Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengundang 10 Seniman, 'Jejak' Jadi Pameran Seni Lintas Generasi di Tahun Baru

I Dewa Gede Rastana • Senin, 16 Desember 2024 | 19:16 WIB
Pameran seni bertajuk Jejak yang akan digelar pada 5 Januari 2025 hingga 2 Februari 2025 di Biji Artspace, Mas, Ubud.
Pameran seni bertajuk Jejak yang akan digelar pada 5 Januari 2025 hingga 2 Februari 2025 di Biji Artspace, Mas, Ubud.

BALIEXPRESS.ID – Jejak manusia tak hanya tertinggal dalam bentuk karya fisik, tetapi juga dalam ingatan dan pengaruh yang ia tinggalkan. Hal ini menjadi inti dari pameran seni bertajuk Jejak yang akan digelar pada 5 Januari 2025 hingga 1 Februari 2025 di Biji Artspace, Mas, Ubud.

Pameran ini mengundang 10 seniman lintas generasi, terdiri dari 4 seniman yang telah berpulang dan meninggalkan warisan abadi, serta 6 seniman yang masih aktif berkarya. Pameran ini menjadi sebuah penghormatan terhadap jejak seni yang telah dan sedang diciptakan.

Empat seniman yang telah meninggalkan dunia ini adalah:

  1. Lugiono (1953-2016) – Pelukis wayang dengan teknik cukil yang mengagumkan.
  2. Made Kedol (1950-2017) – Maestro seni asal Bali, pencipta teknik lukis unik spaghetti.
  3. Narko Hanjaya (1956-2019) – Maestro drawing dengan gaya hiper-realis.
  4. AS Kurnia (1960-2023) – Seniman idealis dengan karya penuh makna.

Sementara itu, enam seniman yang terus menciptakan jejak adalah:

  1. Goenawan Mohamad (1941) – Jurnalis legendaris sekaligus pelukis yang kini aktif di dunia seni rupa.
  2. Daniel Kho (1956) – Perupa dengan gaya dekoratif ceria dan alienasi yang khas.
  3. Aricadia (1965) – Mengangkat tema kelahiran dan kematian dalam warna-warna cerahnya.
  4. Klowor Waldiyono (1968) – Adik mendiang Lugiono yang menciptakan ekspresi naif tentang alam kehidupan.
  5. Hani Santana (1976) – Perupa wanita dengan tema magis pada bunga-bunganya.
  6. Ayu Sri Rejeki (1978) – Satu-satunya pematung, dikenal dengan gaya kontemporer bertema alien.

Pameran ini akan dibuka secara resmi oleh Rektor Institut Seni Indonesia (ISI), Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana, S.Sn., M.Sn., pada Jumat, 5 Januari 2024. Acara pembukaan juga akan dimeriahkan oleh pembacaan puisi dari Warih Wisatsana dan pertunjukan tari kontemporer bertajuk Laras Laku oleh Sandi Saraswati, seorang penyanyi sekaligus penari.

Bagi Aricadia, menyatukan karya dari seniman lintas generasi—baik yang telah tiada maupun yang masih berkarya—adalah tantangan tersendiri. "Menyelaraskan energi seni dari dunia mayapada dan suargaloka bukanlah hal mudah, terutama dengan nama besar para seniman senior yang memiliki ciri khas unik," ungkapnya.

Selain menyajikan karya, pameran ini juga dilengkapi dengan tulisan dari Dr. Soemantri Widagdo, pendiri Biji Artspace yang kini menetap di Belanda sebagai konsultan museum di Eropa. Tulisan ini memberikan perspektif tambahan tentang jejak seni yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.

Pameran Jejak bukan hanya sebuah perayaan seni, tetapi juga refleksi tentang pengaruh yang ditinggalkan oleh para seniman. Melalui lukisan, patung, dan berbagai media, pameran ini mengajak pengunjung merenungkan makna jejak yang mereka tinggalkan di dunia.

 

Baca Juga: Cerita Mistis Telebusan Yeh Mekecir: Dijaga Ular King Kobra dan Air yang Menolak Dipipanisasi

Bagi pecinta seni, Jejak adalah pameran yang tak boleh dilewatkan, sebuah kesempatan langka untuk menyaksikan perpaduan karya dari generasi yang berbeda, namun saling terhubung dalam satu ruang dan waktu. (*)

Photo
Photo
Editor : I Dewa Gede Rastana
#pelukis #pameran #perupa #seniman #jejak #Maestro