BALIEXPRESS.ID - Sebelum mengungkapkan asal usul Desa Punggul, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, pihak penyusun sejarah menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada semua pihak, terutama kepada para Warih Sri Narayana Kresna Kepakisan Dawuh Bale Agung, khususnya warih Ida I Gusti Ngurah Dawuh Sakti di Puri Punggul, Puri Taman, dan Puri Gerana.
Dikutip dari website Desa Punggul, pihak penyusun menyebutkan, apabila terdapat kesalahan atau ketidakcocokan dalam penjelasan ini, hal itu disebabkan oleh keterbatasan sumber daya dan referensi yang tersedia dalam penyusunan sejarah ini.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Pengelingsir Puri Punggul atas informasi berharga dan bukti peninggalan sejarah yang berkaitan dengan berdirinya Desa Punggul.
Atas berkat dan anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, kami berharap terhindar dari segala mara bahaya dan rintangan, serta mendapat restu dari leluhur yang telah tenang bersemayam.
Semoga beliau berkenan memberikan petunjuk dalam menyusun sejarah Desa Punggul agar dapat dikenang oleh generasi penerus dan menjaga kehormatan desa ini.
Jejak Kejayaan dan Perjuangan Abad ke-17
Pada abad ke-17, Warih Sri Kresna Kepakisan Dauh Bale Agung yang berkuasa di Abiansemal adalah I Gusti Ngurah Dawuh Sakti.
Selama pemerintahannya, masyarakat Abiansemal hidup dalam keharmonisan, menghormati pemerintahan, dan menunjukkan bakti yang mendalam.
Sebagai bentuk penghormatan, setiap banjar di Abiansemal menyumbangkan seorang istri, termasuk dari Banjar Meranggi, Baluan, Poh, dan Guming.
Dalam menjalankan pemerintahan, I Gusti Ngurah Dawuh Sakti dibantu oleh putranya, I Gusti Ngurah Made Dawuh.
Hubungan erat terjalin dengan tetangga Singa Sari (sekarang Blahkiuh), yang pada saat itu dipimpin oleh I Gusti Ngurah Agung Singasari.
Ketika Singasari diserang oleh Payangan, I Gusti Ngurah Dawuh Sakti diminta untuk membantu, dan pertempuran dahsyat terjadi.
Meskipun I Gusti Agung Singasari gugur, I Gusti Ngurah Dawuh Sakti berhasil kembali ke Abiansemal dengan selamat.
Namun, kejadian ini memicu ketidakpercayaan dan kekecewaan dari Kerajaan Mengwi.
Puncaknya terjadi saat I Gusti Ngurah Dawuh Sakti sedang melaksanakan upacara Piodalan di Pura Desa Abiansemal, ketika konflik dengan Mengwi memanas akibat perdebatan kecil.
Perang dahsyat pun tak terhindarkan, melibatkan pasukan dari Mengwi seperti Kapal, Kaba-kaba, dan Lukluk yang menyerang Abiansemal.
Pertempuran meluas hingga ke timur laut, menuju wilayah Geriya Subuk Abiansemal, dan mengakibatkan banyak korban jiwa. Tempat ini kemudian dikenal sebagai Sema Kembengan, sebagai pengingat genangan darah yang terjadi.
Dalam upaya menghindari lebih banyak korban, I Gusti Ngurah Dawuh Sakti menyerahkan diri dan mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan masyarakat Abiansemal dari serangan Mengwi.
Pendirian Puri Taman dan Desa Punggul
Putra-putra I Gusti Ngurah Dawuh Sakti, I Gusti Ngurah Made Dawuh dan I Gusti Nyoman Dawuh, memutuskan untuk meninggalkan Abiansemal dan menitipkan Pura Batur kepada I Gusti Tan Kaur.
Mereka kemudian membangun tempat tinggal di Padang Tegal Ubud Gianyar, yang dikenal sebagai Puri Taman Padang Tegal.
Selama tinggal di sana, mereka selalu menunjukkan sikap santun dan hormat, terutama kepada Raja Sukawati.
Namun, sebuah insiden mengubah segalanya.
I Gusti Ngurah Made Dawuh diserang oleh prajurit Raja Sukawati dan terluka parah.
Dalam keadaan terluka, beliau meninggalkan Padang Tegal dan melanjutkan perjalanan ke arah barat.
Di tengah perjalanan, I Gusti Nyoman Dawuh menemukan tempat yang strategis dan membangun Puri yang kini dikenal sebagai Puri Taman, dengan wilayahnya disebut Desa Taman.
I Gusti Ngurah Made Dawuh melanjutkan perjalanannya ke barat dan akhirnya tiba di sebuah tempat yang disetujui oleh Raja Mengwi untuk didirikan desa, yang kemudian dikenal sebagai Desa Punggul.
Asal usul nama Punggul sendiri berasal dari kata "Punggel" yang berarti pemberian Raja Mengwi yang dipotong, menandai batas wilayah yang dipilih oleh I Gusti Ngurah Made Dawuh.
Seiring waktu, pengucapan "Punggel" berubah menjadi "Punggul."
Ada pula versi lain yang menyebutkan bahwa nama Desa Punggul berasal dari kata "Pe-Unggul," yang artinya I Gusti Ngurah Dawuh Sakti unggul dalam menjalankan kekuasaannya di Abiansemal.
Demikian sekilas sejarah berdirinya Desa Punggul. Demi kesempurnaan, kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan dari semua pihak. ***
Editor : I Putu Suyatra