BALIEXPRESS.ID - Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, yang dulunya dikenal sebagai Desa Jong Karem, memiliki sejarah yang menarik dan penuh misteri.
Berdasarkan keterangan dari Tokoh Desa Adat Kapal, I Ketut Sudarsana, nama Desa Kapal sudah ada sejak 900 Masehi.
Namun, asal usul nama tersebut menyimpan cerita yang lebih menakjubkan daripada sekadar sejarah.
Burung Raksasa dan Asal Usul Nama Kapal
Menurut Ketut Sudarsana, pada abad ke-13, tepatnya tahun 1216 Isaka, terjadi fenomena aneh di Jaba Pura Bangun Sakti, Banjar Basang Tamiang.
Sebuah burung raksasa jatuh di lokasi tersebut, mengguncangkan seluruh masyarakat setempat.
Meskipun Sudarsana tidak menyebutkan secara spesifik jenis burung itu, ukurannya yang besar dan kejadian langka tersebut membuat masyarakat sekitar berbondong-bondong menyaksikannya.
Burung tersebut mengalami patah sayap, yang dalam bahasa Bali Kuna dikenal sebagai "Kaempal."
Nama ini kemudian mengalami perubahan bunyi menjadi "Kapal" seiring waktu.
Ketut Sudarsana, yang telah mendalami dunia sastra selama 40 tahun, menjelaskan bahwa pelafalan kata "Kaempal" yang cepat akhirnya dikenal sebagai "Kapal."
Keterkaitan dengan Mpu Kuturan dan Analisis Bahasa
Desa Jong Karem sudah ada sejak masa kedatangan Mpu Kuturan ke Bali pada tahun 1001 Masehi.
Ini tercatat dalam berbagai sumber sastra yang menghubungkan keberadaan desa tersebut dengan kedatangan Mpu Kuturan.
Ada juga analisis menarik terkait nama "Kapal."
Dalam bahasa Jawa Kuna, "Kapal" berarti kuda. Pada masa itu, orang-orang Jawa yang datang ke Bali dikenal gemar memelihara kuda.
Meskipun analisis ini belum tercatat dalam sumber sastra resmi, ia menambahkan dimensi lain pada sejarah nama Desa Kapal.
Desa Kapal tidak hanya menyimpan pantangan dan tradisi, tetapi juga cerita mistis dan sejarah yang membentuk identitasnya.
Dengan segala misteri dan fakta menarik yang mengelilinginya, Desa Kapal terus menjadi pusat perhatian bagi para peneliti sejarah dan budaya. ***