Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sosok Ida Bagus Sena: Seniman Otodidak Ungkap Lukisan Raksasa Penjaga Filosofi Bali yang Belum Selesai!

I Wayan Ananda Mustika Putra • Selasa, 10 Juni 2025 | 03:10 WIB

Ida Bagus Sena
Ida Bagus Sena

BALIEXPRESS.ID – Di tengah gempuran seni kontemporer, seorang seniman otodidak dari Semarang, Ida Bagus Sena, berhasil menarik perhatian publik dengan sebuah mahakarya yang belum rampung.

Selama lebih dari setahun, Sena telah mengabdikan diri pada lukisan raksasa berjudul "Mimpi", sebuah narasi visual mendalam yang mengangkat filosofi hidup Tri Hita Karana, konsep keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan dalam budaya Bali.

"Mimpi": Lebih dari Sekadar Lukisan, Sebuah Cermin Realita

Dalam tayangan di akun YouTube @Bill Mohdor Karya, Sena mengungkapkan bahwa "Mimpi" bukan sekadar gambar, melainkan sebuah refleksi jujur tentang realitas yang seringkali menyimpang dari ajaran luhur Tri Hita Karana.

Baca Juga: VIRAL! Nyaris Dibegal di Pelabuhan Padangbai, Bali: Pengalaman Horor Penumpang yang Bikin Geger Medsos!

"Dalam realitasnya di lapangan banyak kejadian-kejadian yang di luar Tri Hita Karana itu sendiri," ungkap Sena, menyoroti fenomena miris seperti konflik antarmanusia dan perusakan hutan yang masih terjadi.

Lukisan berukuran kolosal ini memvisualisasikan kompleksitas Tri Hita Karana dalam tiga bagian utama:

  • Parahyangan: Hubungan Manusia dengan Tuhan. Sena menggambarkan simbol-simbol sakral seperti Barong dan tapel (topeng sakral) yang melambangkan kedekatan dengan Sang Pencipta, serta konsep Satwam, Rajas, dan Tamas (kebenaran, keinginan, dan kekuatan) sebagai fondasi menjalani hidup.
  • Pawongan: Hubungan Antar Sesama Manusia. Bagian ini tak ragu menampilkan konflik dan ketidakharmonisan yang terjadi di antara manusia, bahkan sejak usia dini. Sebuah penggambaran yang menusuk hati namun relevan.
  • Palemahan: Hubungan Manusia dengan Lingkungannya. Dengan berani, Sena menunjukkan sisi kelam perlakuan manusia terhadap alam, seperti penyiksaan hewan dan perusakan lingkungan. Namun, di tengah kegelapan itu, ia juga menyisipkan apresiasi terhadap alam, misalnya syukur atas tumbuhan dan hewan yang diciptakan lebih dulu.

Sena menambahkan bahwa "Mimpi" juga merepresentasikan keangkuhan manusia yang merasa sebagai ciptaan tertinggi, padahal justru manusia adalah yang paling membutuhkan alam.

Baca Juga: Kisah Tak Terduga di Balik Duet Ayah-Anak Viral Mr. Rayen dengan lagu Tresna Butuh Materi yang Mengguncang YouTube!

"Tanpa adanya itu [hewan dan tumbuhan] kita enggak ada apanya," tegasnya, sebuah pengingat keras akan ketergantungan kita pada ekosistem.

Detail Memukau dari Tangan Seniman Otodidak

Salah satu aspek paling mencolok dari karya Sena adalah detailnya yang luar biasa.

Ia menggunakan kuas bambu yang dibuat sendiri untuk mengarsir setiap lekuk dan garis, menciptakan kedalaman yang memukau.

Anatomi setiap figur dilukis dengan cermat, menggambarkan emosi dan gerakan yang kuat. Ornamen khas Bali yang melimpah juga memperkaya visual, melambangkan kekayaan budaya dan tradisi Pulau Dewata.

"Sebuah karya itu bagaimana seorang penikmat itu bisa mengerti dan bisa bermanfaat bagi saya dan penikmat," kata Sena, menekankan bahwa baginya, genre lukisan tidaklah sepenting pesan yang disampaikan.

Meskipun hanya menempuh pendidikan hingga SMA dan belajar melukis secara otodidak sejak kecil, Ida Bagus Sena menunjukkan pemahaman filosofis yang mendalam.

Ia mendapatkan ide-idenya melalui percakapan dengan sesama seniman, orang-orang yang memahami tradisi dan kepercayaan Bali, serta dari buku-buku.

"Seharusnya seniman itu harus orang yang berpendidikan, intelek lah ya bisa disebut ya. Sebab apa? Sebab ide itu kan tidak sembarang," ujarnya, sebuah refleksi tentang proses kreatif.

Warisan Tiga Generasi dan Kebahagiaan dalam Berkarya

Proses kreatif Sena dimulai dari ide, dilanjutkan dengan sketsa kasar untuk menentukan komposisi dan alur cerita, kemudian detail anatomi dan karakter.

Ia bahkan membayangkan ekspresi wajah dan gerakan karakter. Setelah itu, proses detailing dengan kuas bambu dan pewarnaan lapis demi lapis dilakukan untuk mencapai efek yang diinginkan.

"Warna Bali itu kan tipis sekali, maka ditumpuk-tumpuk terus," jelasnya.

Baca Juga: Yayasan Binawan dan Poltekkes Kemenkes Denpasar Resmi Meluncurkan Program Kelas Eropa di Bali

Menariknya, Ida Bagus Sena adalah seniman dari tiga generasi seniman di keluarganya.

Baginya, melukis adalah bentuk kebahagiaan dan cara untuk menghormati leluhurnya.

"Dari kerinduan itu tentang seorang kakek yang ada dalam hati saya terkabul walaupun hanya sebatas karya," pungkas Sena.

Karya "Mimpi" oleh Ida Bagus Sena adalah sebuah bukti nyata bahwa seni dapat menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, sekaligus medium untuk merefleksikan nilai-nilai luhur dalam kehidupan.

Bagaimana akhir dari mahakarya ini? Dan pesan apa lagi yang akan terungkap dari setiap guratan kuasnya? Kita tunggu saja penyelesaian "Mimpi" yang penuh makna ini! ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Tri Hita Karana #Ida Bagus Sena #seniman #lukisan