BALIEXPRESS.ID- Dedikasi dan tanggung jawab dalam tugas adalah prinsip yang dipegang teguh oleh Ketut Agus Sutapa, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Bangli, Bali.
Agus Sutapa telah mengabdikan diri selama 13 tahun dalam bidang kedaruratan, menjadikannya pejabat kedaruratan terlama di BPBD se-Bali.
Agus Sutapa memulai kariernya di BPBD Bangli sebagai staf sejak pada tahun 2012 atau awal OPD itu terbentuk.
Tak butuh waktu lama, ia dipromosikan menjadi Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik kurang dari setahun setelah bergabung. Agus Sutapa kemudian naik jabatan sebagai Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik pada tahun 2022.
"BPBD di kabupaten lain di Bali ada yang sudah tiga hingga empat kali berganti pejabat kedaruratan, Bangli masih tetap saya," ujar Agus Sutapa sambil tersenyum saat ditemui pada Kamis (20/3/2025).
Menariknya, Agus Sutapa tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang kebencanaan.
Pria berusia 44 tahun ini merupakan lulusan sarjana Agama Hindu.
Namun, pengalaman dan keterlibatannya langsung dalam berbagai situasi darurat membuatnya memahami seluk-beluk kebencanaan lebih dalam.
Ia banyak belajar dari pengalaman di lapangan dan interaksi dengan berbagai pihak dalam menangani bencana.
Selama belasan tahun bertugas, Agus telah menghadapi berbagai situasi sulit dan menantang.
Namun, salah satu hal yang membuatnya tetap semangat adalah bisa membantu masyarakat yang menjadi korban bencana.
Ia merasa senang ketika bertemu orang-orang yang pernah ditolongnya dan mendapatkan sapaan hangat di jalan.
"Itu yang membuat saya tetap semangat, ketika ada masyarakat yang mengingat dan berterima kasih, padahal sendiri sudah lupa siapa," katanya.
Namun, tugas di bidang kedaruratan juga membawa dilema tersendiri bagi Agus Sutapa.
Sebagai bagian dari BPBD, ia tidak mengenal tanggal merah. Tanggap darurat bisa terjadi kapan saja, tanpa mengenal waktu dan hari libur.
"BPBD tidak ada tanggal merah, bencana itu tidak ada hari libur," ujarnya, berseloroh.
Salah satu momen yang paling membekas adalah saat ia sedang dalam perjalanan meminang istrinya.
Di tengah perjalanan, pejabat asal Lingkungan Kubu, Kelurahan Kubu, Bangli ini mendapat informasi terjadi bencana di Bangli, sehingga ia tetap harus berkoordinasi dengan bawahan, atasan, dan pihak terkait.
Bahkan saat puncak acara pernikahannya, terjadi bencana di Desa Suter, Kintamani, yang membutuhkan koordinasinya.
"Karena memang benar-benar sibuk puncak acara pernikahan, akhirnya saya mohon maaf tidak bisa menangani langsung," ungkapnya.
Mengemban tugas di bidang yang sama selama lebih dari satu dekade tentu tidak lepas dari rasa jenuh.
Agus Sutapa mengakui bahwa terkadang ia merasa ingin mencoba sesuatu yang baru.
Namun, ia menyadari bahwa jabatan yang diembannya adalah amanah dan kepercayaan dari pimpinan yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
"Seperti orang berjalan kaki jauh, pasti ada rasa lelah, sehingga harus istirahat sejenak," terang bapak dua anak ini.
Beruntung, dalam menjalankan tugasnya selama ini, ia mendapatkan dukungan penuh dari keluarganya.
Tanpa dukungan mereka, ia merasa sulit untuk tetap bertahan dalam tugas yang penuh tantangan ini.
"Syukurnya dapat dukungan dari keluarga. Kadang-kadang sudah ada rencana keluarga tiba-tiba batal karena ada bencana," jelas pria kelahiran 30 Desember 1980 ini. (*)
Editor : I Made Mertawan