SINGARAJA, BALI EXPRESS - Sebuah momen penuh haru tergambar saat Nengah Murdani, warga di Desa Rangdu, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali menerima kunci rumah.
Rumah itu merupakan bantuan dari Buleleng Social Community serta pihak-pihak lain yang tergabung. Rumah tersebut diserahkan kepada Nengah Murdani, Minggu, 28 April 2024.
Bantuan bedah rumah kepada warga yang membutuhkan sejatinya telah rutin dilakukan oleh komunitas sosial yang ada di Buleleng maupun di Bali pada umumnya.
Kali ini bedah rumah diberikan kepada Nengah Murdani yang awalnya tinggal di rumah tidak layak huni.
Ia tinggal di gubuk itu bersama dua anggota keluarganya yang juga telah berusia renta.
Ketika masih sehat dan mampu, Nengah Murdani kerap membuat tape banten untuk dijual.
Tape itu akan dijual seharga Rp15 ribu per seratus bungkus. Anak perempuan Murdani mengalami keterbelakangan mental.
Sehingga tidak dapat bekerja dan tidak menikah. Sementara anak laki-laki Murdni bekerja sebagai buruh serabutan dengan upah Rp20 ribu per hari.
Terkadang di usianya yang renta ini ia tidak bekerja karena terhalang kekuatan fisik. Sedangkan suami Murdani telah lama meninggal.
Saat menerima kunci rumah secara simbolis dari Komandan Kodim 1609/Buleleng, Letkol Kav Angga Nurdyana, ia spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Ia teringat akan kebebasan dan kenyamanan yang dirasakannya kini meski hidup dalam garis kemiskinan.
Perempuan berusia 105 tahun itu telah merasakan pahit manisnya masa penjajahan Jepang hingga Indonesia merdeka.
Seingatnya, dahulu saat penjajahan Jepang, penduduk pribumi tidak merasakan kebebasan.
Yang dirasakan adalah tekanan dan ketakutan. Jika berani melawan, nyawa menjadi taruhan.
“Menghidupkan lentera kecil saja tidak berani. Kalau ketahuan bisa gawat,” ujarnya terbata-bata.
Lantunan lagu Indonesia Raya terdengar fasih diucapkan oleh Nengah Murdani.
Meski memorinya tidak lagi mengingat banyak hal, namun lagu Indonesia Raya jauh dari kata lupa.
Lagu itu masih melekat di ingatan Nengah Murdani. Ia ingat ketika Indonesia dinyatakan merdeka, ia juga turut menyanyikan lagu tersebut sebagai tanda kebebasan bangsa Indonesia kala itu.
Rekaman video ketika Nengah Murdani menyanyikan lagu kebangsaan itu pun menuai banyak pujian.
Lagu Indonesia Raya yang kemudian dinyanyikan bersama Komandan Kodim 1609/Buleleng, Letkol Kav Angga Nurdyana menambah semangat Nengah Murdani untuk bernyanyi.
Video itu juga diunggah di akun media sosial @kodimbuleleng. Akun lainnya seperti @infobali1 dan @dompetberbagisemesta_yys.
Rumah baru Nengah Murdani digarap secara gotong royong oleh Buleleng Social Community bersama masyarakat desa. Dalam waktu 3 bulan, rumah tersebut berhasil diselesaikan.
“Semua gotong royong, perangkat desa juga. 3 bulan pengerjaan. Itu antusias masyarakat di sini, dan hasilnya rumah ini telah berdiri,” ujar Eka Tirtayana, Ketua Buleleng Social Community.
Sementara itu, Dandim 1609/Buleleng, Angga Nurdyana yang hadir dalam penyerahan bedah rumah itu berpesan agar bantuan kepada keluarga Nengah Murdani tidak berhenti.
Setelah memiliki rumah baru, kebutuhan pokok keluarga Nengah Murdani juga mesti diperhatikan.
“Selanjutnya dari pihak desa dapat membantu yang lain juga dengan berkolaborasi bersama kabupaten atau yang lainnya,” kata dia.
Perbekel Rangdu I Komang Budi Adnyana pun mengakui Nengah Murdani merupakan salah satu warganya yang kurang mampu.
Keluarga Nengah Murdani juga telah terdata dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan menjadi keluarga prioritas sebagai penerima bantuan.
Rumah Nengah Murdani juga sempat kebakaran pada 25 Januari 2025 lalu. Rumah yang tergolong tidak layak huni itu pun hangus tak tersisa.
“Kami akan melakukan pemaksimalan bantuan untuk keluarga nenek Murdani terutama dari segi kebutuhan pokok,” ujarnya. (*)
Editor : I Made Mertawan