab disapa Ina itu.
Melihat kondisi siswanya yang menyusuri jalan aspal tanpa sepatu, Ina merasa khawatir. Ina terus membuntuti pasukan dengan nomor dada 10 itu.
Ia terus memantau di setiap pos sambil tetap menyemangati siswanya.
"Saat sepatunya lepas mereka sempat ada rasa sedih dan malu. Tapi kami semangati terus. Saya ikuti dan pantau di setiap pos, takut terjadi apa-apa. Takut siswanya tidak kuat. Tapi astungkara semuanya lancar. Mereka sampai finish walau tanpa sepatu. Mereka anak-anak yang luar biasa," imbuhnya.
Nathan salah satu anggota barisan yang sepatunya copot mengaku tidak terpikir untuk keluar barisan. Ia tetap melengkapi barisan hingga finish.
Kendati merasa kakinya sedikit sakit, Nathan tetap setia. Ia tak ingin barisannya bolong.
"Kakinya tidak luka kok, cuma sakit sedikit. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Waktu terinjak itu lepas bagian tumit jadi langsung lepas saja. Yang copot di bagian kaki kiri," ujarnya.
Editor : I Putu Suyatra