Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Profil Dee Lestari, Sang Penjelajah Kata, Nada, dan Imajinasi

Rika Riyanti • Sabtu, 19 April 2025 | 17:22 WIB

MENARIK: Dewi Lestari atau yang lebih dikenal dengan nama pena Dee Lestari
MENARIK: Dewi Lestari atau yang lebih dikenal dengan nama pena Dee Lestari

 

 

 

BALIEXPRESS.ID - Dewi Lestari atau yang lebih dikenal dengan nama pena Dee Lestari bukan hanya seorang penulis produktif.

Ia adalah seniman multidimensi, diantaranya sebagai penyanyi, pencipta lagu, hingga pencetus karya sastra-musik hibrida pertama di Indonesia.

Lahir di Bandung pada 20 Januari 1976 dari keluarga berdarah seni, Dee tumbuh dalam lingkungan yang tak asing dengan kreativitas.

Kakaknya seorang sutradara, adiknya vokalis band indie ternama. Maka tak heran, darah seni itu mengalir deras dalam dirinya.

Baca Juga: Grab Indonesia Klarifikasi Dugaan WNA Jadi Sopir Grab di Bali, Fakta Menarik Diungkap

Sejak kecil, Dee sudah menunjukkan bakat luar biasa dalam bermusik.

Ia aktif dalam paduan suara dan vokal grup sekolah, bahkan memelopori acara pensi From 2 With Love yang kini jadi tradisi SMAN 2 Bandung.

Selepas SMA, ia menjadi penyanyi latar Iwa K dan bergabung dalam grup vokal Rida Sita Dewi (RSD), tempat ia mulai dikenal sebagai penulis lagu handal.

Lagu ciptaannya seperti Satu Bintang di Langit Kelam dan Firasat menjadi hits, bahkan dinyanyikan ulang oleh musisi papan atas.

Baca Juga: Viral WNA Diduga Jadi Driver Grab di Bali, Niluh Djelantik Minta Grab Indonesia Klarifikasi

Namun, di balik suara merdunya, Dee menyimpan satu hasrat lama: menulis.

Sejak usia sembilan tahun, ia telah membayangkan bukunya terpajang di toko buku.

Ia menulis cerita berjudul Rumahku Indah Sekali di buku tulis, dan sejak saat itu tak pernah berhenti menulis, meski sempat menyembunyikan hobinya karena sering gagal di lomba dan media.

Titik balik karier kepenulisannya terjadi pada tahun 2001 saat Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh diterbitkan secara independen oleh Dee sendiri.

Niat awalnya hanya untuk memenuhi cita-cita masa kecil merilis buku di usia 25 tahun, tetapi buku ini justru meledak di pasaran, terjual habis 7.000 eksemplar hanya dalam dua minggu.

Baca Juga: Tembus Target Kredit dan DPK, Bank BPD Bali Catat Kinerja Cemerlang di Triwulan I 2025

Dari situ, Dee mantap melangkah di dunia sastra.

Serial Supernova berlanjut hingga enam buku, termasuk Akar, Petir, Partikel, Gelombang, dan ditutup oleh Inteligensi Embun Pagi (IEP).

Serial ini tidak hanya mendulang kesuksesan penjualan, tetapi juga pujian kritikus.

Bahkan, Goenawan Mohamad menulis Catatan Pinggir berjudul Zarah, terinspirasi tokoh dalam Partikel.

Baca Juga: Diduga Mabuk Berat, WNA Tergeletak di Seminyak, Polisi Bantu Evakuasi

Tak hanya berkutat dalam novel, Dee juga menjadi pelopor karya hibrida lewat Rectoverso (2009), antologi cerita yang disandingkan dengan lagu.

Sebelas cerita, sebelas lagu.

Proyek ini menunjukkan keberanian Dee menjembatani dua dunia yang ia cintai yakni sastra dan musik ke dalam satu bentuk ekspresi utuh.

Lebih dulu dari zamannya, Dee juga menjadi pelopor novel digital melalui Perahu Kertas (2008), yang dirilis bekerja sama dengan provider XL sebelum akhirnya diterbitkan dalam bentuk cetak.

Baca Juga: Turyapada Tower Jangkau 90 Persen Wilayah Buleleng dan Jembrana, Gubernur Koster Targetkan Jadi Kawasan Wisata Dunia

Karya ini menjadi salah satu novel terlaris dan paling dicintai generasi muda.

Impian Dee agar karyanya diadaptasi menjadi film juga terwujud.

Perahu Kertas difilmkan dan dibagi menjadi dua bagian, dibintangi Maudy Ayunda dan Adipati Dolken, dan menjadi box office tahun 2012.

Lagu tema ciptaannya pun menyabet berbagai penghargaan.

Baca Juga: Turyapada Tower Jangkau 90 Persen Wilayah Buleleng dan Jembrana, Gubernur Koster Targetkan Jadi Kawasan Wisata Dunia

Menyusul Rectoverso, yang difilmkan oleh lima sutradara perempuan dan meraih Special Jury Award di ASEAN International Film Festival 2013.

Dalam kehidupan pribadinya, Dee adalah ibu dari dua anak.

Ia pernah menikah dengan penyanyi Marcell Siahaan, kemudian bercerai, dan kini hidup bersama Reza Gunawan, praktisi kesehatan holistik, di Tangerang Selatan.

Perjalanan hidupnya pun turut mempengaruhi tulisan-tulisannya, penuh kedalaman, spiritualitas, dan pencarian makna.

Baca Juga: Sosok Harry Vaughan, Aktor Kelahiran Bali yang Curi Perhatian lewat Akting

Dee tak pernah membatasi dirinya pada satu genre.

Ia telah menulis fiksi ilmiah, fiksi populer, spiritualitas, hingga puisi.

Ia juga aktif menulis lirik lagu untuk musisi seperti Raisa, Kahitna, dan Noah.

Lewat karya seperti Filosofi Kopi, Madre, dan Aksara Amananunna, Dee membuktikan bahwa seorang penulis bisa jadi fleksibel, kreatif, dan relevan lintas zaman.(***)

Editor : Rika Riyanti
#buku #penulis #Perahu Kertas #Dee Lestari