BALIEXPRESS.ID - Di balik dentingan suling yang mengalun merdu, ada ketekunan dan inovasi seorang pemuda asal Gianyar, Bali, I Made Adi Wira Nata Putra, 30.
Akrab disapa Dek Adi, ia bukan hanya pengrajin suling biasa.
Dengan latar belakang pendidikan matematika dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), ia menerapkan konsep-konsep matematika dan fisika dalam pembuatan suling, menciptakan instrumen dengan nada yang tidak konvensional dan memiliki karakter khas.
Awalnya, Dek Adi membuat suling hanya karena iseng.
Kecintaannya pada gamelan dan kebiasaannya ikut megambel membuatnya ingin memiliki suling sendiri.
Namun, keterbatasan dana memaksanya berpikir kreatif.
"Saya dulu sering ikut megambel misalnya mengiringi calonarang, tapi saat itu hanya punya suling yang tidak lengkap di rumah. Ada keinginan beli satu set, tapi belum ada uang. Jadi saya nyoba buat sendiri," tuturnya.
Dalam perjalanannya, ia menyadari bahwa setiap pembuat suling memiliki gaya masing-masing, yang sempat membuatnya bingung.
Alih-alih meniru, ia memutuskan mencari teknik sendiri.
Saat masih kuliah, ia mulai bereksperimen dengan konsep matematika seperti barisan geometri, aritmatika, dan teori pipa organa untuk menentukan lubang nada secara presisi.
Hasilnya, ia bisa menciptakan suling dengan nada unik yang bisa disesuaikan dengan permintaan pelanggan.
Baca Juga: Dua Puluh Tiga Penyu Selundupan Dilepasliarkan, Satu dari Sitaan Polres Jembrana
"Kalau ada yang memesan dengan nada aneh dan sulit, saya gunakan ilmu matematika," ungkapnya.
Dari sekadar eksperimen, kini usaha sulingnya berkembang pesat.
Awalnya ia hanya menjual kepada teman-teman kuliahnya, tetapi kini pemasaran dilakukan secara lebih luas melalui media sosial.
Baca Juga: Penyelamatan 22 Penyu Hijau di Pantai Pemuteran, Polres Buleleng Lakukan Penyelidikan
"Awalnya saat kuliah jual dari teman ke teman. Sekarang promosi lewat media sosial. Pakai TikTok, Instagram," katanya.
Ia juga rutin membuat konten edukasi tentang suling yang menghubungkan seni dengan matematika dan fisika.
"Biasanya kalau video itu fyp, pemesan akan semakin ramai yang datang," imbuhnya.
Baca Juga: Alit Sudiana Dorong Pemkab Klungkung Miliki Regulasi Perlindungan PMI
Kepiawaian Dek Adi dalam menerapkan matematika pada pembuatan suling juga menjadi bahan penelitian dalam tesis S2-nya yang berjudul Kajian Etnomatematika pada Seruling Bali.
Kini, suling buatannya telah merambah pasar internasional, dengan pelanggan dari Nepal, Jepang, Australia, New York, Italia, hingga Ukraina.
Dalam sebulan, ia bisa menjual hingga 100 suling, dengan harga berkisar antara Rp 70 ribu hingga Rp 1,5 juta, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pembuatannya.
Selain suling, ia juga memproduksi rindik serta melayani jasa perbaikannya.
Tak hanya menjadi pengrajin, Dek Adi juga mulai diundang untuk tampil di berbagai acara di hotel dan restoran, membawakan lagu-lagu populer dengan suling khas buatannya.
Di sela kesibukannya, ia tetap menyalurkan ilmunya dengan mengajar les matematika di Triton Denpasar.
Baca Juga: Harga Gas Elpiji 3 Kg di Pasaran Melambung Tinggi, Sri Mulyani: Seharusnya Hanya Rp12.750
"Saya juga ngajar les matematika, untuk menyalurkan ilmu saya," katanya.
Dengan semangat inovasi dan dedikasi tinggi, Dek Adi membuktikan bahwa matematika bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan bisa diharmonikan dalam seni dan budaya, menciptakan peluang sekaligus menjaga warisan musik tradisional Bali agar tetap hidup dan berkembang.(***)
Editor : Rika Riyanti