Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Jro Dalang Made Wijana Asal Buleleng Bali: Sempat Gangguan Jiwa, Sembuh setelah Bersedia Jadi Dalang

I Putu Mardika • Kamis, 7 Desember 2023 | 14:52 WIB
Jro Dalang Made Wijana.
Jro Dalang Made Wijana.

BALI EXPRESS- Menjadi seorang dalang tidak pernah terpikirkan sebelumnya di benak Jro Mangku Gede Dalang Made Wijana.

Beberapa hal aneh dialami oleh dalang asal Desa Padang Bulia, Kecamatan Sukasada. Buleleng, Bali ini.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Dalang Wijana mengaku sudah 18 tahun melakoni hidup sebagai seniman dalang dan tabuh.

Jro Mangku Gede Dalang Made Wijana lahir pada 20 April 1956 silam. Dalam panggung kesenian, ia lebih akrab dikenal dengan sebutan Jro Dalang. 

Jro Dalang mengungkapkan bahwa tekad dan niat yang tulus membawa langkahnya menuju dunia perwayangan. Ini juga merupakan warisan leluhur yang diteruskan secara turun-temurun.

Dalam perjalanannya menjadi dalang, ada sekelumit kisah yang menarik untuk diulik. Dari ceritanya, ia mengaku sempat mengalami gangguan kejiwaan.

Namun, setelah menemukan petunjuk di bawah bimbingan seorang balian, ia disarankan untuk menjadi seorang dalang. 

Bahkan, dia mengaku juga pernah disembunyikan oleh makhluk gaib yang tak kasat mata. Uniknya, ia melihat orang-orang sedang hiruk pikuk mencarinya.

“Seperti disembunyikan saya. Mereka bingung mencari saya. Tapi saya melihat orang itu hilir mudik mencari saya, tetapi saya melihatnya. hal ini saya ketahui setelah metunasan ke balian, dan hal ini juga tidak bisa saya ceritakan secara detail karena ini merupakan kepercayaan niskala,” ungkap pria yang merupakan seniman tari.

Tiga hari kemudian, ia ditemukan di bawah jembatan dekat semak-semak. Pria 67 tahun ini mengaku mengalami kejadian itu pada saat ia masih remaja, tepatnya berusia sekitar 17 tahun.

Setelah merenung dan berjanji untuk menjadi seorang dalang dengan Ida Betara Manik Dalang, cahaya harapan mulai bersinar.

Begitu sembuh, ia pun melaksanakan semedi di merajan dan tempat-tempat angker, memohonkan anugerah yang diharapkan.

Ia akhirnya memutuskan untuk melakukan prosesi pawintenan. Rangkaian upacara ritual seperti pawintenan, pelampas dan upacara pedalangan dilaksanakan sebagai proses perjalanan menjadi seorang dalang.

Lalu bagaiaman prosesi jelang pementasan wayang? Dijelaskan Jro Dalang Wijana, ada sejumlah ritual persiapan harus dilakukan bagi dalang yang akan ngewayang.

Ini mencakup proses mapiuning, persembahyangan di merajan, serta persiapan di ruang suci sebelum melanjutkan perjalanan menuju lokasi acara ngewayang.

Setibanya di tujuan, klir dipasang disertai dengan sarana banten pemendak taksu dan pelaksanaan pemungkah gedong.

Tujuan utama dari pelaksanaan upacara banten adalah untuk menghormati taksu, kehadiran spiritual yang memberikan berkah dalam pementasan wayang.

Ritual doa-doa khusus menjadi hal yang tak terhindarkan sebelum pementasan dimulai. Salah satunya adalah upacara memanggil catur sanak dalang, di mana doa-doa dipanjatkan untuk memohon anugerah dari Ibu Pertiwi yaitu roh bumi yang melindungi.

Setelah pementasan wayang selesai, proses pengelukatan wayang pun dilakukan. Prosesnya terdiri dari tiga jenis.

Pertama, terdapat Pengelukatan Astu Pungku yang merupakan upacara yang ditujukan untuk manusia yang akan melaksanakan upacara yadnya.

Selanjutnya, Pengelukatan Sudamala digunakan dalam upacara Yadnya dan Pitra Yadnya, yang membedakan dari pengelukatan Astu adalah ketika orang yang mencari pengelukatan biasanya datang dari pihak yang membutuhkan upacara tersebut.

Terakhir, terdapat Pengelukatan Sapu Leger yang ditujukan bagi individu yang lahir pada wuku wayang, sesuai dengan penanggalan tradisional Bali. (*)

Editor : I Made Mertawan
#bali #Dalang