Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Sedang Badung: Dari Bhun Hingga Sesedan, Jejak Pertempuran dan Mitos Penyembuhan di Bali

I Putu Suyatra • Sabtu, 31 Agustus 2024 | 16:11 WIB
Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali.
Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali.

BALIEXPRESS.ID - Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, yang kini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan sejarah panjang di Bali, dulunya bernama Desa Bhun.

Berdasarkan catatan Babad Mengwi, Desa Bhun pernah diperintah oleh I Gusti Ngurah Bhun, di bawah kekuasaan Kerajaan Mangupura, yang kini kita kenal sebagai Kerajaan Mengwi.

Pada masa itu, Ida Cokorda Agung Mayun menjadi penguasa Mangupura.

Namun, kisah Desa Bhun bukan sekadar cerita pemerintahan. Terdapat desas-desus tentang I Gusti Ngurah Bhun yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Mengwi, yang kemudian memicu kemarahan Ida Cokorda.

Perintah untuk I Gusti Ngurah Bhun agar menghadap diabaikan, dan ini memicu pertempuran besar yang mengubah nasib Desa Bhun.

Ida Cokorda Agung Mayun tewas dalam pertempuran tersebut, dan Mengwi segera merencanakan serangan balasan.

Pagi buta, saat fajar menyingsing, pasukan Mengwi menyerang dari berbagai arah.

Desa Bhun tak mampu menahan serangan ini, dan I Gusti Ngurah Bhun kalah. Desa Bhun pun runtuh, dan menjadi hutan belantara yang nyaris terlupakan.

Namun, Desa Bhun bangkit kembali. Pada 19 Juli 1575, di bawah pimpinan I Gusti Made Munang dan 40 prajurit, dimulailah upaya membangun kembali desa ini dari puing-puing.

Dalam proses tersebut, mereka menemukan taman pemandian di bawah pohon kenanga yang airnya dipercaya dapat menyembuhkan penyakit campak.

Keunikan ini kemudian melahirkan nama Beji Nangga, merujuk pada taman atau pemandian tersebut.

Desa Bhun yang mengalami kehancuran dan kemudian dibangun kembali ini, akhirnya dikenal dengan nama Desa Sesedan.

Nama ini merujuk pada proses penyesedan (perambasan) hutan yang menjadi dasar pembangunan kembali desa.

Seiring berjalannya waktu, nama Sesedan berubah menjadi Sedang, yang kita kenal hingga saat ini.

Saat ini, Desa Sedang bukan sekadar tempat dengan sejarah yang panjang, namun juga menjadi simbol kebangkitan dan keberanian menghadapi masa lalu yang penuh dengan tantangan.

Desa ini kini dikepalai oleh kepala desa dengan lima banjar dinas dan tergabung dalam ikatan desa adat dengan enam banjar adat.

Perjalanan Desa Sedang, dari Bhun yang dilupakan hingga menjadi desa yang hidup dan berkembang, adalah cerminan semangat dan keteguhan dalam menghadapi masa-masa sulit. *** 

 

 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #Sedang #abiansemal #sejarah #kerajaan mengwi #badung